Pages

Tuesday, 16 December 2014

Servis

SERVIS. Tadi pagi ada ‘talk show’ di radio yang membahas perihal servis. Moto yang didengungkan adalah: jangan bersaing di harga, bersainglah di servis. Moto seperti ini memang sudah sering diperdengarkan, namun saya kadang bingung karena penambahan servis bisa berarti penambahan ‘cost’ dan itu berarti penambahan harga ujung-ujungnya. Bagaimana agar harga tetap, tetapi servis benar-benar mengagumkan sehingga pelanggan terperangah? Lama saya berpikir mengenai hal ini sampai suatu waktu anak saya bercerita sepulang kuliah. Ada seorang perempuan muda berkunjung ke sebuah toko busana. Dia membeli sebuah baju. Dalam percakapan dengan kasir, perempuan muda itu mengaku bahwa baju ini dia beli sebagai hadiah untuk neneknya. Sayangnya sepulang dari toko, saat dia menuju rumah neneknya, ia mendapat kabar bahwa neneknya telah meninggal dunia beberapa saat lalu. Dengan sedih dia datang ke rumah neneknya lalu menelpon toko tempat dia membeli baju. “Maaf, pak. Baju yang baru saja saya beli, bolehkah saya kembalikan?” “Kenapa?” Tanya pemilik toko. “Begini, baju itu sengaja saya beli untuk nenek saya, namun beberapa saat sebelum saya tiba di rumahnya, saya mendapat kabar bahwa nenek saya ini sudah meninggal dunia.” “Oh, begitukah? Saya turut berduka cita atas kehilangan ini. Silahkan kembalikan baju tadi, berikut bukti pembeliannya ya.” “Baik pak. Sebentar lagi saya akan kembali ke toko Bapak.” “Omong-omong, dimana rumah nenek Anda?” Perempuan muda itu memberikan alamat rumah neneknya sambil meluncur kembali ke toko. Pengembalian baju diterima langsung oleh pemilik toko sambil sekali lagi dia mengucapkan bela sungkawa. Saat perempuan itu tiba kembali di kediaman neneknya, dia sangat terperangah. Air bening menetes di pelupuk matanya. Dia melihat sebuah rangkaian bunga meja mungil di depan dengan kartu ucapan bela sungkawa dari toko tempat dia mengembalikan baju tadi. Itulah servis. Intinya kepedulian.

No comments:

Post a Comment