Selamat Datang

Salam damai sejahtera dari kami untuk para pembaca sekalian. Blog ini mulai kami buat di awal tahun 2010 dengan tema Melangkah Bersama Tuhan. Nama Blog ini sesuai dengan harapan dan komitmen kami untuk menjalani tahun 2010 bersama dengan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan manusia sebagai umat kemuliaan-Nya.

Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.

Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.

Salam dari kami,

Julianto Djajakartika

Tuesday, 19 January 2010

Dengan Segenap Hati

Tidak ada yang lebih sulit dan lebih mahal, tetapi juga tidak ada yang lebih sia-sia, selain mencoba mempertahankan bangkai agar tidak membusuk. (The Daily Drucker, Peter F. Drucker dan Joseph A. Maciariello, hal. 7). Dengan tulisannya itu Drucker hendak mengatakan bahwa banyak hal dalam sebuah organisasi tidak dapat bertahan selamanya. Perlahan namun pasti sebuah sistem akan menurun efektivitasnya dan produk yang dihasilkan akan berkurang peminatnya, dan akhirnya keduanya akan mati lalu membusuk. Usaha untuk mempertahankan pembusukan adalah hal yang sia-sia dan membuang-buang biaya saja. Dengan tulisannya itu Drucker menghimbau agar sebuah organisasi dapat meninggalkan dengan segenap hati sistem yang sudah gagal, dan juga produk yang sudah habis masa kejayaannya.

Senada dengan ilustrasi di atas, kita manusia juga selayaknya meninggalkan dengan segenap hati berbagai hal yang mulai membusuk. Secara normal, tubuh akan membuang banyak zat dan sisa-sisa pembakaran keluar dari tubuh. Buang air kecil, buang air besar, berkeringat, bahkan bernafas pun adalah cara-cara tubuh membuang zat yang tidak berguna, yang akan meracuni bila dibiarkan tetap di dalam tubuh. Ada banyak hal lain yang lebih abstrak yang tinggal di dalam hati, yang juga mudah, mulai atau bahkan sudah membusuk. Saya jadi teringat satu cerita seorang guru taman kanak-kanak yang meminta muridnya untuk membawa kentang. Kemudian pada satu kentang dituliskan nama orang yang dimusuhi. Semakin banyak orang yang tidak disukai, semakin banyak kentang yang dibawa dalam kantong plastik. Murid-murid kemudian diminta menyimpan kentang-kentang itu selama satu bulan. Pada akhir bulan, ketika anak-anak membawa kentang mereka ke sekolah, banyak anak yang mengeluh karena bau busuk yang keluar dari kantong plastik. Itulah sebuah pelajaran baik bagi anak-anak. Buang dengan segenap hati apapun yang membuat hati kita menjadi busuk. Termasuk di dalamnya adalah dosa-dosa.

Masih dengan segenap hati, Yesus pernah memerintahkan “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Mat. 22:37). Ya! Mengasihi Allah juga harus dengan segenap hati. Yesus pernah menasehatkan juga bahwa kita tidak dapat mengasihi Allah dan pada saat yang bersamaat menyembah mamon. Mengasihi Allah dengan segenap hati akan memampukan kita untuk berubah ke arah yang positif dan pada akhirnya segala kebusukan dalam hati pun dapat disingkirkan jauh-jauh.

Tuesday, 12 January 2010

Berubahlah!

Apakah Anda pernah membaca buku Who Moved My Cheese? Karya Spencer Johnson, M.D.? Atau buku Our Iceberg Is Melting tulisan John Kotter? Dua-duanya bicara mengenai perubahan dan bagaimana menyikapi atau bahkan mengantisipasikannya. Ya! Sebuah organisasi harus berubah. Agar organisasi berubah, maka setiap individu di dalamnya juga harus berubah. Mengapa sebuah organisasi harus berubah? Biasanya karena tuntutan pasar. Untuk mempertahankan profit yang optimal, organisasi harus mengikuti tuntutan pasar, atau bila memungkinkan menciptakan pasar. Disamping itu, memang tidak ada kegiatan yang berlaku selamanya. Drucker pernah berkata, “Semua organisasi perlu mengetahui bahwa tidak ada program atau aktivitas yang akan bekerja secara efektif dalam jangka panjang tanpa adanya modifikasi atau desain ulang. Pada akhirnya setiap aktivitas akan menjadi usang.” (The Daily Drucker, Peter F. Drucker dan Joseph A. Maciariello, hal. 6).

Itu organisasi. Bagaimana halnya dengan orang? Apakah seorang individu tunggal juga perlu berubah? Tentu saja! Pertama-tama karena dia tidak sendirian, sehingga ketika segala sesuatu di sekitarnya berubah, maka diapun harus menyesuaikan diri (baca: berubah) agar dia tetap hidup. Kedua, ada tuntutan psikis dalam diri seseorang agar dia menjadi manusia dewasa. Psikis! Bukan hanya fisiknya saja yang dewasa. Seorang manusia normal pasti berkembang secara fisik, namun perkembangan psikis sedikit banyak harus difasilitasi oleh orang lain, terutama oleh kedua orang tuanya. Kedewasaan psikis seseorang ditandai dengan kemampuannya untuk mengambil tanggungjawab atas segala perbuatannya. Dia juga mampu memberikan kontribusi yang positif kepada lingkuangan di sekitarnya. Dia mampu mengembangkan dirinya sendiri dan membantu orang lain untuk berkembang. Manusia dewasa dapat berkomunikasi secara efektif dan hidup nyaman dengan orang lain. Terakhir, dia mampu membedakan dengan pasti apa yang baik dan benar untuk dilakukan dalam kehidupannya.

Ketiga, ada tuntutan rohani agar seorang manusia juga menjadi dewasa dalam hidup rohani dan spiritualitasnya. Kedewasaan rohani adalah kehidupan yang sesuai dengan panggilannya sebagai manusia yang membawa gambar Allah. Rasul Paulus banyak memberi nasehat perihal perubahan budi (Roma 12:2) sampai menjadi sama dengan gambar Allah yang mula-mula ketika manusia pertama kali diciptakan (2 Kor. 3:18, Ef. 4:24, Kol 3:10).

Bagaimana kita “mengawasi” perubahan itu agar tidak menjadi liar dan memakan korban orang lain maupun diri sendiri? Satu hal yang paling penting yang mampu menjadi pengikat maupun rem dalam menjalani perubahan adalah: kasih. Selalu kenakanlah kasih dalam menjalani perubahan maupun ketika kita meminta, mengharapkan orang lain untuk berubah agar kita tidak menjadi canang yang gemerincing (1 Kor. 13:1). Kasih melebihi tuntutan kesempurnaan hidup.

Sunday, 10 January 2010

Tirai Itu Telah Terbuka

Dengan berakhirnya suara kenabian Maleakhi, tirai telah ditutup. Tidak ada lagi nabi yang hadir. Tuhan seakan telah pergi. Umat Tuhan itu hidup dalam zaman kegelapan selama lebih dari 400 tahun.

**********

Bayangkan seolah-olah kita sedang menonton bioskop. Ketika film telah selesai, layar pun ditutup. Tidak ada lagi suara tangisan, tidak ada lagi suara tertawa. Tidak terlihat lagi anak-anak lincah meoncat-loncat. Tidak nampak lagi muda-mudi bergembira, berpesta merayakan ulang tahun. Terang lampu yang dinyalakan justru memaksa kita untuk beranjak dari tempat duduk dan pergi. Layar sudah tertutup. Kehidupan yang sebelumnya ada di balik layar sudah selesai…..

Bayangkan kehidupan kita tanpa orang lain yang dapat diajak bicara. Semua hadir bersama, namun sama sekali tidak ada interaksi emosional. Orang tua membiarkan anak-anaknya terjerumus. Kakak membiarkan adiknya merampok dan membunuh. Tidak ada polisi. Aturan tidak pernah ditaati. Hukum lumpuh. Kehidupan manusia berubah menjadi seperti binatang. Lahir, besar, kawin lalu mati. Berganti pasangan, sex bebas, narkoba. Hidup tanpa makna dan tujuan yang jelas. Hukum moral telah kehilangan giginya……..

Bayangkan kehidupan kita tanpa Gereja. Tanpa pendeta yang melayankan Firman Tuhan. Tanpa gembala tempat bertanya dan mengadu. Segalanya gelap. Tuhan tidak menampakkan diri-Nya lagi. Tidak ada seorang pun yang dapat mendengar suara-Nya. Tidak ada yang mampu berkata-kata atas nama-Nya. Tidak ada nasehat, tidak ada teguran, tidak ada penghiburan…….

**********
Perjanjian itu seolah-olah telah dilupakan, ditinggalkan. Tepatlah teriakan pemazmur: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.

**********
Allah sering menyebut bangsa Israel sebagai bangsa yang tegar tengkuk. Mereka bandel. Mereka sering diingatkan, bahkan diperingatkan, namun tetap melawan kehendak-Nya. Mereka lupa bahwa Allah hidup dan tidak pernah lengah dan tertidur. Keinginan hati mereka adalah memuaskan kehendaknya sendiri saja.

Abraham yang disebut bapa orang percaya pun lupa akan janji Allah. Dalam kegalauannya tanpa keturunan akhirnya menuruti nasehat isterinya agar berhubungan dengan Hagar, seorang pembantu perempuan isterinya. Memang kemudian lahir seorang anak laki-laki, Ismael. Namun bukan dengan cara itu Allah ingin membangun umat-Nya.

Bangsa ini lupa bahwa Allah dengan kekuatan-Nya yang luar biasa telah melepaskan mereka dari cengkeraman orang Mesir. Bangsa ini lupa akan tanah perjanjian yang telah disediakan oleh Allah sendiri bagi mereka. Maka ketika pemimpin mereka naik gunung untuk berbicara dengan Tuhan, di bawah mereka membuat anak lembu emas, dan menyembahnya.

Ketika tanah perjanjian itu sudah di depan mata pun bangsa ini lupa akan janji Allah. Para utusan yang diminta melihat sendiri kota dan tanah itu memberikan laporan yang membuat seluruh bangsa ciut dan kecil hatinya. “Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah Tuhan membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?” Demikian mereka berteriak dan menangis. Maka berputar-putarlah mereka selama 40 tahun, sesuai permintaan mereka sendiri agar mati di padang gurun itu!

Saul raja pertama bansa itu pun lupa diri sehingga akhirnya mati bunuh diri! Daud raja yang sangat dihormati juga lupa akan siapa dirinya sehingga merencanakan pembunuhan demi seorang perempuan. Salomo, anak Daud meskipun menjadi raja yang sangat bijaksana namun juga lupa diri. Dia tidak bijaksana mengelola libido dan hartanya, sehingga banyaklah isterinya yang diambil dari negara-negara lain, dan lihat betapa borosnya dia membelanjakan hartanya. Ketika kemudian kerajaan itu terpecah menjadi dua bagian, dan mengalami pembuangan ke Babel, Allah masih terus mengirimkan nabi-nabi Nya untuk mengingatkan bangsa itu. Namun dalam ketegartengkukan mereka, sebentar ingat, sebentar lupa lagi hingga habis suara nabi terakhir perjanjian lama yang masih mengumandangkan sebuah janji “Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.”

**********

Dengan berakhirnya suara kenabian Maleakhi, tirai telah ditutup. Tidak ada lagi nabi yang hadir. Tuhan seakan telah pergi. Umat Tuhan itu hidup dalam zaman kegelapan selama lebih dari 400 tahun.

**********

Maka tidak heranlah ketika berita kelahiran itu diwartakan, sukacita menggelegak di kota itu. Para gembala dan raja-raja dari Timur pun datang menjenguk. Emas, mur dan kemenyan menjadi hadiah sangat berarti bagi sang bayi beserta orang tuanya. Bayi itu adalah sebuah harapan baru. Kelahiran-Nya membawa janji yang baru, membawa kehidupan baru. Tirai yang tertutup itu telah terbuka kembali. Kehidupan telah kembali.
Selamat Natal!

Say It with Tofu

Siang hari, sebelum saya mulai menyantap makan siang saya, tiba-tiba saya mendapat ide untuk memotret bekal makan siang seperti gambar di samping, dan saya bagikan kepada teman-teman yang mampu menangkap gambar melalui handphone-nya. Saya memberi judul gambar itu “Makan sehat, makan hemat. Bekal dari garwo.” Sesudah teman-teman menerima gambar tersebut, terjadilah dialog singkat melalui short message service demikian:

Teman 1: 4 sehat, yang ke 5 susunya mana ga nampak biar sempurna, garwo pinter masak juga.

Saya: Lho iya. Garwo kita berdua ini sering tuker ilmu. Hehehe

Teman 2: Garwo isteri? Yummy bener tuh

Saya: Garwo itu singkatan dari sigarane nyowo, Indonesianya belahan jiwa. Dalam konteks foto betul itu masakan isteri…..

Teman 2: Wah hebat ni.. Bukan hy garwo isteri tp jg suami.. Ga cari jajanan makanan lain. Org yg liat bisa aj usil kok tahu doang.. Pdhl inilah menu sehat.. Plus sempurna bukan karena susu melainkan krn disyukuri dg kasih yg Tuhan beri.

Saya: Ya. Bersyukur atas anugerah Tuhan yg sdh memberi bukan hanya makanan terlebih seorang isteri…sy pikir itu makna terdalam penciptaan Hawa…

Teman 2: Setiap hari y Pak? Buat tulisan dong… “Say it with Tofu”

Saya: Diusahakan bgt. Bahkan ketika ngantuk krn tidur terlalu malam mengerjakan editing buletin Mercu, berusaha bangun pagi2 agar bisa masak. Namun kadang tubuh yg mulai tua pun ada batasnya….

Say it with Tofu mau mengatakan bahwa makanan dari rumah yang dimasak sendiri adalah jauh lebih sehat dan higienis.

Say it with Tofu mau mengatakan bahwa masakan dari rumah yang dimasak sendiri jauh lebih hemat. Makan siang di kawasan tempat saya bekerja sekitar Rp 15 ribu sampai Rp 18 ribu sekali makan. Uang dengan jumlah segitu, bisa untuk 3x makan bila dimasak sendiri.

Say it with Tofu mau mengatakan bahwa bahasa kasih seorang manusia tidak harus melalui perkataan, cukup dengan menyiapkan bekal makan siang.

Allah Menciptakan Manusia

“Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.” Mazmur 8:4-9.

Kemuliaan Manusia
Seluruh rangkaian penciptaan adalah untuk kehidupan manusia. Manusia sebagai mahluk yang utama, yang mulia bukan karena kodratnya, tetapi karena ada rencana dan kehendak Allah di dalamnya.

Gambar Allah
Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Kata gambar ini dipakai dalam arti kopi atau model. Jadi manusia diciptakan menyerupai atau mirip dengan Allah. Keberadaan Allah sebagai Allah menjadi model keberadaan manusia sebagai manusia. Allah yang pengasih dan pengampun, maka manusiapun seharusnya pengasih dan pengampun. Allah yang adil dan bijaksana, maka manusiapun selayaknya adil dan bijaksana.

Gambar Allah itu harus diwujudkan dalam panggilan hidupnya sebagai manusia melalui relasinya dengan Allah, dengan sesama dan dengan alam semesta. Dengan demikian, panggilan hidup untuk selalu memelihara hubungan yang akrab, harmonis dan penuh kasih memang harus mewujud terhadap Sang Khalik, terhadap sesama kita; apakah itu tetangga, saudara, suami, isteri, anak-anak; juga terhadap alam semesta di sekitar kita. Kekerasan baik di dalam maupun di dalam rumah tangga, eksploitasi alam besar-besaran sehingga merusak keseimbangan tentu bukan wujud dari gambar Allah yang tertanam dalam diri kita. Atau dengan kata lain, gambar Allah tidak mewujud di luar relasi dengan Allah, sesama dan alam semesta yang baik dan harmonis. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah kita sudah mewujudkan gambar Allah yang sejati atau tidak? (Catatan: walaupun manusia segambar dengan Allah, ada bagian yang tidak boleh disentuh oleh manusia. Pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat ini salah satu contoh dan simbol “bagian yang terlarang” untuk manusia. Manusia harus mengakui keterbatasannya sebagai manusia. Pengakuan ini sekaligus adalah hak dan kebebasan manusia untuk mengakui Allah dengan segala kelebihan-Nya yang tidak dimiliki oleh manusia. Ketika kemudian manusia ingin menjadi seperti Allah, dan menyentuh bagian yang terlarang, dia jatuh ke dalam dosa).

Memang oleh karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, gambar itu mulai rusak, namun demikian Yesus sebagai gambar yang baru (Kolose 1:15) sudah memulihkan dan memperbaiki sehingga kita menjadi segambar dengan Dia kembali (2 Kor. 3:18; Ef. 4:24; Kol 3:10). Gambar ini adalah hakekat manusia yang tidak dapat berubah yaitu: pikiran, kehendak dan kepribadian. Semuanya tetap ada selamanya dan semua menunjuk kepada gambar baru Yesus Kristus: memiliki pikiran Kristus, mempunyai kehendak seperti Kristus dan berkepribadian sama dengan Kristus.

Debu Tanah
Debu tanah atau adamah (nama Adam juga diambil dari kata itu) atau basar (daging) menunjuk kepada kefanaan. Yesaya 40:6-7 mengungkapkan bahwa sebetulnya manusia itu bukan apa-apa. Dia seperti bunga di padang atau rumput kering. Segera layu dan dibakar habis. Kodrat manusia adalah dalam kefanaan, kecuali Allah memberikan kehidupan kepadanya. Pengertian basar (daging) bukan menunjuk pada keduniawian pada dirinya sendiri, tetapi keduniawian DI HADAPAN Allah yang hidup. Artinya kualitas hidup manusia ditentukan ketika DIPERHADAPKAN dengan Allah. Keberdosaan bukanlah karena kondisi kedagingan manusia itu sendiri, tetapi bila kedagingan itu telah menjadi tujuan hidup manusia. Paulus dalam Galatia 5:19-21 telah mencoba membuat daftar singkat kedagingan yang merupakan wujud keberdosaan manusia: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Kemudian dengan jelas sekali lagi Paulus mengingatkan dalam Galatia 6:8 “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu”.

Nafas Hidup
Nafas hidup atau nefsy adalah dari Allah sendiri. Dari sintesa kedua hal ini dapat diartikan bahwa walaupun manusia memiliki kodrat kefanaan, namun memiliki keterarahan kepada yang abadi, yang kudus, Tuhan sendiri. Tanpa Tuhan yang menghidupkan manusia akan tetap sebagai debu. Fana. Mati.

Manusia Perempuan dan Manusia Laki-laki
Dikatakan bahwa manusia perempuan diciptakan dari tulang rusuk manusia laki-laki. Kisah ini jelas bukan info medis. Seperti bahwa Alkitab sendiri memang bukan buku teknik atau buku sejarah. Kisah penciptaan perempuan dalam hubungannya dengan laki-laki ingin mengungkapkan makna iman bahwa: laki-laki dan perempuan ada dalam keterjalinan yang sempurna lahir, batin, jasmani, rohani. Perempuan merupakan bagian penting dalam hidup laki-laki, laki-laki akan utuh dalam relasinya dengan perempuan. Oleh karena itu, sikap iman yang benar adalah menempatkan hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai wujud anugerah Allah. Dengan demikian, maka dapat diyakini bahwa perkawinan memiliki nilai sakral. Pemberkatan perkawinan di gereja tidak boleh dianggap main-main saja. Penciptaan laki-laki dan perempuan juga membawa suatu kodrat yang unik, yaitu menjadi seorang bapa dan seorang ibu. Oleh karenanya, tumbuh kembang manusia dari usia bayi harus diarahkan kepada kodratnya masing-masing. Perbedaan yang terjadi antara manusia laki-laki dan manusia perempuan bukanlah perbedaan derajat. Mereka berbeda namun tetap setara. Berbeda namun saling melengkapi. Alkitab menyebutnya sebagai SEPADAN. Seseorang pernah menulis “Woman was made from the rib of man, she was not created from his head to top him, nor from his feet to be stepped upon. She was made from his side to be close to him. From beneath his arm to be protected by him. Near his heart to be loved by him.” Namun demikian, keutuhan atau kepenuhan persekutuan manusia laki-laki dan manusia perempuan barulah sempurna ketika mereka berelasi juga dengan Tuhan yang menciptakan mereka berdua.

Tugas Mulia
Kini kita mengerti bahwa pemuliaan manusia menuntut tugas mulia juga. Tugas-tugas itu secara individual adalah untuk memuliakan Sang Pencipta. Dia yang memberi kehidupan, dan yang menghidupi manusia, hanya Dia sajalah yang patut untuk dimuliakan. Manusia dalam hidupnya haruslah mencerminkan kemuliaan dan keagungan Tuhan Sang Pencipta.

Secara fungsional manusia diminta untuk menguasai alam semesta, baik tumbuh-tumbuhan, binatang darat maupun binatang di laut. Sekali lagi perlu diingat bahwa menguasai bukan berarti menghabiskan untuk kesenangan diri sendiri, namun memelihara agar alam mampu menghidupi manusia itu sendiri selama-lamanya. Fungsi lain adalah agar manusia hidup berkeluarga dan tinggal dalam keluarga, berkembang biak dan memenuhi bumi. Kesempatan untuk membentuk sebuah keluarga dengan atau tanpa memiliki keturunan adalah sebuah anugerah dari Allah sendiri. Ada juga fungsi ekonomi. Manusia diberi hidup yang berkecukupan. Ya. Cukup. Tidak lebih, tidak kurang. Segala sesuatu yang menunjang kehidupannya telah disediakan oleh Allah. Memang kecukupan itu harus diupayakan, namun demikian kecukupan itu berasal dari Allah juga. Fungsi ke empat adalah fungsi relasional. Manusia hidup berelasi dengan sesamanya dan saling menolong. Kebudayaan sebagai hasil relasi intensif antar manusia juga merupakan wujud dari fungsi yang sudah diberikan Allah kepada umat manusia.

Allah Menciptakan Langit dan Bumi

Prakata
Seri tulisan pembinaan yang muncul dalam rubrik Benih yang Tumbuh ini akan menggunakan acuan utama buku Tuhan, Ajarlah Aku (TAA) tulisan pdt. Yohanes Bambang Mulyono, Sth., dan diterbitkan oleh Badan Pekerja Majelis Sinode GKI (W) Jawa Timur.

Tulisan asli dalam buku TAA mengenai kisah penciptaan dibuat dalam satu bab utuh (Bab I). Namun demikian, karena esensi yang berbeda antara kisah penciptaan langit dan bumi dengan kisah penciptaan manusia; dan akan menjadi terlalu panjang bila ditulis dalam satu artikel, dengan sengaja penulis pisahkan menjadi dua tulisan. Tulisan pertama berjudul Allah Menciptakan Langit dan Bumi sedangkan tulisan kedua berjudul Allah Menciptakan Manusia.

Alkitab dan Tujuan Penulisan Kitab Kejadian (Kisah Penciptaan)

Perlu ditekankan pertama-tama, bahwa Alkitab bukanlah buku karya ilmiah. Oleh karena itu dalam melakukan penafsiran kisah penciptaan, bahkan dalam menafsirkan seluruh Alkitab haruslah alkitabiah. “Alkitabiah dalam arti bahwa kita harus menghormati Alkitab sebagai kitab yang bersifat religius (keagamaan). Atau Alkitab sebagai kitab yang memuat kumpulan kesaksian iman orang-orang percaya kepada Tuhan Allah.” (TAA-hal. 27). Karena sifatnya yang seperti itu, maka kita tidak perlu memusingkan misalnya umur bumi sebenarnya menurut Alkitab (yang bila dihitung baru berapa ribu tahun), sementara ilmu pengetahuan moderen mengatakan bahwa bumi sebetulnya sudah berjuta tahun umurnya.

Karena sifatnya itu pula maka Alkitab sebagai kumpulan kesaksian iman dalam sejarah para penulisnya berfungsi untuk menyampaikan karya penyelamatan Allah dan kehendak-Nya. Dalam kerangka inilah Alkitab kita percayai sebagai firman Allah.

Dalam bab 1 sampai 11 Kitab Kejadian, kita menemui buah pemikiran bangsa Israel tentang asal usul sejarah bangsa itu sendiri. Sebetulnya sejarah bangsa Israel dimulai dari pemanggilan Abraham dari tengah-tengah bangsa kafir. Namun para penulis kitab Kejadian tidak berhenti sampai disitu saja. Dengan bantuan Roh Kudus mereka terus merenung. Mengapa Abraham dipanggil? Agar karya keselamatan Allah dapat diberitakan dan dirasakan oleh seluruh umat manusia. Mengapa manusia perlu diselamatkan? Karena mereka telah jatuh ke dalam dosa. Kalau begitu, kapankah manusia jatuh dalam dosa? Disinilah kitab Kejadian dan khususnya kisah penciptaan kemudian mulai ditulis.

Bila kita mengingat kembali pengakuan Iman Rasuli kalimat pertama yang berbunyi “Aku percaya kepada Allah, Bapa di sorga, Khalik langit dan bumi..” kita mengakui bahwa memang Allahlah yang menciptakan langit dan bumi. Sejalan dengan itu, kalimat pertama dalam Alkitab kita berbunyi “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” juga kita percayai merupakan pengakuan iman bangsa Israel waktu itu. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa tujuan penulisan kitab Kejadian, khususnya kisah penciptaan ini adalah agar manusia pada jamannya menaruh iman dan harapan mereka sepenuhnya kepada Allah saja. Sebab hanya Allah saja yang sanggup melakukan penciptaan langit dan bumi. Pengakuan itu, adalah sebuah langkah iman yang besar. Walaupun dalam keseharian kehidupan kita melihat dunia ini begitu ruwet, jahat dan tidak harmonis, namun dengan iman kita percaya Allah menciptakan semua itu baik adanya. Dan Dia yang mencipta tetap setia untuk memelihara dan memerintah seluruh ciptaannya sampai pada waktunya segalanya akan dipulihkan kembali menjadi langit dan bumi yang baru.

Makna Kisah Penciptaan
Makna kisah penciptaan di Kejadian 1:1 – 2:4a yang utama adalah ketertiban. Ketertiban ini nampak pertama dengan digunakannya hitungan harian, persis sama dengan yang digunakan umat Yahudi pada waktu itu. Allah bekerja selama enam hari dan kemudian beristirahat pada hari yang ke tujuh.

Kedua, ketertiban ini muncul dengan latar belakang kekacauan. Saat itu bumi belum berbentuk, kosong, gelap gulita. Namun setahap demi setahap Allah mulai menjadikan bumi, yang kosong berisi, terang mengalahkan kegelapan, samudera raya diberi tempatnya masing-masing, dan bumi dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia.

Ketertiban ketiga nampak dalam urut-urutan ciptaan yang saling berhubungan. Misalnya pada hari pertama Allah menciptakan terang, maka pada hari ke 4 diciptakanlah benda-benda penerang. Pada hari ke 2 Allah memisahkan air yang di atas cakrawala dan air yang di bawah cakrawala, maka pada hari ke 5 Allah menciptakan burung-burung yang beterbangan melintasi cakrawala dan ikan-ikan yang berkeriapan di laut. Begitu seterusnya seperti dalam daftar relasi di bawah ini:

Urutan berdasarkan hari penciptaan
(1) terang ---------- (4) benda-benda penerang
(2) cakrawala (air atas/bawah) ---------- (5) burung dan ikan
(3) laut, darat, tumbuhan ---------- (6) binatang darat dan manusia

Sementara ke 8 hasil ciptaan pun bila kita susun secara berjajar akan nampak keharmonisan masing-masing ciptaan tersebut seperti terlihat pada daftar di bawah ini:

Urutan berdasarkan hasil ciptaan (8 macam)
(1) terang ---------- (5) matahari, bulan, bintang
(2) cakrawala ---------- (6) burung, ikan
(3) daratan, lautan ---------- (7) binatang darat
(4) tumbuh-tumbuhan ---------- (8) manusia

Ketertiban ke 4 nampak dari garis lurus penciptaan yang berujung pada penciptaan manusia. Bumi diciptakan sedemikian rupa agar manusia dapat hidup dan berkembang biak. Manusia nampaknya memang tujuan atau puncak penciptaan itu sendiri (mengenai makna penciptaan manusia akan penulis bahas pada artikel ke dua).

Seperti sudah disinggung pada pembahasan mengenai tujuan penciptaan, akhirnya ketertiban itu nampak pada ungkapan penulis kitab Kejadian bahwa semua ciptaan adalah baik adanya. Dengan demikian, penulis kisah penciptaan telah menegaskan bahwa segala kekacauan, segala kejahatan dan ketidakbaikan bukan berasal dari Allah. Jika itu ada dan terjadi pada saat ini, maka bukan Allah yang harus dipersalahkan.

Selain ketertiban, makna lain dari kisah penciptaan adalah keselarasan atau harmoni. Penulis kisah penciptaan sengaja menggunakan hari-hari yang biasa agar nampak bahwa karya Allah dalam penciptaan adalah karya yang sempurna. Karya yang sudah lengkap, sudah selesai. Selain daripada itu, urut-urutan penciptaan menunjukkan bahwa Allah mencipta dengan perencanaan (program kerja) yang baik. Kisah penciptaan di Kejadian 2:4b-25 lebih berpusat pada penciptaan manusia. Oleh karena itu pembahasan mengenai hal ini akan lebih banyak pada tulisan ke dua.

Ciptaan Bukan untuk Disembah
Kalau Injil dimengerti sebagai kabar baik, maka pemberitaan bahwa Allahlah Pencipta langit dan bumi adalah Injil. Seperti kita ketahui dari jaman dahulu bahkan sampai sekarang masih ada kepercayaan bahwa pohon tertentu ada yang menunggu. Atau batu tertentu adalah sakti, dan oleh karena itu baik pohon maupun batu harus disembah agar memberikan kebaikan bagi manusia. Kepercayaan animisme, dinamisme seperti itu tidak berlaku apabila kita mengakui bahwa mereka semua adalah ciptaan, dan hanya ciptaan (termasuk manusia). Mereka tidak layak untuk disembah, manusia juga tidak (band. Dengan kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego). Hanya Allah Bapa di sorga khalik langit dan bumi yang layak menerima sembah sujud kita semua.

Safety First

Pagi hari ketika jalanan macet di tol japek, terlihat banyak sekali bis yang berjalan perlahan. Pada beberapa bis tersebut terdapat tulisan “Safety dulu baru fulus”. Memang saya lihat mereka adalah bis yang tidak “ngejar setoran”. Sehingga di jalan raya dalam keadaan macet juga nampak sopan, tidak grusa-grusu. Bandingkan dengan Metromini atau angkot yang senantiasa mencari penumpang dengan cara yang kadang sungguh menjengkelkan dan terlebih membahayakan.

Saya jadi teringat pepatah jaman dulu, biar lambat asal selamat. Saat ini jika kalimat itu diucapkan, tentu akan ada yang menentang dengan keras, kalau bisa cepat kenapa mesti lambat. Mereka lupa bahwa apa yang dimaksud pepatah itu adalah bahwa faktor keselamatan jauh lebih penting daripada kecepatan. Faktor keselamatan adalah hal yang utama dalam bekerja.

Saya tidak tahu pasti, kenapa perlahan tapi pasti faktor keselamatan dalam bekerja ini sedikit demi sedikit tergeser dengan faktor lain, seperti kecepatan, profit, produktivitas dan sebagainya. Dugaan saya adalah karena pengaruh modernisasi (baca kapitalisme) dan perkembangan teknologi. Manusia digantikan dengan mesin yang mampu bekerja tanpa mengenal lelah. Kalau manusia tidak mau bekerja seperti mesin, maka pemodal akan menggantikannya dengan mesin, sehingga mereka akan kehilangan pekerjaan. Pemodal yang sudah mengeluarkan modal cukup besar, akan mengejar profit sebesar-besarnya agar modal segera tertutup. Ini dugaan saja. Tak heran ketika saya menyodorkan satu lembar pertanyaan kepada calon karyawan dengan salah satu pertanyaan berikan urutan prioritas antara: produktivitas, profit, keselamatan kebanyakan calon menempatkan faktor keselamatan paling akhir. Maka kemudian terpaksa saya coret mereka menjadi karyawan sebab akan “membahayakan” orang lain dan perusahaan.