Kegiatan menulis dan membaca hampir selalu datang bersamaan. Ketika seseorang belajar membaca, sekaligus dia juga belajar menulis. Demikian juga sebaliknya. Kalau kita coba melihat ke belakang, kegiatan menulis sebetulnya sudah berlangsung cukup lama. Dari mulai belajar menuliskan huruf-huruf, kemudian kata dan kalimat. Ketika kita semakin besar, maka kegiatan menulispun semakin banyak; membuat catatan, mengarang, membuat surat, membuat karya tulis, sampai menulis skripsi sebagai persyaratan kelulusan mahasiswa. Saya pun bernasib sama. Saya menyelesaikan penulisan skripsi pada tahun 1985. Namun demikian, saya betul-betul secara rutin menulis pada tahun 2000. Ketika itu saya bergabung ada suatu mailing list (milis) dimana beberapa anggotanya sangat aktif menulis; mulai dari sharing kehidupan sehari-hari, mengemukakan pendapat atas suatu hal, bedah buku, mengomentari artikel-artikel menarik dan banyak lagi. Saya pun kemudian tergugah untuk ikut serta menulis. Ternyata diterima dan dapat menyemarakkan suasana milis tersebut. Jadi mengapa saya menulis?
Memenuhi Kebutuhan Psikologis
Seorang psikolog ternama bernama William Glasser menjelaskan bahwa manusia berperilaku untuk memenuhi atau karena ada dorongan kebutuhan psikologisnya. Ada lima macam kebutuhan psikologis tersebut yaitu: fun, love and belonging, freedom, survival, power. Menulis itu fun. Asyik. Bagaimana kita mencari referensi, mengolah data-data, mengorganisasikan pikiran kita dan kemudian menuangkan dalam bentuk tulisan merupakan kegiatan yang sungguh mengasyikkan. Ada banyak cara dan tools untuk kita mengelola ide, tetapi itu diluar topik bahasan ini.
Ketika kita melemparkan suatu tulisan, dan diterima redaksi, maka seolah-olah mereka menerima diri kita seutuhnya. Belum lagi kalau tulisan kita kemudian mendapat sambutan dari pembaca: baik berupa kritikan maupun pujian. Keduanya menunjukkan bahwa kita telah diterima dalam komunitas tersebut. Saya punya banyak sekali pengalaman seperti itu, baik dalam komunitas maya maupun komunitas asli di gereja. Pernah beberapa kali orang salah menduga bahwa saya seorang psikolog dan meminta konsultasi, karena begitu sering saya memunculkan tulisan berbau psikologi. Menulis dapat memenuhi kebutuhan love and belonging.
Pikiran kita tidak dapat dibatasi. Dia bebas berkelana kemana saja. Walaupun redaksi (karena berbagai alasan), dapat menahan untuk tidak menerbitkan satu tulisan, namun mereka tidak dapat melarang kita untuk terus menulis. Sebab memang kita bebas menulis. Dari yang bersifat sangat pribadi sampai yang dapat diterima umum. Topik yang ingin kita tulis juga beragam, bebas sesuai selera dan kemampuan kita. Menulis dapat memenuhi kebutuhan kita akan kebebasan.
Dalam batas-batas tertentu, ketika tulisan kita dapat diterbitkan secara komersial (melalui media masa), maka kegiatan menulis dapat membantu agar dapur tetap ngepul. Dengan demikian kebutuhan hidup dapat lebih terpenuhi melalui tulisan tersebut. Walaupun tulisan tidak terbit secara komersial, tulisan yang baik dapat membantu meningkatkan jejaring sosial kita. Siapa diri kita sudah dikenal jauh sebelum kita sendiri berencana menerbitkan secara komersial. Jejaring sosial yang kuat mendukung pemenuhan kebutuhan akan hidup – survival.
Pendapat kita tentang sesuatu hal memang belum tentu sama dengan pendapat orang lain. Namun demikian, melalui tulisan kita dapat membentuk opini publik sehingga – sengaja atau tidak sengaja – mengikuti pendapat kita. Sebagai contoh, satu tulisan yang pernah terbit di buletin Mercusuar dengan judul Pintu Gereja. Penulis ingin menggiring opini publik bahwa sekali kita sudah melewati pintu gereja dan masuk di ruang kebaktian, maka ada suasana sakral disana, karena Tuhan sendiri hadir disitu. Oleh karenanya selayaknya perilaku kita juga berubah, tidak sama dengan ketika kita masih di luar pintu, di tempat parkir mobil misalnya. Inilah kekuatan sebuah tulisan. Walaupun sering penulis tidak dengan sengaja ingin mengubah opini publik, perubahan dapat saja terjadi. Sengaja atau tidak sengaja kebutuhan akan power dapat terpenuhi melalui menulis. Langsung ataupun tidak langsung, kita dapat mengendalikan orang lain melalui tulisan kita.
Memecahkan Persoalan – Menyajikan Persoalan
Seringkali dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan sesuatu kejadian yang mengganggu pikiran kita. Dalam hal ini kejadian tersebut bisa jadi merupakan masalah yang perlu kita pecahkan sendiri. Lalu kita mencoba untuk mencari pendapat orang-orang, membaca beberapa referensi, kemudian membuat kesimpulan pemecahan atas masalah tersebut. Ide yang sudah terkumpul ini, kemudian kita tuangkan dalam bentuk tulisan. Orang lain yang mungkin mengalami masalah yang sama/mirip dengan demikian dapat mencoba cara yang sama dengan apa yang sudah kita tuliskan untuk mengatasi masalahnya. Dalam hal lain, justru kita dapat melemparkan masalah kepada publik/pembaca melalui tulisan. Serangkaian kejadian yang dapat kita antisipasi bakalan menjadi masalah besar, dapat juga kita lemparkan kepada publik melalui tulisan. Misalnya ramalan jatuhnya nilai rupiah atau akan naiknya harga-harga sembako dan bagaimana mengatasi persoalan seperti itu. Di lingkungan gereja kita dapat melemparkan masalah akan meledaknya jumlah anak remaja dua tahun mendatang karena bagitu besarnya jumlah anak sekolah minggu pra-remaja saat ini. Hal ini perlu diantisipasi baik oleh komisi remaja maupun oleh gereja secara keseluruhan. Tulisan dengan analisa yang tepat dan akurat dapat membantu majelis jemaat untuk melihat lebih jernih ke masa depan.
Demikian sekilas beberapa alasan mengapa saya menulis. Saya tidak melihat alasan mengapa orang enggan menulis. Kalaupun ada, barangkali karena takut menghadapi tanggungjawab atas tulisannya sendiri. Sebab walaupun banyak alasan untuk menulis, tanggungjawab tidak dapat dilepaskan begitu saja. Namun demikian, seandainya para pembaca memiliki pikiran yang logis, bernas, dan cerdas, jangan ragu-ragu untuk melahirkannya dalam bentuk tulisan. Mumpung gereja kita memiliki wadah untuk menampungnya.
Selamat Datang
Salam damai sejahtera dari kami untuk para pembaca sekalian. Blog ini mulai kami buat di awal tahun 2010 dengan tema Melangkah Bersama Tuhan. Nama Blog ini sesuai dengan harapan dan komitmen kami untuk menjalani tahun 2010 bersama dengan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan manusia sebagai umat kemuliaan-Nya.
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Monday, 27 December 2010
Tiga Jalan
Umur saya sudah hampir setengah abad. Kalau saya kembali menoleh ke belakang, saya menyadari bahwa sewaktu saya masih remaja, beranjak menjadi pemuda, dan menjalani masa dewasa, ada banyak sekali pilihan-pilihan hidup yang harus diambil. Ada banyak persimpangan jalan harus dipilih apakah belok ke kiri, ke kanan atau berjalan lurus saja. Semua mengandung konsekuensinya masing-masing. Kadang bahkan tidak diketahui sama sekali apa konsekuensi yang menghadang di depan. Sekarang setelah berumur hampir setengah abad, pilihan-pilihan memang sudah berkurang banyak. Khususnya pilihan yang berdampak jangka panjang. Sekarang barangkali paling baik adalah membantu mereka yang masih muda-muda mengambil dan menentukan pilihan – dengan penuh tanggungjawab.
Para remaja, pemuda dan pemudi setiap hari, setiap saat selalu diperhadapkan dengan pilihan. Dari yang sangat ringan karena konsekuensi yang dihadapi juga ringan, maupun berat dan sangat berat karena kesalahan akan berdampak sangat panjang. Bagaimana mengelola seksualitas misalnya. Bagaimana menemukan dan memilih pasangan hidupnya. Bagaimana memilih dan menentukan teman-teman. Bahkan bagaimana memilih dan menentukan pelayanan di gereja. Tulisan singkat ini berusaha membantu mencerahkan para remaja, pemuda dan pemudi dalam memilih. Secara ringkas sebelum pilihan dijatuhkan, remaja, pemuda dan pemudi harus bergumul, berpikir, berdoa – baru kemudian menjatuhkan pilihan. Bagaimana memilih? Ada tiga jalan yang biasa ditempuh oleh kebanyakan manusia.
Jalan pertama adalah jalan kebijakan. Jalan ini adalah jalan yang menyoroti kepentingan diri sendiri. Penganut jalan ini, orientasinya adalah diri sendiri. Oleh karena itu, dalam mengambil dan menentukan pilihan, yang dipikirkan adalah: apakah pilihan ini menguntungkan diri saya sendiri atau tidak. Tidak apa-apa sih. Masih bagus begitu. Paling tidak orang tidak sembrono mengambil dan menentukan pilihan. Orang belajar dengan rajin, bahkan sampai lupa makan dan tidur larut malam, untuk apa? Agar diri sendiri menjadi pandai dan mampu bersaing dengan orang lain. Orang menjauhi narkoba dan pergaulan bebas untuk apa? Agar diri sendiri tidak terjerumus dan masa depan akan menjadi gelap. Baik bukan? Walaupun nampak seperti egois, pilihan kebijakan tetap dapat membantu diri sendiri berkembang (semoga) ke arah yang lebih baik.
NAMUN DEMIKIAN pilihan kebijakan ini ada kelemahannya juga. Yaitu ketika pilihan itu ternyata berlawanan dengan pilihan dan kepentingan orang lain, bahkan merugikan orang lain. Ketika orang memilih untuk ngebut di jalan tol misalnya, maka pilihan itu justru akan merugikan orang lain. Ketika orang memilih mengusir para pedagang di depan gereja misalnya, tindakan itu dapat membawa dampak sangat negatif bagi kehidupan mereka. Terlebih lagi pilihan kebijakan ini tidak sesuai dengan Firman Tuhan dalam Markus 8:34 “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk mengorbankan diri dan kepentingannya untuk orang lain. Lihat para pahlawan. Lihat juga seorang ibu yang membesarkan anaknya. Lihat junjungan kita Yesus yang mengorbankan diri-Nya. Pendek kata, jalan kebijakan adalah mengambil pilihan yang berdampak jangka panjang. Megambil pilihan tertinggi, terbaik. Namun jangan puas sampai disitu saja. Jalan kebijakan tidak terlalu pas untuk kehidupan manusia pada umumnya. Dia terkungkung oleh ke-aku-annya sendiri. Get out of your own ego! Help others. Hidup akan lebih berarti.
Jalan kedua adalah jalan penyesuaian. Dengan jalan ini orang tidak serta merta mengambil pilihan karena kecenderungan dan kepentingan diri sendiri. Dengan jalan penyesuaian, orang akan melihat dan mempertimbangkan pikiran orang lain – dalam mengambil keputusan. Apa pikiran orang lain atas perilaku kita? Itu sangat jadi pertimbangan. Apa yang baik untuk orang lain – itu yang menjadi pilihan. Beda dengan jalan kebijakan – jalan penyesuaian ini mulai mengandalkan hubungan sosial, persekutuan. Dengan jalan penyesuaian, keuntungan pribadi mulai dikesampingkan – yang penting orang lain dan teman-teman gembira. Misalnya membantu teman belajar, berbagi makanan dengan teman yang lupa membawa bekal makanan. Ya. Tampaknya jalan penyesuaian ini lebih baik daripada jalan yang pertama. Apalagi jalan ini cocok dengan Firman Tuhan di Matius 22:39 “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Atau dengan nasehat Paulus di 1 Korintus 10:24 “Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.”
NAMUN DEMIKIAN pilihan jalan penyesuaian ini juga mengandung kelemahan. Orang akan cenderung mengikuti arus. Kalau mayoritas bicara A maka kita ikutan A. Kalau B ikutan B. Dalam tingkat tertentu, jalan ini justru akan menghilangkan jati diri kita sendiri. Semuanya hanyut bersama “orang lain” yang ingin kita bahagiakan. Belum lagi orang akan bingung kalau ternyata mayorita terpecah. Ada yang ingin C ada juga yang ingin D. Wah…susah. Mana harus diikuti? Pendek kata pilihan penyesuaian memang banyak OK nya. Usaha membahagiakan dan menyenangkan orang lain tentu baik. Tetapi ada jalan yang lebih baik lagi.
Jalan ketiga adalah jalan kebenaran. Pilihan jalan ini mengajak orang berpikir “Apa yang benar menurut kehendak Tuhan. Yang menjadi patokan utama bukan lagi “aku” dan bukan juga “orang lain” tetapi Tuhan Allah sendiri. Kehendak Tuhan jauh lebih mulia daripada “aku” dan “orang lain”. Mungkin saja kita akan mendapatkan keberuntungan ketika mengikuti kehendak Tuhan, namun itu bukan tujuan utama. Mungkin saja kita akan mendapatkan kebahagiaan sewaktu menjalankan dan mengikuti kehendak Tuhan, namun jalan kebenaran juga menyadarkan bahwa mengikuti Dia juga berarti pengorbanan dan penderitaan. Seringkali ketika kita ingin menjalankan perintah Tuhan, kita justru harus melakukan hal-hal yang tidak populer, bergaul dengan orang-orang yang tidak terkenal, sakit, miskin dan kesepian. Orang Kristen adalah orang yang mengikut Kristus yang mati disalib. Penuh bahaya. Tantangannya juga berat. Kita memang perlu mengasihi diri sendiri, merawat diri. Kita juga perlu mengasihi dan hidup dalam persekutuan dengan menjalin relasi sosial dengan orang lain. NAMUN DEMIKIAN kadang pandangan orang lain itu tidak selalu benar. Dengan demikian, kita harus berani tampil beda dengan mereka. Dare to be different from others. Paulus memberi nasehat dalam Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Pendek kata, kesenangan diri sendiri dan orang lain bukanlah tujuan. Carilah tujuan yang tertinggi – hidup benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Pilihlah jalan ketiga, jalan kebenaran. Jalan Tuhan. Hai remaja, pemuda, pemudi, lanjutkan hidupmu. Pilihlah sesuai kebenaran Tuhan, dan jangan lupa: bergumul, berpikir, berdoa!
Sumber: Malcolm Brownlee, Hai Pemuda, Pilihlah!, BPK GM, cetakan ke-7, 2003
Para remaja, pemuda dan pemudi setiap hari, setiap saat selalu diperhadapkan dengan pilihan. Dari yang sangat ringan karena konsekuensi yang dihadapi juga ringan, maupun berat dan sangat berat karena kesalahan akan berdampak sangat panjang. Bagaimana mengelola seksualitas misalnya. Bagaimana menemukan dan memilih pasangan hidupnya. Bagaimana memilih dan menentukan teman-teman. Bahkan bagaimana memilih dan menentukan pelayanan di gereja. Tulisan singkat ini berusaha membantu mencerahkan para remaja, pemuda dan pemudi dalam memilih. Secara ringkas sebelum pilihan dijatuhkan, remaja, pemuda dan pemudi harus bergumul, berpikir, berdoa – baru kemudian menjatuhkan pilihan. Bagaimana memilih? Ada tiga jalan yang biasa ditempuh oleh kebanyakan manusia.
Jalan pertama adalah jalan kebijakan. Jalan ini adalah jalan yang menyoroti kepentingan diri sendiri. Penganut jalan ini, orientasinya adalah diri sendiri. Oleh karena itu, dalam mengambil dan menentukan pilihan, yang dipikirkan adalah: apakah pilihan ini menguntungkan diri saya sendiri atau tidak. Tidak apa-apa sih. Masih bagus begitu. Paling tidak orang tidak sembrono mengambil dan menentukan pilihan. Orang belajar dengan rajin, bahkan sampai lupa makan dan tidur larut malam, untuk apa? Agar diri sendiri menjadi pandai dan mampu bersaing dengan orang lain. Orang menjauhi narkoba dan pergaulan bebas untuk apa? Agar diri sendiri tidak terjerumus dan masa depan akan menjadi gelap. Baik bukan? Walaupun nampak seperti egois, pilihan kebijakan tetap dapat membantu diri sendiri berkembang (semoga) ke arah yang lebih baik.
NAMUN DEMIKIAN pilihan kebijakan ini ada kelemahannya juga. Yaitu ketika pilihan itu ternyata berlawanan dengan pilihan dan kepentingan orang lain, bahkan merugikan orang lain. Ketika orang memilih untuk ngebut di jalan tol misalnya, maka pilihan itu justru akan merugikan orang lain. Ketika orang memilih mengusir para pedagang di depan gereja misalnya, tindakan itu dapat membawa dampak sangat negatif bagi kehidupan mereka. Terlebih lagi pilihan kebijakan ini tidak sesuai dengan Firman Tuhan dalam Markus 8:34 “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk mengorbankan diri dan kepentingannya untuk orang lain. Lihat para pahlawan. Lihat juga seorang ibu yang membesarkan anaknya. Lihat junjungan kita Yesus yang mengorbankan diri-Nya. Pendek kata, jalan kebijakan adalah mengambil pilihan yang berdampak jangka panjang. Megambil pilihan tertinggi, terbaik. Namun jangan puas sampai disitu saja. Jalan kebijakan tidak terlalu pas untuk kehidupan manusia pada umumnya. Dia terkungkung oleh ke-aku-annya sendiri. Get out of your own ego! Help others. Hidup akan lebih berarti.
Jalan kedua adalah jalan penyesuaian. Dengan jalan ini orang tidak serta merta mengambil pilihan karena kecenderungan dan kepentingan diri sendiri. Dengan jalan penyesuaian, orang akan melihat dan mempertimbangkan pikiran orang lain – dalam mengambil keputusan. Apa pikiran orang lain atas perilaku kita? Itu sangat jadi pertimbangan. Apa yang baik untuk orang lain – itu yang menjadi pilihan. Beda dengan jalan kebijakan – jalan penyesuaian ini mulai mengandalkan hubungan sosial, persekutuan. Dengan jalan penyesuaian, keuntungan pribadi mulai dikesampingkan – yang penting orang lain dan teman-teman gembira. Misalnya membantu teman belajar, berbagi makanan dengan teman yang lupa membawa bekal makanan. Ya. Tampaknya jalan penyesuaian ini lebih baik daripada jalan yang pertama. Apalagi jalan ini cocok dengan Firman Tuhan di Matius 22:39 “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Atau dengan nasehat Paulus di 1 Korintus 10:24 “Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.”
NAMUN DEMIKIAN pilihan jalan penyesuaian ini juga mengandung kelemahan. Orang akan cenderung mengikuti arus. Kalau mayoritas bicara A maka kita ikutan A. Kalau B ikutan B. Dalam tingkat tertentu, jalan ini justru akan menghilangkan jati diri kita sendiri. Semuanya hanyut bersama “orang lain” yang ingin kita bahagiakan. Belum lagi orang akan bingung kalau ternyata mayorita terpecah. Ada yang ingin C ada juga yang ingin D. Wah…susah. Mana harus diikuti? Pendek kata pilihan penyesuaian memang banyak OK nya. Usaha membahagiakan dan menyenangkan orang lain tentu baik. Tetapi ada jalan yang lebih baik lagi.
Jalan ketiga adalah jalan kebenaran. Pilihan jalan ini mengajak orang berpikir “Apa yang benar menurut kehendak Tuhan. Yang menjadi patokan utama bukan lagi “aku” dan bukan juga “orang lain” tetapi Tuhan Allah sendiri. Kehendak Tuhan jauh lebih mulia daripada “aku” dan “orang lain”. Mungkin saja kita akan mendapatkan keberuntungan ketika mengikuti kehendak Tuhan, namun itu bukan tujuan utama. Mungkin saja kita akan mendapatkan kebahagiaan sewaktu menjalankan dan mengikuti kehendak Tuhan, namun jalan kebenaran juga menyadarkan bahwa mengikuti Dia juga berarti pengorbanan dan penderitaan. Seringkali ketika kita ingin menjalankan perintah Tuhan, kita justru harus melakukan hal-hal yang tidak populer, bergaul dengan orang-orang yang tidak terkenal, sakit, miskin dan kesepian. Orang Kristen adalah orang yang mengikut Kristus yang mati disalib. Penuh bahaya. Tantangannya juga berat. Kita memang perlu mengasihi diri sendiri, merawat diri. Kita juga perlu mengasihi dan hidup dalam persekutuan dengan menjalin relasi sosial dengan orang lain. NAMUN DEMIKIAN kadang pandangan orang lain itu tidak selalu benar. Dengan demikian, kita harus berani tampil beda dengan mereka. Dare to be different from others. Paulus memberi nasehat dalam Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Pendek kata, kesenangan diri sendiri dan orang lain bukanlah tujuan. Carilah tujuan yang tertinggi – hidup benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Pilihlah jalan ketiga, jalan kebenaran. Jalan Tuhan. Hai remaja, pemuda, pemudi, lanjutkan hidupmu. Pilihlah sesuai kebenaran Tuhan, dan jangan lupa: bergumul, berpikir, berdoa!
Sumber: Malcolm Brownlee, Hai Pemuda, Pilihlah!, BPK GM, cetakan ke-7, 2003
Mengampuni?
Seseorang telah menyakiti hati saya. Dia hidup dekat dengan saya, sehingga setiap kali saya pasti akan ketemu dia. Nah, setiap kali teringat atau bahkan ketemu, panas hati ini mendadak bertambah 1500 derajat. Bajapun akan meleleh dalam panas itu. Banyak teman-teman memberikan nasehat praktis kepada saya. "Dah lupakan saja. Tidak ada gunanya menyimpan amarah seperti itu." Demikian inti nasehat-nasehat yang saya terima. Memang benar menyesakkan menyimpan dendam dan amarah. Tapi kalau belum membalas, kok rasanya belum adil, belum seimbang gitu. Sahabat yang lain bicara "Pengampunan, maaf yang tulus akan membersihkan hati, dan membawa damai." Nampaknya memang begitu. But how? Bagaimana dalam kondisi sekarang dapat memadamkan api sementara di pihak sana terus menyiramkan bensin?
Sampai disini saya merenung. Diam sendiri dan tidak mau diganggu. Saya harus mencari sendiri "kebenaran" itu. Saya seorang Kristen. Saya tahu bahwa saya harus mengasihi, bahkan musuh sekalipun. Urusannya tetap, bagaimana caranya? Kalimat-kalimat indah yang dilontarkan oleh Yesus memang berguna untuk mereka yang belum merasakan sakit hati ini. Tetapi bagi saya yang rasa sakitnya sudah seperti disayat sembilu sembilan macam, mengasihi musuh menjadi semacam "cemoohan" bagi kemanusiaan saya. Mengampuni orang yang menyakiti hati tanpa melihat perubahan perilakunya seperti melemparkan mutiara kepada babi. Huh...
Saya pernah berpikir bahwa Tuhan pun meminta pertobatan dari manusia agar manusia bisa selamat. Kenapa saya mesti memberikan gratis-tis kepada dia? No way. Dia harus bertobat. Tiba-tiba cling! Ada sesuatu berkelebat dalam benak saya. Tuntutan Tuhan kepada manusia mestinya tidak bisa disamakan dengan tuntutan saya kepada manusia lain. Emangnya saya Tuhan? Lho kok jadi begini? Jadi bagaimana? Saya tetap harus mengampuni, memaafkan sementara dia boleh bebas tidak mengubah perilakunya? Teman lain lagi datang dan memberikan nasehat "It is a matter of choice. You may choose to be misserable all the time thinking of him, or just let it go. Forgive him and live a happy life." Wah nasehat ini hebat. Bukan karena dalam bahasa Inggris, tetapi karena isinya menyentak kesadaran saya. Ya, benar! Itu pilihan saya sendiri. Karena urusan ini adalah urusan manusia-manusia, bukan Tuhan-manusia.
Kiranya Roh Kudus memberikan kekuatan dan hikmat agar saya mampu menjatuhkan pilihan yang tepat...
***
Lima hari kemudian saya bermimpi. Saya melihat awan bergulung-gulung, awan putih bukan awan hitam. Awan itu terus bergulung, bentuknya mirip sekali dengan bulu domba. Karena ada matahari di balik awan itu, maka kumpulan awan itu menjadi berpendar keperakan. Indah sekali. Ketika saya sedang menikmati keindahannya, tiba-tiba ada dua tangan terjulur dari dalam kumpulan awan tersebut. Tangan yang satu membawa pedang, dan tangan yang lain tidak memegang apa-apa. Hanya terjulur saja seperti ingin menolong atau menarik orang yang berada di bawah. Pada tangan yang menggapai ini terlihat jelas tanda lobang paku….
***
Saya segera sadar bahwa ini merupakan jawaban dari pergumulan dan tulisan saya beberapa hari yang lalu perihal mengampuni. Allah maha pengasih dan pengampun, namun sekaligus Dia maha adil. Bahwa dengan kasih-Nya Dia menawarkan pengampunan, oleh karenanya tangan itu terjulur dengan tanda lobang paku. Tangan itu ingin menggapai, menarik mereka yang berkancah dalam lumpur dosa. Ia memberikan dan menawarkan pengampunan-Nya. Namun di tangan yang lain ada pedang. Tanpa pertobatan, pada saatnya maka pedang yang akan beraksi dan membinasakan. Kita sebagai manusia, hanya diminta untuk mengasihi dan menawarkan pengampunan kepada sesama kita. Karena itu kita tidak diberikan pedang oleh Allah untuk menghakimi dan membinasakan sesama kita. Oleh karena itu, pengampunan kita seharusnya final, dan tidak ada tuntutan pertobatan di pihak sana.
***
Ketika saya terbangun, saya melihat dari jendela kamar saya bintang yang berkelap-kelip terang sekali. Saya tahu itu bintang timur, yang setiap pagi memang selalu hadir. Akan tetapi pagi ini bintang itu terasa lain. Bintang itu seperti mata Tuhan sendiri yang berkedip menyapa diri saya secara pribadi. Sangat pribadi….
Sampai disini saya merenung. Diam sendiri dan tidak mau diganggu. Saya harus mencari sendiri "kebenaran" itu. Saya seorang Kristen. Saya tahu bahwa saya harus mengasihi, bahkan musuh sekalipun. Urusannya tetap, bagaimana caranya? Kalimat-kalimat indah yang dilontarkan oleh Yesus memang berguna untuk mereka yang belum merasakan sakit hati ini. Tetapi bagi saya yang rasa sakitnya sudah seperti disayat sembilu sembilan macam, mengasihi musuh menjadi semacam "cemoohan" bagi kemanusiaan saya. Mengampuni orang yang menyakiti hati tanpa melihat perubahan perilakunya seperti melemparkan mutiara kepada babi. Huh...
Saya pernah berpikir bahwa Tuhan pun meminta pertobatan dari manusia agar manusia bisa selamat. Kenapa saya mesti memberikan gratis-tis kepada dia? No way. Dia harus bertobat. Tiba-tiba cling! Ada sesuatu berkelebat dalam benak saya. Tuntutan Tuhan kepada manusia mestinya tidak bisa disamakan dengan tuntutan saya kepada manusia lain. Emangnya saya Tuhan? Lho kok jadi begini? Jadi bagaimana? Saya tetap harus mengampuni, memaafkan sementara dia boleh bebas tidak mengubah perilakunya? Teman lain lagi datang dan memberikan nasehat "It is a matter of choice. You may choose to be misserable all the time thinking of him, or just let it go. Forgive him and live a happy life." Wah nasehat ini hebat. Bukan karena dalam bahasa Inggris, tetapi karena isinya menyentak kesadaran saya. Ya, benar! Itu pilihan saya sendiri. Karena urusan ini adalah urusan manusia-manusia, bukan Tuhan-manusia.
Kiranya Roh Kudus memberikan kekuatan dan hikmat agar saya mampu menjatuhkan pilihan yang tepat...
***
Lima hari kemudian saya bermimpi. Saya melihat awan bergulung-gulung, awan putih bukan awan hitam. Awan itu terus bergulung, bentuknya mirip sekali dengan bulu domba. Karena ada matahari di balik awan itu, maka kumpulan awan itu menjadi berpendar keperakan. Indah sekali. Ketika saya sedang menikmati keindahannya, tiba-tiba ada dua tangan terjulur dari dalam kumpulan awan tersebut. Tangan yang satu membawa pedang, dan tangan yang lain tidak memegang apa-apa. Hanya terjulur saja seperti ingin menolong atau menarik orang yang berada di bawah. Pada tangan yang menggapai ini terlihat jelas tanda lobang paku….
***
Saya segera sadar bahwa ini merupakan jawaban dari pergumulan dan tulisan saya beberapa hari yang lalu perihal mengampuni. Allah maha pengasih dan pengampun, namun sekaligus Dia maha adil. Bahwa dengan kasih-Nya Dia menawarkan pengampunan, oleh karenanya tangan itu terjulur dengan tanda lobang paku. Tangan itu ingin menggapai, menarik mereka yang berkancah dalam lumpur dosa. Ia memberikan dan menawarkan pengampunan-Nya. Namun di tangan yang lain ada pedang. Tanpa pertobatan, pada saatnya maka pedang yang akan beraksi dan membinasakan. Kita sebagai manusia, hanya diminta untuk mengasihi dan menawarkan pengampunan kepada sesama kita. Karena itu kita tidak diberikan pedang oleh Allah untuk menghakimi dan membinasakan sesama kita. Oleh karena itu, pengampunan kita seharusnya final, dan tidak ada tuntutan pertobatan di pihak sana.
***
Ketika saya terbangun, saya melihat dari jendela kamar saya bintang yang berkelap-kelip terang sekali. Saya tahu itu bintang timur, yang setiap pagi memang selalu hadir. Akan tetapi pagi ini bintang itu terasa lain. Bintang itu seperti mata Tuhan sendiri yang berkedip menyapa diri saya secara pribadi. Sangat pribadi….
Saturday, 25 December 2010
30. Sebuah Doa di Hari Natal
Bapa yang terkasih, tolonglah kami untuk mengingat kelahiran Yesus, sehingga kami dapat turut bernyanyi bersama para malaikat, turut bergembira bersama para gembala, dan turut menyembah bersama orang majus.
Tutuplah pintu kebencian dan bukalah pintu kasih di seluruh penjuru dunia.
Biarlah kebaikan hati tersalur dalam setiap pemberian hadiah dan niat baik senantiasa menyertai setiap ucapan selamat kami.
Lepaskanlah kami dari yang jahat melalui berkat yang Kristus bawa, dan ajarilah kami agar dapat bersukaria dengan hati yang bersih.
Semoga pagi di hari Natal ini membuat hati kami berbahagia karena menjadi anak-anak-Mu, dan malam hari nanti sukacita Natal menghantar kami tidur dengan pikiran yang dipenuhi dengan ucapan syukur, kesediaan untuk mengampuni dan diampuni, semata-mata untuk menyenangkan hati Yesus. Amin. (Robert Louis Stevenson)
*****
Dengan doa diatas kami menghantar teman-teman dan para pembaca sekalian untuk bersama menghayati kembali makna Natal bagi masing-masing pribadi. Tuhan Yesus Kristus yang kelahirannya kita rayakan kiranya memberkati dan menyertai kita semua dalam menempuh perjalanan kehidupan di dunia ini.
Selamat Hari Natal teman-teman semua!
Tutuplah pintu kebencian dan bukalah pintu kasih di seluruh penjuru dunia.
Biarlah kebaikan hati tersalur dalam setiap pemberian hadiah dan niat baik senantiasa menyertai setiap ucapan selamat kami.
Lepaskanlah kami dari yang jahat melalui berkat yang Kristus bawa, dan ajarilah kami agar dapat bersukaria dengan hati yang bersih.
Semoga pagi di hari Natal ini membuat hati kami berbahagia karena menjadi anak-anak-Mu, dan malam hari nanti sukacita Natal menghantar kami tidur dengan pikiran yang dipenuhi dengan ucapan syukur, kesediaan untuk mengampuni dan diampuni, semata-mata untuk menyenangkan hati Yesus. Amin. (Robert Louis Stevenson)
*****
Dengan doa diatas kami menghantar teman-teman dan para pembaca sekalian untuk bersama menghayati kembali makna Natal bagi masing-masing pribadi. Tuhan Yesus Kristus yang kelahirannya kita rayakan kiranya memberkati dan menyertai kita semua dalam menempuh perjalanan kehidupan di dunia ini.
Selamat Hari Natal teman-teman semua!
Thursday, 23 December 2010
29. Jerami Terakhir
Keluarga itu memang bukan keluarga yang sempurna, penuh dengan sukacita dan damai sejahtera. Tidak. Disana sini masih nampak pergulatan, cekcok dan pertikaian. Anak-anak yang bermain semaunya sendiri, ibu yang selalu sibuk dan kecapean mengatur anak dan kondisi rumah, ayah yang maunya semua beres ketika ada di rumah. Namun, kesempatan menjelang Natal ini mereka mencoba sepakat untuk berbuat sesuatu agar suasana keluarga, suasana rumah menjadi jauh lebih baik dari kondisi sehari-hari. Ibu memberikan usul agar semua orang mengerjakan pekerjaan yang tidak biasa. Yaitu mengerjakan selalu “untuk orang lain”. Bagaimana caranya?
Adi anak yang paling besar diminta membuat palungan. Sesudah jadi, untuk alas tidur sang bayi Yesus, perlu ada jerami. Setiap orang yang berbuat kebaikan untuk orang lain boleh meletakkan sehelai jerami pada palungan. Semakin banyak perbuatan baik, semakin banyak jerami. Sang bayi akan makin nyaman tidurnya beralaskan jerami empuk. Budi anak kedua mengumpulkan sejumlah banyak jerami bersama ibu. Charlie anak ke tiga paling kecil tetap tinggal di rumah. Setelah semua siap, dibuatlah gulungan kertas dengan nama masing-masing anak, dan kedua orang tua. Lima gulungan di atas meja. Ketika gulungan diambil dan dibuka, kepada nama yang tercantum di kertas itu perbuatan baik harus dilakukan. Rahasia tidak boleh bocor. Siapa membantu siapa tidak ada yang mengetahui. Mulai!
Hari demi hari ketika permainan ini mulai dijalankan, keajaiban demi keajaiban terjadi. Mainan yang tiba-tiba kembali ke tempatnya masing-masing. Tempat tidur yang tiba-tiba menjadi rapi. Bahkan Budi tiba-tiba mendapatkan buku pelajaran baru yang sangat dia butuhkan. Dapur tiba-tiba bersih. Tidak ada lagi minyak menempel pada kompor. Sempurna! Cucian menumpuk menjadi bersih. Seterikaan tiba-tiba lenyap dan masuk ke dalam lemari dengan rapi. Ketika masing-masing orang berpapasan, mereka saling pandang sejenak, dan sambil tersenyum melanjutkan kegiatan masing-masing. Terus setiap hari berjalan dengan baik. Namun, sesuatu terjadi menjelang malam Natal. Pagi hari ketika pengambilan gulungan kertas dimulai, tiba-tiba Adi berteriak keras, “Saya benci dengan permainan ini! Saya tidak perduli lagi dengan palungan dan jerami itu!” Adi kemudian berlari ke luar rumah tanpa jaket. Sementara salju turun cukup banyak di luaran. Udara sangat dingin waktu itu. Semua orang terhenyak. Apa yang terjadi? “Biarkan saya bicara dengan dia.” Kata ibu dengan lembut.
“Adi, apa yang terjadi? Kenapa kamu nampak begitu marah?”
“Ma…! Saya sungguh heran. Selama permainan ini, saya hampir selalu mendapatkan nama Charlie. Mama tahu kan, saya tidak suka dengan Charlie. Dia anak paling kecil yang manja dan malas!”
“Lalu?”
“Ya…saya sudah berusaha melakukan apa yang terbaik. Setiap kali mendapatkan namanya, saya kerjakan apa yang paling perlu untuk dia. Membereskan tempat tidurnya, merapikan semua mainannya, bahkan mengganti lampu belajarnya yang sudah mulai redup. Apa saja saya lakukan untuk dia. Tapi kenapa hampir selalu namanya yang muncul? Saya tidak suka dengan dia!”
“Ok kalau begitu. Biar ibu saja yang menyelesaikan tugasmu ini. Sekarang pulang dan istirahatlah.”
Pulanglah Adi bersama ibunya. Sementara jerami sudah bertumpuk indah di palungan. Tinggal dua jerami lagi tersimpan untuk Adi dan ibunya. Sesuai apa yang dijanjikan kepada Adi, maka ibu yang akan mengerjakan semuanya. Malam tiba, ibu mengerjakan pekerjaannya. Satu jerami dia tempatkan dalam palungan. Sekilas dia melihat bayangan Adi menuju kamar Charlie. Segera ditengoknya tempat jerami. Habis! Ibu tidak perlu lagi mengerjakan apa yang menjadi tugas Adi.
Natal kembali telah menghancurkan tembok pemisah permusuhan dan kebencian. Natal merangkul mereka yang berseteru menjadi sahabat. Natal memulihkan keutuhan keluarga, keluarga Allah.
Adi anak yang paling besar diminta membuat palungan. Sesudah jadi, untuk alas tidur sang bayi Yesus, perlu ada jerami. Setiap orang yang berbuat kebaikan untuk orang lain boleh meletakkan sehelai jerami pada palungan. Semakin banyak perbuatan baik, semakin banyak jerami. Sang bayi akan makin nyaman tidurnya beralaskan jerami empuk. Budi anak kedua mengumpulkan sejumlah banyak jerami bersama ibu. Charlie anak ke tiga paling kecil tetap tinggal di rumah. Setelah semua siap, dibuatlah gulungan kertas dengan nama masing-masing anak, dan kedua orang tua. Lima gulungan di atas meja. Ketika gulungan diambil dan dibuka, kepada nama yang tercantum di kertas itu perbuatan baik harus dilakukan. Rahasia tidak boleh bocor. Siapa membantu siapa tidak ada yang mengetahui. Mulai!
Hari demi hari ketika permainan ini mulai dijalankan, keajaiban demi keajaiban terjadi. Mainan yang tiba-tiba kembali ke tempatnya masing-masing. Tempat tidur yang tiba-tiba menjadi rapi. Bahkan Budi tiba-tiba mendapatkan buku pelajaran baru yang sangat dia butuhkan. Dapur tiba-tiba bersih. Tidak ada lagi minyak menempel pada kompor. Sempurna! Cucian menumpuk menjadi bersih. Seterikaan tiba-tiba lenyap dan masuk ke dalam lemari dengan rapi. Ketika masing-masing orang berpapasan, mereka saling pandang sejenak, dan sambil tersenyum melanjutkan kegiatan masing-masing. Terus setiap hari berjalan dengan baik. Namun, sesuatu terjadi menjelang malam Natal. Pagi hari ketika pengambilan gulungan kertas dimulai, tiba-tiba Adi berteriak keras, “Saya benci dengan permainan ini! Saya tidak perduli lagi dengan palungan dan jerami itu!” Adi kemudian berlari ke luar rumah tanpa jaket. Sementara salju turun cukup banyak di luaran. Udara sangat dingin waktu itu. Semua orang terhenyak. Apa yang terjadi? “Biarkan saya bicara dengan dia.” Kata ibu dengan lembut.
“Adi, apa yang terjadi? Kenapa kamu nampak begitu marah?”
“Ma…! Saya sungguh heran. Selama permainan ini, saya hampir selalu mendapatkan nama Charlie. Mama tahu kan, saya tidak suka dengan Charlie. Dia anak paling kecil yang manja dan malas!”
“Lalu?”
“Ya…saya sudah berusaha melakukan apa yang terbaik. Setiap kali mendapatkan namanya, saya kerjakan apa yang paling perlu untuk dia. Membereskan tempat tidurnya, merapikan semua mainannya, bahkan mengganti lampu belajarnya yang sudah mulai redup. Apa saja saya lakukan untuk dia. Tapi kenapa hampir selalu namanya yang muncul? Saya tidak suka dengan dia!”
“Ok kalau begitu. Biar ibu saja yang menyelesaikan tugasmu ini. Sekarang pulang dan istirahatlah.”
Pulanglah Adi bersama ibunya. Sementara jerami sudah bertumpuk indah di palungan. Tinggal dua jerami lagi tersimpan untuk Adi dan ibunya. Sesuai apa yang dijanjikan kepada Adi, maka ibu yang akan mengerjakan semuanya. Malam tiba, ibu mengerjakan pekerjaannya. Satu jerami dia tempatkan dalam palungan. Sekilas dia melihat bayangan Adi menuju kamar Charlie. Segera ditengoknya tempat jerami. Habis! Ibu tidak perlu lagi mengerjakan apa yang menjadi tugas Adi.
Natal kembali telah menghancurkan tembok pemisah permusuhan dan kebencian. Natal merangkul mereka yang berseteru menjadi sahabat. Natal memulihkan keutuhan keluarga, keluarga Allah.
28. Magnificat
Magnificat adalah nyanyian pujian Maria (Lukas 1:46-55). Ketika Maria mengunjungi Elizabeth, maka terjadilah hal-hal yang luar biasa disitu. Dan di rumah Elizabeth itulah kemudian Maria menyanyikan lagu-lagu pujian yang disebut magnificat. Dalam lagu itu paling tidak kita dapat menemukan tiga macam revolusi, oleh karena kemurahan dan kuasa Allah yang maha tinggi.
Pertama, “Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;…” ini merupakan revolusi moral. Manusia memang cenderung merasa lebih daripada yang lain. Kita ingat kisah menara Babel. Kita juga ingat manusia pertama, dengan iming-iming akan dapat menjadi seperti Allah, dilanggarlah apa yang sudah dilarang oleh-Nya. Manusia itu tinggi hati-congkak. Namun, di hadapat Kristus, kecongkakan itu akan hilang lenyap. Manusia yang sama ketika menerima Kristus dalam hatinya akan merunduk. Malu dan dan memukul diri. Kita ingat pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah sambil memukul dirinya. Ia menyadari keberdosaannya. Ia tidak lagi dapat bermegah karena dirinya sendiri namun karena kemurahan Allah yang berlaku atas dirinya.
Kedua, “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;….” Ini merupakan revolusi sosial. Kristus mengakhiri gengsi dan kesombongan duniasi. William Barclay menulis dalam bukunya sebuah kisah menarik: “Muretus adalah seorang sarjana abad pertengahan yang gemar berkelana. Ia miskin. Di suatu kota di Italia ia jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit. Dokter-dokter mendiskusikan tentang dia dalam bahasa Latin dan tidak menyangka kalau ia mengerti diskusi tersebut. Mereka mengusulkan, karena ia adalah seorang perantau yang sama sekali tidak berharga maka sebaiknya dipakai untuk obyek eksperimen pengobatan. Ia memandang mereka dan kemudian menjawab mereka dalam bahasa Latin juga, “Janganlah sebut seseorang tidak berharga karena Kristus telah mati untuknya.” Apabila kita telah menyadari untuk apa Kristus mati bagi seluruh umat manusia, maka tidak mungkin lagi kita mengatakan seorang manusia biasa. Tingkatan-tingkatan sosial telah ditiadakan.
Ketiga, “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;….” Ini merupakan revolusi ekonomi. Walaupun ada orang-orang yang begitu tamak dan cenderung memperkaya diri sendiri, kita yang menyebut diri Kristen selayaknya tidak hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri saja, tetapi juga kepentingan orang lain. Apa yang dikumpulkan bukan untuk diri sendiri saja, tetapi juga untuk dibagikan kepada orang lain.
Magnificat, nyanyian pujian Maria memang indah. Akan tetapi di dalamnya mengandung teguran bagi kita, bagaimana kita seharusnya berperilaku.
Pertama, “Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;…” ini merupakan revolusi moral. Manusia memang cenderung merasa lebih daripada yang lain. Kita ingat kisah menara Babel. Kita juga ingat manusia pertama, dengan iming-iming akan dapat menjadi seperti Allah, dilanggarlah apa yang sudah dilarang oleh-Nya. Manusia itu tinggi hati-congkak. Namun, di hadapat Kristus, kecongkakan itu akan hilang lenyap. Manusia yang sama ketika menerima Kristus dalam hatinya akan merunduk. Malu dan dan memukul diri. Kita ingat pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah sambil memukul dirinya. Ia menyadari keberdosaannya. Ia tidak lagi dapat bermegah karena dirinya sendiri namun karena kemurahan Allah yang berlaku atas dirinya.
Kedua, “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;….” Ini merupakan revolusi sosial. Kristus mengakhiri gengsi dan kesombongan duniasi. William Barclay menulis dalam bukunya sebuah kisah menarik: “Muretus adalah seorang sarjana abad pertengahan yang gemar berkelana. Ia miskin. Di suatu kota di Italia ia jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit. Dokter-dokter mendiskusikan tentang dia dalam bahasa Latin dan tidak menyangka kalau ia mengerti diskusi tersebut. Mereka mengusulkan, karena ia adalah seorang perantau yang sama sekali tidak berharga maka sebaiknya dipakai untuk obyek eksperimen pengobatan. Ia memandang mereka dan kemudian menjawab mereka dalam bahasa Latin juga, “Janganlah sebut seseorang tidak berharga karena Kristus telah mati untuknya.” Apabila kita telah menyadari untuk apa Kristus mati bagi seluruh umat manusia, maka tidak mungkin lagi kita mengatakan seorang manusia biasa. Tingkatan-tingkatan sosial telah ditiadakan.
Ketiga, “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;….” Ini merupakan revolusi ekonomi. Walaupun ada orang-orang yang begitu tamak dan cenderung memperkaya diri sendiri, kita yang menyebut diri Kristen selayaknya tidak hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri saja, tetapi juga kepentingan orang lain. Apa yang dikumpulkan bukan untuk diri sendiri saja, tetapi juga untuk dibagikan kepada orang lain.
Magnificat, nyanyian pujian Maria memang indah. Akan tetapi di dalamnya mengandung teguran bagi kita, bagaimana kita seharusnya berperilaku.
Tuesday, 21 December 2010
27. Apakah Sinterklas itu Ada?
Kisah ini tidak akan bercerita tentang Santo Nicholas, yang biasa disebut sebagai awal mula cerita Sinterklas. Kisah ini akan bercerita bahwa Sinterklas ada dimana-mana.
Pukul 18:00 tanggal 23 Desember 1961 William J. Lederer mencoba menulis sebuah cerita dalam perjalanannya dari New York menuju Los Angeles – di dalam pesawat yang dia tumpangi. Rumahnya ada di Honolulu. William sudah membayangkan bahwa esok hari ketika dia tiba di rumah, dia akan bercerita kepada anak-anak tetangganya. Topik yang diminta anak-anak adalah “Apakah Sinterklas itu ada?” Namun kondisi cuaca memang tidak dapat ditebak. Pada pukul 20:10 pilot mengumumkan bahwa bandara Los Angeles berkabut tebal. Tidak mungkin mendarat disana. Maka kemudian pilot memutuskan untuk mendarat di kota Ontario, California. Bandara darurat dekat dengan Los Angeles. Akhirnya pukul 3:12 pagi tanggal 24 Desember barulah pesawat dapat mendarat dengan mulus namun enam jam terlambat dari rencana. Penumpang pesawat semua kelelahan, dan jengkel. William juga sudah kehilangan minatnya untuk membuat cerita tentang Sinterklas.
Bandara Ontario pagi itu benar-benar hiruk pikuk. Semua penerbangan yang menuju Los Angeles mendarat disitu. Ribuan penumpang tumpah ruah. Mereka ingin memberi kabar kepada keluarga mereka, tetapi kantor pos sudah tutup. Antrian di telepon umum mengular sangat panjang. Para pegawai bandara kecil itu juga jadi sibuk luar biasa. Kelelahan mulai bergayut di wajah orang-orang yang berkeliaran disitu. Segalanya jadi tampak serba salah. Kopor bertumpuk begitu saja tanpa peduli tujuannya. Banyak orang kebingungan tidak tahu bis mana yang harus diambil untuk melanjutkan perjalanan. Bayi dan anak-anak menangis kedinginan dan kelaparan. Orang saling dorong berdesak-desakan. Sungguh tidak dapat dipercaya William harus hadir di tempat seperti itu – sehari sebelum hari Natal tiba!
Di tengah-tengah semua kemelut itu, tiba-tiba terdengar suara yang lembut, tenang, dan penuh kasih. Suara itu terdengar seperti lonceng gereja yang menyegarkan jiwa yang kalut. Seperti air sejuk di tengah padang pasir. William segera menoleh. Nampak olehnya seorang yang sudah cukup tua. Pendek, dengan perut buncit. Memakai jaket merah dan sepatu boot. “Jangan kuatir bu, kita akan segera menemukan barang-barang ibu dan menemukan bis yang tepat menuju La Jolla. Anda tidak akan terlambat.” Demikian si pemilik suara itu menghibur seorang ibu yang kebingungan.
Pria tua itu lalu membantu wanita tadi mencari kopor-kopornya sambil mendorong semacam gerobak yang cukup besar. Di dalam gerobak itu banyak terdapat barang-barang untuk dibagi-bagikan kepada mereka yang membutuhkan. Ada selimut, sarung tangan, susu hangat bahkan kopi panas. Ketika kopor perempuan itu sudah ditemukan, pria tua itu mengantarkan ke tempat bis, menyalami lalu melambaikan tangan. “Selamat Natal!” teriaknya. Ketika dia kembali, dia membagi-bagikan kopi panas kepada orang-orang disekitarnya yang nampak kedinginan. Williampun akhirnya membantu. Memberikan susu kepada anak yang kelaparan, menyelimuti anak yang tertidur di bangku panjang, membagikan permen coklat untuk menenangkan anak-anak dan banyak kegiatan lainnya.
Kris Kringle. Itulah nama si bapak tua. Dia begitu cekatan membantu banyak orang. Dia memang selalu di bandara itu ketika liburan musim dingin tiba. Bandara selalu dipenuhi orang yang kebingungan, kelaparan, kedinginan. Anak yang terlepas dari orang tuanya, bayi menangis dan banyak kesusahan lain. Kris Kringle selalu hadir, membantu, menghibur, menenangkan.
Ketika William sudah sampai waktunya untuk naik bis menuju Los Angeles, dia sempatkan diri berpamitan dengan pak tua Kris. Melambaikan tangan sambil berteriak “Selamat Natal bapak!! Sampai jumpa lagi!!” William tidak perlu lagi mengarang cerita untuk anak-anak tetangganya. William tidak perlu lagi menjawab pertanyaan “Apakah Sinterklas itu ada?” William sudah bertemu dengannya. Sinterklas ada dimana-mana. Mungkinkah salah satunya adalah kita?
Pukul 18:00 tanggal 23 Desember 1961 William J. Lederer mencoba menulis sebuah cerita dalam perjalanannya dari New York menuju Los Angeles – di dalam pesawat yang dia tumpangi. Rumahnya ada di Honolulu. William sudah membayangkan bahwa esok hari ketika dia tiba di rumah, dia akan bercerita kepada anak-anak tetangganya. Topik yang diminta anak-anak adalah “Apakah Sinterklas itu ada?” Namun kondisi cuaca memang tidak dapat ditebak. Pada pukul 20:10 pilot mengumumkan bahwa bandara Los Angeles berkabut tebal. Tidak mungkin mendarat disana. Maka kemudian pilot memutuskan untuk mendarat di kota Ontario, California. Bandara darurat dekat dengan Los Angeles. Akhirnya pukul 3:12 pagi tanggal 24 Desember barulah pesawat dapat mendarat dengan mulus namun enam jam terlambat dari rencana. Penumpang pesawat semua kelelahan, dan jengkel. William juga sudah kehilangan minatnya untuk membuat cerita tentang Sinterklas.
Bandara Ontario pagi itu benar-benar hiruk pikuk. Semua penerbangan yang menuju Los Angeles mendarat disitu. Ribuan penumpang tumpah ruah. Mereka ingin memberi kabar kepada keluarga mereka, tetapi kantor pos sudah tutup. Antrian di telepon umum mengular sangat panjang. Para pegawai bandara kecil itu juga jadi sibuk luar biasa. Kelelahan mulai bergayut di wajah orang-orang yang berkeliaran disitu. Segalanya jadi tampak serba salah. Kopor bertumpuk begitu saja tanpa peduli tujuannya. Banyak orang kebingungan tidak tahu bis mana yang harus diambil untuk melanjutkan perjalanan. Bayi dan anak-anak menangis kedinginan dan kelaparan. Orang saling dorong berdesak-desakan. Sungguh tidak dapat dipercaya William harus hadir di tempat seperti itu – sehari sebelum hari Natal tiba!
Di tengah-tengah semua kemelut itu, tiba-tiba terdengar suara yang lembut, tenang, dan penuh kasih. Suara itu terdengar seperti lonceng gereja yang menyegarkan jiwa yang kalut. Seperti air sejuk di tengah padang pasir. William segera menoleh. Nampak olehnya seorang yang sudah cukup tua. Pendek, dengan perut buncit. Memakai jaket merah dan sepatu boot. “Jangan kuatir bu, kita akan segera menemukan barang-barang ibu dan menemukan bis yang tepat menuju La Jolla. Anda tidak akan terlambat.” Demikian si pemilik suara itu menghibur seorang ibu yang kebingungan.
Pria tua itu lalu membantu wanita tadi mencari kopor-kopornya sambil mendorong semacam gerobak yang cukup besar. Di dalam gerobak itu banyak terdapat barang-barang untuk dibagi-bagikan kepada mereka yang membutuhkan. Ada selimut, sarung tangan, susu hangat bahkan kopi panas. Ketika kopor perempuan itu sudah ditemukan, pria tua itu mengantarkan ke tempat bis, menyalami lalu melambaikan tangan. “Selamat Natal!” teriaknya. Ketika dia kembali, dia membagi-bagikan kopi panas kepada orang-orang disekitarnya yang nampak kedinginan. Williampun akhirnya membantu. Memberikan susu kepada anak yang kelaparan, menyelimuti anak yang tertidur di bangku panjang, membagikan permen coklat untuk menenangkan anak-anak dan banyak kegiatan lainnya.
Kris Kringle. Itulah nama si bapak tua. Dia begitu cekatan membantu banyak orang. Dia memang selalu di bandara itu ketika liburan musim dingin tiba. Bandara selalu dipenuhi orang yang kebingungan, kelaparan, kedinginan. Anak yang terlepas dari orang tuanya, bayi menangis dan banyak kesusahan lain. Kris Kringle selalu hadir, membantu, menghibur, menenangkan.
Ketika William sudah sampai waktunya untuk naik bis menuju Los Angeles, dia sempatkan diri berpamitan dengan pak tua Kris. Melambaikan tangan sambil berteriak “Selamat Natal bapak!! Sampai jumpa lagi!!” William tidak perlu lagi mengarang cerita untuk anak-anak tetangganya. William tidak perlu lagi menjawab pertanyaan “Apakah Sinterklas itu ada?” William sudah bertemu dengannya. Sinterklas ada dimana-mana. Mungkinkah salah satunya adalah kita?
Subscribe to:
Posts (Atom)