LONCENG. Seorang kawan menjuluki saya bak perpustakaan. Walaupun pengetahuan saya tidak seluas apa yang beliau bayangkan, saya sedikit banyak mengangguk juga. Sesungguhnya saya lebih mirip buku, dimana untuk mengetahui isinya harus diambil, dibuka, dibaca. Tanpa sentuhan dari luar, buku bak tumpukan kertas berdebu. Namun demikian, ada kalanya saya menjadi seperti lonceng yang berdenting. Lonceng emas yang menjadi penunjuk waktu dan pemberi peringatan dalam rentetan perjalanan hidup. Namaku Ling 鈴.
No comments:
Post a Comment