Selamat Datang

Salam damai sejahtera dari kami untuk para pembaca sekalian. Blog ini mulai kami buat di awal tahun 2010 dengan tema Melangkah Bersama Tuhan. Nama Blog ini sesuai dengan harapan dan komitmen kami untuk menjalani tahun 2010 bersama dengan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan manusia sebagai umat kemuliaan-Nya.

Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.

Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.

Salam dari kami,

Julianto Djajakartika

Sunday, 30 November 2014

Siap

SIAP. Dulu waktu sekolah, khususnya saat duduk di bangku SMP saya selalu punya dua cara duduk. Bila segala pekerjaan rumah sudah dikerjakan dengan mantap, juga siap menghadapi guru yang senang menunjuk murid untuk mengerjakan soal di papan tulis bergiliran namun acak, saya akan duduk di depan; berharap dilihat guru dan diberi tugas ke depan. Sebaliknya ketika PR belum dikerjakan dan tidak siap ditunjuk ke depan, saya akan duduk di belakang atau di pojok, sedikit sembunyi di balik anak yang badannya lebih besar, kadang bahkan sambil ngebut mengerjakan PR yang belum dibuat. Kemarin sang pengkhotbah menantang jemaat apakah siap menghadapi Sang Guru yang pada waktu datang bukan hanya membawa domba-domba-Nya ke perjamuan, tetapi juga membuang kambing-kambing ke pembakaran.

Berjaga-jaga

BERJAGA-JAGA. Dalam Buku Suci ada kisah pemusnahan mahluk hidup dengan air bah. Hanya satu keluarga, anak memantu dan berpasang-pasang hewan yang sengaja diselamatkan. Konon air bah itu sengaja didatangkan karena dalam pandangan Allah kondisi manusia yang makin hari makin bejat, apa yang dipikirkan dan diinginkan hanya kejahatan semata. Sampai-sampai Ia menyesal telah menciptakan mereka. Apakah kondisi saat ini sudah serupa dengan zaman air bah tersebut? Saya tidak dapat menduga dengan pasti, namun saya tetap harus berjaga-jaga. Bila ya, tentu pemusnahan akan terjadi lagi dengan cara yang tak bisa diduga. Bila pun tidak, saya tetap harus berjaga sebab mungkin pandangan saya dan Allah berbeda.

Adven

ADVEN. Hari Minggu kemarin bagi umat Kristiani adalah hari pertama siklus gerejawi yang baru. Biasa disebut masa raya Adven. Pada dasarnya adven bukan hanya menunggu hari Natal tiba, tetapi lebih dari itu. Adven pada zaman akhir ini adalah menunggu Sang Hakim Agung untuk datang dan memilah antara kambing dan domba. Seperti layaknya sebuah penantian akan sangat membosankan tanpa mengisinya dengan aktivitas tertentu. Oleh karenanya saya perlu mengisi masa-masa penantian itu dengan aktif melakukan sesuatu. Baik itu olah fisik ataupun olah pikir. Dengan demikian proses menunggu menjadi tidak terasa lama. Saya menangkap sebuah tema sentral dalam bacaan Buku Suci kemarin adalah melepaskan kepentingan diri sendiri sehingga kepentingan orang lain menjadi yang lebih utama. Banyak hal dapat saya kerjakan dalam masa penantian ini terkait tema di atas. Di jalan, di kantor, di rumah, di tempat ibadah saya dapat mundur sejenak dan membiarkan orang lain tampil menjadi yang lebih utama dari saya sendiri. Semoga sukacitaku penuh dalam menjalaninya.

Thursday, 27 November 2014

Guru

GURU. Konon sesudah bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki, pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Kaisar Jepang adalah “Berapa guru yang masih hidup?” Guru memang sangat dihargai dan dihormati di Negara Matahari Terbit ini. Mereka adalah aset negara yang menjamin kelangsungan kehidupan dan moralitas negara. Dulu, saya pernah mengecap kondisi tersebut saat saya masih kecil, masih duduk di Sekolah Dasar. Itu artinya lebih 45 tahun yang lalu. Saat itu, kami anak-anak sangat menghormati seorang guru yang duduk atau berdiri di depan kelas. Saat guru masuk, kami akan langsung tenang, ketua kelas menyiapkan, dan kami berdiri serempak memberikan salam “Selamat pagi, ibu/bapak guru!” sambil sedikit membungkuk. Saat pulang kami akan berbaris rapi dan satu per satu berjabat tangan dengan guru kami. Guru bukan hanya mengisi kepala tetapi juga hati kami dengan berbagai kisah kehidupan mereka masing-masing.

Wednesday, 26 November 2014

Venus dan Mars

VENUS dan MARS. Ketika kemarin saya menyebar tulisan bertajuk HATI-HATI ke beberapa media sosial, seorang perempuan berkomentar "pakai celemek om", sementara di tempat lain seorang pria memberi nasehat "pakai gunting". Sepertinya dua komentar berbeda dan dari gender yang berbeda memang mencerminkan karakter masing-masing. Venus cenderung membiarkan serangan kecil namun sigap membentengi diri, di sisi lain Mars lebih suka langsung mematikan pusat serangan. Selamat pagi Venus dan Mars.

Tuesday, 25 November 2014

Hati-hati

HATI-HATI. Hari ini saya memakai baju biru polos, seragam baru. Karena rada batuk dan masuk angin, saya hendak minum sejenis jamu cair dalam kemasan. Sudah saya antisipasi agar isi ramuan cair itu tidak memercik ke baju, saya sobek dengan sangat hati-hati kemasan ramuan tersebut. Ah…ternyata sebagian kecil memercik juga ke baju. Rupanya antisipasi saja tidak cukup, perlu alat bantu juga.

Shutting Down

SHUTTING DOWN. Komputer di kantor selalu saya atur agar ketika saya menghidupkannya, program-program tertentu akan secara otomatis diaktifkan dan dapat segera saya gunakan. Demikian pula ketika saya mematikan komputer saat hendak pulang, saya perhatikan bahwa satu per satu program-program yang sedang berjalan akan dinonaktifkan oleh sistem hingga akhirnya komputer mati total. Melihat itu semua saya tiba-tiba teringat bagaimana secara berurutan Allah menciptakan dan menghidupkan alam semesta, bumi dan akhirnya manusia. Tragisnya, dimulai sekitar tahun 2000-an ini, saya juga membaca bahwa karena ulah manusia, satu spesies lenyap setiap jam! Sepertinya kita sedang mematikan diri sendiri hingga akhirnya mati total, selayaknya komputer yang sedang ‘shutting down.’