Pages

Tuesday, 23 June 2015

Sinkron

SINKRON. Sudah beberapa kali istri bertanya begini, “Saat menghadapi kisah sedih orang lain, apakah kita harus menggunakan perasaan atau logika pikiran?” Ya, kami mendengar banyak kisah sedih yang berujung kebutuhan untuk dibantu secara ekonomi. Tadi malam kala istri menanyakan kembali hal yang sama, ia mengambil kesimpulan yang juga saya setujui, bahwa keduanya harus sinkron. Perasaan dan logika cocok, karena bila logika saja yang dipakai, bisa jadi saya akan menjadi monster yang tak berperasaan. Sebaliknya bila perasaan saja yang dipakai, bisa jadi saya akan dibodohi orang yang hanya ingin mengeruk Rupiah dari kantong. Pagi ini saat membuka komputer, seorang kawan mengirim renungan yang mengatakan bahwa Iman bukan Logika. Saya langsung sadar bahwa ada satu lagi yang harus diselaraskan: iman! Artinya, perasaan, pikiran dan iman mestinya sejalan. Saya terdiam cukup lama memikirkannya. Sepertinya saya belum mampu sejauh itu. (24 June 2015)

No comments:

Post a Comment