Hari Minggu lalu seperti biasa saya pergi ibadah ke-3.Setiap hari Minggu memang hampir selalu seperti itu.Ibadah ke-3 dengan tempat duduk kira-kira disitu-situ juga.Kalau saya perhatikan orang-orang lain juga sama. Sepertinya memang ada tempat favorit dalam ruang ibadah itu.
Saya sengaja mengambil lokasi pas depan layar dekat sayap majelis selain gampang membaca tulisan di layar proyektor, juga jelas melihat sang pendeta.Juga kalau lagi pingin memperhatikan perilaku para majelis atau lektor, lokasi itu sangat tepat. :-)Kadang saya duduk sedikit maju, supaya dapat memperhatikan juga pemandu pujian dan pemusik yang ada.Saya senang mengamati, entah apakah saya sendiri banyak diamati orang lain atau tidak.
Minggu lalu entah kenapa saya tiba-tiba menjadi bosan duduk disitu.Tapi rasa bosan itu timbul sesudah ibadah berjalan.Jadinya yaa...tetap saja duduk disitu.Untung khotbah pak Eric cukup baik, selain urutannya jelas, penggambarannya gamblang, juga sisipan humor kecilnya mengena.Jadinya selain menikmati kebosanan, saya masih bisa tersenyum-senyum kecil.
Selesai ibadah, saya bersaat teduh sebentar. Benar-benar sebentar karena tiba-tiba banyak orang di sekeliling saya dan berisiknya minta ampun.Saya yang dari tadi sudah bosan, langsung bangkit dan berjalan ke luar.Mata saya melirik ke kiri dan ke kanan.Ah...seperti biasa banyak warta jemaat ditinggal di kursi-kursi.Biasanya saya rajin mengambil dan menaruhnya di meja Warta.Tapi kali ini saya tidak melakukannya.Bosan!
Selamat Datang
Salam damai sejahtera dari kami untuk para pembaca sekalian. Blog ini mulai kami buat di awal tahun 2010 dengan tema Melangkah Bersama Tuhan. Nama Blog ini sesuai dengan harapan dan komitmen kami untuk menjalani tahun 2010 bersama dengan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan manusia sebagai umat kemuliaan-Nya.
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Tuesday, 13 December 2011
Friday, 2 December 2011
Tiga Puluh Hari Menunggu (5)
Hari ke-5
Bacaan leksionari hari ini diambil dari Hosea 6:1-6 dan 1 Tesalonika 1:2-10. Nampaknya, para penyusun leksionari memang sengaja mengkontraskan dua bacaan itu. Hosea bicara mengenai pertobatan uman Allah yang ternyata ditolak! Karena pertobatan mereka penuh kepura-puraan. Kalimat-kalimat pertama pasal 6 ini mengindikasikan ketiadaan penghormatan kepada Allah. Seolah-olah pertobatan adalah hal sepele. Gampangan.
Sementara itu, jemaat Tesalonika sangat berkebalikan dengan apa yang dicatat oleh Hosea. Jemaat asuhan Paulus ini justru memberikan suka cita besar kepada Allah dengan pimpinan Roh Kudus. Tentu suka cita itu juga hadir dalam diri Paulus juga. Jemaat Tesalonika tidak perlu membuat kesaksian atas pelayanan mereka, sebab orang lain sudah mengatakannya. Jemaat Tesalonika telah menjadi teladan dan saksi hidup bagaimana bertobat, kembali ke jalan yang benar dan hidup dalam kasih karunia Tuhan.
Dari ke dua bacaan itu kita dapat belajar bahwa sesungguhnya Allah tidak menginginkan persembahan kita, korban bakaran kita. Allah menyukai kasih setia ketimbang korban sembelihan, dan pengenalan akan Allah ketimbang korban bakaran (Hosea 6:6). Sementara itu melalui jemaat Tesalonika kita belajar menjadi saksi yang hidup, menjadi teladan yang benar. Allah menunggu hal-hal itu mewujud dalam kehidupan kita: menunjukkan kasih setia, berusaha terus menerus mengenal Allah dan hidup menjadi teladan bagi sesama.
Bacaan leksionari hari ini diambil dari Hosea 6:1-6 dan 1 Tesalonika 1:2-10. Nampaknya, para penyusun leksionari memang sengaja mengkontraskan dua bacaan itu. Hosea bicara mengenai pertobatan uman Allah yang ternyata ditolak! Karena pertobatan mereka penuh kepura-puraan. Kalimat-kalimat pertama pasal 6 ini mengindikasikan ketiadaan penghormatan kepada Allah. Seolah-olah pertobatan adalah hal sepele. Gampangan.
Sementara itu, jemaat Tesalonika sangat berkebalikan dengan apa yang dicatat oleh Hosea. Jemaat asuhan Paulus ini justru memberikan suka cita besar kepada Allah dengan pimpinan Roh Kudus. Tentu suka cita itu juga hadir dalam diri Paulus juga. Jemaat Tesalonika tidak perlu membuat kesaksian atas pelayanan mereka, sebab orang lain sudah mengatakannya. Jemaat Tesalonika telah menjadi teladan dan saksi hidup bagaimana bertobat, kembali ke jalan yang benar dan hidup dalam kasih karunia Tuhan.
Dari ke dua bacaan itu kita dapat belajar bahwa sesungguhnya Allah tidak menginginkan persembahan kita, korban bakaran kita. Allah menyukai kasih setia ketimbang korban sembelihan, dan pengenalan akan Allah ketimbang korban bakaran (Hosea 6:6). Sementara itu melalui jemaat Tesalonika kita belajar menjadi saksi yang hidup, menjadi teladan yang benar. Allah menunggu hal-hal itu mewujud dalam kehidupan kita: menunjukkan kasih setia, berusaha terus menerus mengenal Allah dan hidup menjadi teladan bagi sesama.
Tiga Puluh Hari Menunggu (4)
Hari ke-4
Small is beautiful. Kecil itu indah. Dulu ada ungkapan seperti itu. Apakah benar semua yang kecil itu indah? Bagaimana dengan ungkapan “orang kecil” misalnya yang mengandung makna orang miskin, mereka yang trsisih dan terpinggirkan? Apakah mereka juga indah di mata kita? Barangkali kita akan berkata “tidak!” Atau mulai ragu-ragu untuk menjawab.
Alkitab mengisahkan bahwa Allah selalu peduli dengan “orang kecil”. Dengan contoh kehadiran-Nya yang di kandang binatang, tidur dibungkus lampin dan berbaring di dalam palungan sudah menunjukkan bahwa Ia peduli. Mikha sudah menubuatkan jauh sebelum itu terjadi, bahwa Mesias akan hadir/lahir di Betlehem. Sebuah kota kecil yang sama sekali tidak terkenal pada waktu itu. Kepedulian Allah juga dinyatakan oleh Yesus bahwa siapa saja yang melayani orang yang paling hina, ia sebenarnya telah melayani Tuhan.
Nah, kalau kita pun peduli dengan mereka, mari mulai buka mata dan telinga. Orang kecil bukan hanya mereka yang miskin secara materi, namun mereka yang tersisih. Alkitab selalu mengajarkan agar kita memperhatikan para anak yatim, para janda, orang miskin, orang sakit. Mengapa? Karena merekalah yang biasanya disingkirkan oleh sesamanya. Diperlakukan tidak adil, diambil hak-haknya, dibuang bahkan tidak dianggap sebagai manusia. Mari peduli! Sebab kebanyakan orang kecil cuma bisa menunggu.
Small is beautiful. Kecil itu indah. Dulu ada ungkapan seperti itu. Apakah benar semua yang kecil itu indah? Bagaimana dengan ungkapan “orang kecil” misalnya yang mengandung makna orang miskin, mereka yang trsisih dan terpinggirkan? Apakah mereka juga indah di mata kita? Barangkali kita akan berkata “tidak!” Atau mulai ragu-ragu untuk menjawab.
Alkitab mengisahkan bahwa Allah selalu peduli dengan “orang kecil”. Dengan contoh kehadiran-Nya yang di kandang binatang, tidur dibungkus lampin dan berbaring di dalam palungan sudah menunjukkan bahwa Ia peduli. Mikha sudah menubuatkan jauh sebelum itu terjadi, bahwa Mesias akan hadir/lahir di Betlehem. Sebuah kota kecil yang sama sekali tidak terkenal pada waktu itu. Kepedulian Allah juga dinyatakan oleh Yesus bahwa siapa saja yang melayani orang yang paling hina, ia sebenarnya telah melayani Tuhan.
Nah, kalau kita pun peduli dengan mereka, mari mulai buka mata dan telinga. Orang kecil bukan hanya mereka yang miskin secara materi, namun mereka yang tersisih. Alkitab selalu mengajarkan agar kita memperhatikan para anak yatim, para janda, orang miskin, orang sakit. Mengapa? Karena merekalah yang biasanya disingkirkan oleh sesamanya. Diperlakukan tidak adil, diambil hak-haknya, dibuang bahkan tidak dianggap sebagai manusia. Mari peduli! Sebab kebanyakan orang kecil cuma bisa menunggu.
Tuesday, 29 November 2011
Tiga Puluh Hari Menunggu (3)
Hari ke-3, 29 November 2011
“Pada hari itu, demikianlah firman Tuhan, Aku akan mengumpulkan mereka yang pincang, dan akan menghimpunkan mereka yang terpencer-pencar dan mereka yang telah Kucelakakan.” (Mikha 4:6).
Allah yang menyerakkan, Allah juga yang mengumpulkan. Ada penghakiman, ada pula pengampunan. Ya. Pada hari itu, semuanya akan terjadi. Kapan? Ketika Mikha menuliskan nubuatan itu, mungkin dia tidak tahu kapan pemulihan itu akan terjadi. Kita yang hidup di saat ini dapat menduga dan mengerti bahwa “hari itu” adalah hari ketika Kristus datang dan memerintah. Sebuah waktu tunggu yang cukup lama. Lebih dari 500 tahun sesudah Mikha bernubuat, barulah tergenapi.
Pemulihan selalu ditunggu-tunggu oleh setiap orang yang terpecah, terpencar. Yang sakit ingin sembuh. Yang bertengkar ingin berdamai. Yang rusak ingin berfungsi kembali, Yang pecah ingin menyatu. Yang terserak ingin berkumpul. “Pulihkanlah kami ya Tuhan!” teriakan pemazmur ini menjadi teriakan kita juga. Segala yang terputus selalu ingin dikembalikan pada keadaan semula. Pulih, adalah kata indah yang kerap kali susah dijalani. “Pulihkanlah kami ya Tuhan!”
Pemulihan yang utama dan terutama adalah antara manusia dan Penciptanya. Manusia yang sudah terlanjur terpuruk dan tenggelam dalam lumpur dosa tidak akan mampu menarik dirinya sendiri dan kembali terhubung dengan Tuhannya. Upaya pemulihan seperti ini adalah prakarsa Tuhan sendiri. Mirip seperti Petrus yang tenggelam di laut, kemudian Yesus mengulurkan tangan-Nya untuk menolong. Ketika Petrus kemudian meraih tangan itu, selamatlah ia. Tangan Allah sudah terjulur dari sorga. Bahkan Dia sendiri hadir di tengah-tengah manusia. Bagaimana respon manusia sangat menentukan apakah ia akan selamat atau terus tenggelam.
Aku percaya bahwa pada hari itu Engkau akan mengumpulkan mereka yang pincang, dan akan menghimpunkan mereka yang terpencar-pencar dan mereka yang telah Kau celakakan. Engkau telah melakukannya ya Tuhan. Terpujilah Allah semesta alam!
“Pada hari itu, demikianlah firman Tuhan, Aku akan mengumpulkan mereka yang pincang, dan akan menghimpunkan mereka yang terpencer-pencar dan mereka yang telah Kucelakakan.” (Mikha 4:6).
Allah yang menyerakkan, Allah juga yang mengumpulkan. Ada penghakiman, ada pula pengampunan. Ya. Pada hari itu, semuanya akan terjadi. Kapan? Ketika Mikha menuliskan nubuatan itu, mungkin dia tidak tahu kapan pemulihan itu akan terjadi. Kita yang hidup di saat ini dapat menduga dan mengerti bahwa “hari itu” adalah hari ketika Kristus datang dan memerintah. Sebuah waktu tunggu yang cukup lama. Lebih dari 500 tahun sesudah Mikha bernubuat, barulah tergenapi.
Pemulihan selalu ditunggu-tunggu oleh setiap orang yang terpecah, terpencar. Yang sakit ingin sembuh. Yang bertengkar ingin berdamai. Yang rusak ingin berfungsi kembali, Yang pecah ingin menyatu. Yang terserak ingin berkumpul. “Pulihkanlah kami ya Tuhan!” teriakan pemazmur ini menjadi teriakan kita juga. Segala yang terputus selalu ingin dikembalikan pada keadaan semula. Pulih, adalah kata indah yang kerap kali susah dijalani. “Pulihkanlah kami ya Tuhan!”
Pemulihan yang utama dan terutama adalah antara manusia dan Penciptanya. Manusia yang sudah terlanjur terpuruk dan tenggelam dalam lumpur dosa tidak akan mampu menarik dirinya sendiri dan kembali terhubung dengan Tuhannya. Upaya pemulihan seperti ini adalah prakarsa Tuhan sendiri. Mirip seperti Petrus yang tenggelam di laut, kemudian Yesus mengulurkan tangan-Nya untuk menolong. Ketika Petrus kemudian meraih tangan itu, selamatlah ia. Tangan Allah sudah terjulur dari sorga. Bahkan Dia sendiri hadir di tengah-tengah manusia. Bagaimana respon manusia sangat menentukan apakah ia akan selamat atau terus tenggelam.
Aku percaya bahwa pada hari itu Engkau akan mengumpulkan mereka yang pincang, dan akan menghimpunkan mereka yang terpencar-pencar dan mereka yang telah Kau celakakan. Engkau telah melakukannya ya Tuhan. Terpujilah Allah semesta alam!
Monday, 28 November 2011
Tiga Puluh Hari Menunggu (2)
Hari ke-2, 28 November 2011
Apakah yang paling ditunggu oleh dua atau lebih bangsa yang sedang berperang? Apakah yang paling ditunggu oleh dua atau lebih orang yang sedang bertikai? Kemenangankah? Saya kira tidak. Jauh di dalam lubuk hati mereka, disadari atau tidak disadari, yang paling mereka harapkan dan rindukan adalah PERDAMAIAN.
Keadaan damai adalah keadaan paling ideal untuk hidup. Keadaan damai bukan hanya keadaan tanpa perang, tanpa konflik. Bukan hanya itu! Keadaan damai baru benar ketika setiap orang saling mendukung, saling mengasihi, saling memperhatikan. Dalam damai kita menjadi tenang dan rileks. Dalam damai ada pikiran positif, perasaan murni dan tulus, juga harapan-harapan yang baik. Kita sebagai manusia, dapat memulai sebuah peperangan, kita juga dapat memulai sebuah perdamaian. Mari sejenak berhenti dari segala kesibukan. Mari menjadi bintang perdamaian.
Hampir 30 tahun lalu, upaya damai diluncurkan para selebritis Amerika untuk menggalan dana bagi Afrika yang kelaparan. USA for Africa. Penyanyi kondang Michael Jackson dan beberapa kawan kemudian menggubah sebuah lagu indah We are the World. Simak liriknya, luar biasa menusuk rasa kemanusiaan kita.
There comes a time when we hear a certain call
When the world must come together as one
There are people dying
And it’s time to lend a hand to life
The greatest gift of all
We can't go on pretending day by day
That someone, somehow will soon make a change
We are all a part of Gods great big family
And the truth, you know,
Love is all we need
[Chorus]
We are the world, we are the children
We are the ones who make a brighter day
So let’s start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
Its true we'll make a better day
Just you and me
Send them your heart so they'll know that someone cares
And their lives will be stronger and free
As God has shown us by turning stones to bread
So we all must lend a helping hand
[Chorus]
When you're down and out, there seems no hope at all
But if you just believe there's no way we can fall
Let us realize that a change can only come
When we stand together as one
Itulah upaya damai bagi kemanusiaan. Upaya manusia menjadi bintang kerlap-kerlip maupun cemerlang tidak jadi soal. Cahaya perdamaian itu yang ditunggu. Mari kita baca perlahan-lahan kalimat-kalimat ini. Bayangkan sebisanya apa yang Anda baca.
“Salah satu cara untuk menjadi damai adalah menjadi hening di dalam diri kita. Sejenak, coba pikirkan bintang-bintang dan bayangkan dirimu menjadi seperti mereka .......... Mereka sangat indah di langit, gemerlap, dan bersinar .......... Mereka begitu tenang dan damai. Biarkan tubuhmu diam .......... Biarkan jari tangan dan kakimu rileks ..........Rilekskan perutmu ..........dan bahumu .......... Rilekskan tanganmu .......... dan wajahmu .......... Biarkan perasaan aman menyelimutimu .......... dan bias lembut kedamaian menyinarimu .......... Dalam dirimu, kamu merasa seperti bintang kecil yang indah ..........kamu, bintang mungil dalam dirimu, penuh dengan cahaya kedamaian ......... cahaya ini begitu lembut dan memancarkan rasa aman .......... Bersantailah dalam cahaya damai dan cinta .......... Biarkan dirimu menjadi bening dan damai .......... Perhatianmu penuh .......... konsentrasi .......... kapanpun kamu perlu merasakan damai dalam dirimu, kamu bisa menjadi diam .......... utuh .......... menjadi bintang kedamaian.”
Namun, sesungguhnya kedamaian baru benar-benar ada ketika Kristus menjadi hakim diantara manusia. Pada saat itu, mereka yang berperang akan menempa pedang mereka menjadi mata bajak, dan tombak-tombak mereka menjadi pisau pemangkas. Bangsa tidak lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Apa yang menjadi milik kepunyaan mereka, tetap menjadi milik mereka masing-masing. Tidak ada ketakutan, kekuatiran. (Mikha 4:1-5).
Walaupun damai yang sungguh belum lagi tiba, aku akan tetap berjalan dalam nama Tuhan yang hidup. Sekarang dan selamanya. Ada saatnya pasti bintang perdamaian itu akan bercahaya terang .......... terang sekali menembus kegelapan, kepekatan.
Apakah yang paling ditunggu oleh dua atau lebih bangsa yang sedang berperang? Apakah yang paling ditunggu oleh dua atau lebih orang yang sedang bertikai? Kemenangankah? Saya kira tidak. Jauh di dalam lubuk hati mereka, disadari atau tidak disadari, yang paling mereka harapkan dan rindukan adalah PERDAMAIAN.
Keadaan damai adalah keadaan paling ideal untuk hidup. Keadaan damai bukan hanya keadaan tanpa perang, tanpa konflik. Bukan hanya itu! Keadaan damai baru benar ketika setiap orang saling mendukung, saling mengasihi, saling memperhatikan. Dalam damai kita menjadi tenang dan rileks. Dalam damai ada pikiran positif, perasaan murni dan tulus, juga harapan-harapan yang baik. Kita sebagai manusia, dapat memulai sebuah peperangan, kita juga dapat memulai sebuah perdamaian. Mari sejenak berhenti dari segala kesibukan. Mari menjadi bintang perdamaian.
Hampir 30 tahun lalu, upaya damai diluncurkan para selebritis Amerika untuk menggalan dana bagi Afrika yang kelaparan. USA for Africa. Penyanyi kondang Michael Jackson dan beberapa kawan kemudian menggubah sebuah lagu indah We are the World. Simak liriknya, luar biasa menusuk rasa kemanusiaan kita.
There comes a time when we hear a certain call
When the world must come together as one
There are people dying
And it’s time to lend a hand to life
The greatest gift of all
We can't go on pretending day by day
That someone, somehow will soon make a change
We are all a part of Gods great big family
And the truth, you know,
Love is all we need
[Chorus]
We are the world, we are the children
We are the ones who make a brighter day
So let’s start giving
There's a choice we're making
We're saving our own lives
Its true we'll make a better day
Just you and me
Send them your heart so they'll know that someone cares
And their lives will be stronger and free
As God has shown us by turning stones to bread
So we all must lend a helping hand
[Chorus]
When you're down and out, there seems no hope at all
But if you just believe there's no way we can fall
Let us realize that a change can only come
When we stand together as one
Itulah upaya damai bagi kemanusiaan. Upaya manusia menjadi bintang kerlap-kerlip maupun cemerlang tidak jadi soal. Cahaya perdamaian itu yang ditunggu. Mari kita baca perlahan-lahan kalimat-kalimat ini. Bayangkan sebisanya apa yang Anda baca.
“Salah satu cara untuk menjadi damai adalah menjadi hening di dalam diri kita. Sejenak, coba pikirkan bintang-bintang dan bayangkan dirimu menjadi seperti mereka .......... Mereka sangat indah di langit, gemerlap, dan bersinar .......... Mereka begitu tenang dan damai. Biarkan tubuhmu diam .......... Biarkan jari tangan dan kakimu rileks ..........Rilekskan perutmu ..........dan bahumu .......... Rilekskan tanganmu .......... dan wajahmu .......... Biarkan perasaan aman menyelimutimu .......... dan bias lembut kedamaian menyinarimu .......... Dalam dirimu, kamu merasa seperti bintang kecil yang indah ..........kamu, bintang mungil dalam dirimu, penuh dengan cahaya kedamaian ......... cahaya ini begitu lembut dan memancarkan rasa aman .......... Bersantailah dalam cahaya damai dan cinta .......... Biarkan dirimu menjadi bening dan damai .......... Perhatianmu penuh .......... konsentrasi .......... kapanpun kamu perlu merasakan damai dalam dirimu, kamu bisa menjadi diam .......... utuh .......... menjadi bintang kedamaian.”
Namun, sesungguhnya kedamaian baru benar-benar ada ketika Kristus menjadi hakim diantara manusia. Pada saat itu, mereka yang berperang akan menempa pedang mereka menjadi mata bajak, dan tombak-tombak mereka menjadi pisau pemangkas. Bangsa tidak lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Apa yang menjadi milik kepunyaan mereka, tetap menjadi milik mereka masing-masing. Tidak ada ketakutan, kekuatiran. (Mikha 4:1-5).
Walaupun damai yang sungguh belum lagi tiba, aku akan tetap berjalan dalam nama Tuhan yang hidup. Sekarang dan selamanya. Ada saatnya pasti bintang perdamaian itu akan bercahaya terang .......... terang sekali menembus kegelapan, kepekatan.
Sunday, 27 November 2011
Tiga Puluh Hari Menunggu (1)
Hari ke-1, 27 November 2011
Hari ini adalah hari pertama siklus gerejawi. Masa Adven pertama. Ketika saya mencoba membuat tulisan ini, tanpa sengaja membaca coret-coretan lama. Ternyata 6 tahun lalu, Adven hari pertama juga jatuh pada tanggal 27 November, tahunnya 2005. Saat itu adalah saat yang paling mengejutkan bagi jemaat GKIKP karena pertama kali memberanikan diri menggunakan liturgi khusus “leksionari”.
Mengapa menggunakan leksionari? Karena kita percaya bahwa Allah berkarya dalam sejarah yang secara terus-menerus diturunalihkan, dikisahulangkan, serta dihadirkan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, leksionari merupakan wahana simbolis yang mau menghadirkan sejarah keselamatan yang dilakukan Allah pada masa lalu sehingga kita pada masa kini merupakan bagian dari sejarah itu.
Tema Adven I di hari pertama ini adalah: “MENANTI DENGAN TIDAK MENJADI LENGAH”. Salah satu kegiatan paling menjengkelkan adalah kegiatan menanti. Kalau kita sudah janjian dengan seseorang di tempat tertentu, di hari tertentu dan jam tertentu, namun ketika pada waktu yang sudah ditetapkan ternyata orang itu belum hadir mulai gelisahlah kita. SMS atau telpon biasanya menjadi senjata utama.
Namun, dalam konteks spiritualitas, kita diminta untuk menunggu sesuatu yang tidak jelas kapan akan terjadi. “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” (Mar 13:32). Nah, bagaimana ini? Menanti sesuatu yang hanya Allah Bapa saja tahu waktunya. Bagaimana baiknya? Apa yang mesti dilakukan dalam masa penantian itu? Kuncinya adalah menanti dengan aktif. Ya. Menunggu jangan hanya pasif saja. Orang yang mendapatkan satu telenta itu juga menunggu dengan setia. Tetap pasif! Dalam konteks praktis juga berlaku ya. Ketika teman kita belum kunjung tiba sesuati janjian, kita tidak hanya bengong saja, tetapi harus aktif berbuat sesuatu.
Masa Adven juga merupakan masa penantian akan kelepasan, pembebasan. Banyak orang menunggu pembebasan dari segala macam belenggu kehidupan, kesusahan, kemiskinan, duka cita, perkelahian, dendam, sakit hati... semua itu ingin dilepaskan, dibebaskan – segera! Bersama pemazmur kita berkeluh kesah kepada Tuhan:
“Tuhan, Allah semesta alam, berapa lama lagi murka-Mu menyala sekalipun umat-Mu berdoa? Engkau memberi mereka makan roti cucuran air mata, Engkau memberi mereka minum air mata berlimpah-limpah, Engkau membuat kami menjadi pokok percederaan tetangga-tetangga kami, dan musuh-musuh kami mengolok-olok kami. Ya Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” Mazmur 80:5-8
Namun, bila memang kami masih harus menunggu, kami akan menunggu dengan aktif mengerjakan tanggungjawab kami masing-masing.
Hari ini adalah hari pertama siklus gerejawi. Masa Adven pertama. Ketika saya mencoba membuat tulisan ini, tanpa sengaja membaca coret-coretan lama. Ternyata 6 tahun lalu, Adven hari pertama juga jatuh pada tanggal 27 November, tahunnya 2005. Saat itu adalah saat yang paling mengejutkan bagi jemaat GKIKP karena pertama kali memberanikan diri menggunakan liturgi khusus “leksionari”.
Mengapa menggunakan leksionari? Karena kita percaya bahwa Allah berkarya dalam sejarah yang secara terus-menerus diturunalihkan, dikisahulangkan, serta dihadirkan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, leksionari merupakan wahana simbolis yang mau menghadirkan sejarah keselamatan yang dilakukan Allah pada masa lalu sehingga kita pada masa kini merupakan bagian dari sejarah itu.
Tema Adven I di hari pertama ini adalah: “MENANTI DENGAN TIDAK MENJADI LENGAH”. Salah satu kegiatan paling menjengkelkan adalah kegiatan menanti. Kalau kita sudah janjian dengan seseorang di tempat tertentu, di hari tertentu dan jam tertentu, namun ketika pada waktu yang sudah ditetapkan ternyata orang itu belum hadir mulai gelisahlah kita. SMS atau telpon biasanya menjadi senjata utama.
Namun, dalam konteks spiritualitas, kita diminta untuk menunggu sesuatu yang tidak jelas kapan akan terjadi. “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” (Mar 13:32). Nah, bagaimana ini? Menanti sesuatu yang hanya Allah Bapa saja tahu waktunya. Bagaimana baiknya? Apa yang mesti dilakukan dalam masa penantian itu? Kuncinya adalah menanti dengan aktif. Ya. Menunggu jangan hanya pasif saja. Orang yang mendapatkan satu telenta itu juga menunggu dengan setia. Tetap pasif! Dalam konteks praktis juga berlaku ya. Ketika teman kita belum kunjung tiba sesuati janjian, kita tidak hanya bengong saja, tetapi harus aktif berbuat sesuatu.
Masa Adven juga merupakan masa penantian akan kelepasan, pembebasan. Banyak orang menunggu pembebasan dari segala macam belenggu kehidupan, kesusahan, kemiskinan, duka cita, perkelahian, dendam, sakit hati... semua itu ingin dilepaskan, dibebaskan – segera! Bersama pemazmur kita berkeluh kesah kepada Tuhan:
“Tuhan, Allah semesta alam, berapa lama lagi murka-Mu menyala sekalipun umat-Mu berdoa? Engkau memberi mereka makan roti cucuran air mata, Engkau memberi mereka minum air mata berlimpah-limpah, Engkau membuat kami menjadi pokok percederaan tetangga-tetangga kami, dan musuh-musuh kami mengolok-olok kami. Ya Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” Mazmur 80:5-8
Namun, bila memang kami masih harus menunggu, kami akan menunggu dengan aktif mengerjakan tanggungjawab kami masing-masing.
Sunday, 20 November 2011
Psikologi Manula (9)
Penyakit fisik yang paling kelihatan di diri manula adalah yang berkaitan dengan tulang.
Ini adalah panyakit kronis para manula.
Baik itu yang diberi nama osteoporosis ataupun osteoarthritis.
Yang pertama adalah keropos atau rapuhnya tulang, sedang yang kedua adalah rematik tulang.
Ke duanya tentu saja sama tidak enaknya.
Beberapa waktu lalu, saya tunjukkan kepada anak saya seorang oma yang kalau berjalan sangat bungkuk, sehingga badan bagian atasnya menjadi sejajar dengan tanah. Ini adalah kondisi pengeroposan tulang. Tulang sudah sangat lemah untuk bisa menopang tubuh.
Perempuan biasa lebih rentan terhadap osteoporosis ketika mereka mulai menopause.
Disamping itu, kalau diurutkan sebetulnya ada paling tidak 10 macam penyakit para manula.
Biasanya akan menghinggapi mereka satu per satu. Semakin tua, semakin banyaklah penyakit yang menggerogoti fisik ini.
Urutannya dari yang paling sering sampai yang paling jarang adalah sebagai berikut:
1. Rematik
2. Darah tinggi
3. Penurunan pendengaran
4. Jantungan
5. Kelainan tulang
6. Sinusitis
7. Katarak
8. Diabet
9. Rabun
10. Tinnitus (telinga berdenging)
Namun demikian, baik para psikolog maupun para gerontologis percaya bahwa fungsi psiko dan perilaku jauh lebih penting untuk menjaga para manula tetap bahagia ketimbang fungsi fisik yang memang akan terus menurun.
Para gerontologis tersebut menamakannya sebagai “functional impairment”. Kecacatan dalam melakukan fungsi-fungsi hidup.
Seorang kawan pernah bercerita bahwa ayahnya sejak pensiun tiba-tiba jadi disable.
Apa maksudnya? Apakah fisiknya jadi cacat? Ternyata tidak. Secara fisik dia sehat wal afiat.
Tetapi fungsi mentalnya drop banget. Si ayah sejak pensiun Cuma bisa duduk dan tidur doang.
Kalau haus teriak “minuuuuuuum” dan kalau lapar teriak “makaaaaaan”.
Si isteri yang merasa kasihan terus dengan setia melayani, maka makin amblaslah si manula ini.
Itulah salah satu contoh yang disebut dengan “functional impairment”.
Menyadari kondisi manula yang bisa bermacam-macam kondisi fisik dan mentalnya, maka para gerontologis kemudian mencoba membuat semacam studi.
Hasil studi ini kemudian disebut sebagai “index kesehatan” manula. Ada banyak hal yang diukur untuk dimasukkan ke dalam index ini, misalnya:
Soal makan dan tidur, soal pekerjaan sehari-hari, soal mengurus diri sendiri, sampai kemampuan untuk pergi sendiri ke luar rumah dan bahkan menyetir mobil sendiri.
Melihat banyak hal membebani manula dan berbagai kendala fisik dan psiko mereka, maka para psikolog maupun gerontologis atau siapapun yang berhubungan dengan manula, baik itu anak, cucu maupun perawat, sebaiknya memberikan motivasi agar si manula tetap berusaha untuk produktif dan tidak menyia-nyiakan potensinya selagi masih hidup.
Diadaptasi dari tulisan Jusni Hilwan di milis psikologi
Ini adalah panyakit kronis para manula.
Baik itu yang diberi nama osteoporosis ataupun osteoarthritis.
Yang pertama adalah keropos atau rapuhnya tulang, sedang yang kedua adalah rematik tulang.
Ke duanya tentu saja sama tidak enaknya.
Beberapa waktu lalu, saya tunjukkan kepada anak saya seorang oma yang kalau berjalan sangat bungkuk, sehingga badan bagian atasnya menjadi sejajar dengan tanah. Ini adalah kondisi pengeroposan tulang. Tulang sudah sangat lemah untuk bisa menopang tubuh.
Perempuan biasa lebih rentan terhadap osteoporosis ketika mereka mulai menopause.
Disamping itu, kalau diurutkan sebetulnya ada paling tidak 10 macam penyakit para manula.
Biasanya akan menghinggapi mereka satu per satu. Semakin tua, semakin banyaklah penyakit yang menggerogoti fisik ini.
Urutannya dari yang paling sering sampai yang paling jarang adalah sebagai berikut:
1. Rematik
2. Darah tinggi
3. Penurunan pendengaran
4. Jantungan
5. Kelainan tulang
6. Sinusitis
7. Katarak
8. Diabet
9. Rabun
10. Tinnitus (telinga berdenging)
Namun demikian, baik para psikolog maupun para gerontologis percaya bahwa fungsi psiko dan perilaku jauh lebih penting untuk menjaga para manula tetap bahagia ketimbang fungsi fisik yang memang akan terus menurun.
Para gerontologis tersebut menamakannya sebagai “functional impairment”. Kecacatan dalam melakukan fungsi-fungsi hidup.
Seorang kawan pernah bercerita bahwa ayahnya sejak pensiun tiba-tiba jadi disable.
Apa maksudnya? Apakah fisiknya jadi cacat? Ternyata tidak. Secara fisik dia sehat wal afiat.
Tetapi fungsi mentalnya drop banget. Si ayah sejak pensiun Cuma bisa duduk dan tidur doang.
Kalau haus teriak “minuuuuuuum” dan kalau lapar teriak “makaaaaaan”.
Si isteri yang merasa kasihan terus dengan setia melayani, maka makin amblaslah si manula ini.
Itulah salah satu contoh yang disebut dengan “functional impairment”.
Menyadari kondisi manula yang bisa bermacam-macam kondisi fisik dan mentalnya, maka para gerontologis kemudian mencoba membuat semacam studi.
Hasil studi ini kemudian disebut sebagai “index kesehatan” manula. Ada banyak hal yang diukur untuk dimasukkan ke dalam index ini, misalnya:
Soal makan dan tidur, soal pekerjaan sehari-hari, soal mengurus diri sendiri, sampai kemampuan untuk pergi sendiri ke luar rumah dan bahkan menyetir mobil sendiri.
Melihat banyak hal membebani manula dan berbagai kendala fisik dan psiko mereka, maka para psikolog maupun gerontologis atau siapapun yang berhubungan dengan manula, baik itu anak, cucu maupun perawat, sebaiknya memberikan motivasi agar si manula tetap berusaha untuk produktif dan tidak menyia-nyiakan potensinya selagi masih hidup.
Diadaptasi dari tulisan Jusni Hilwan di milis psikologi
Subscribe to:
Posts (Atom)