Selamat Datang

Salam damai sejahtera dari kami untuk para pembaca sekalian. Blog ini mulai kami buat di awal tahun 2010 dengan tema Melangkah Bersama Tuhan. Nama Blog ini sesuai dengan harapan dan komitmen kami untuk menjalani tahun 2010 bersama dengan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan manusia sebagai umat kemuliaan-Nya.

Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.

Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.

Salam dari kami,

Julianto Djajakartika

Monday, 21 December 2015

Sembarangan

SEMBARANGAN. Waktu saya masih kecil saya diajar bahwa menyebut nama Allah dengan sembarangan adalah saat kita mengucapkan sumpah kosong atas nama-Nya, atau latah menyebut nama-Nya begitu saja. Itu juga yang masih saya ingat hingga sekarang. Namun beberapa hari lalu, dalam sebuah renungan, saya mendapatkan contoh yang lain. Saat saya menggunakan nama Allah demi memenangkan sebuah perdebatan, itu sudah menodai nama-Nya. Demikian pula saat saya mencomot ayat-ayat tertentu di luar konteks demi mendukung “kebenaran” saya sendiri, saya sudah menyalahgunakan nama-Nya. Sujiwo Tejo pernah berujar “Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitab suci-Nya. Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan.” (21 December 2015).

Monday, 14 December 2015

Paradoks

PARADOKS. Kemarin minggu adven ke tiga. Saya duduk di ruang ibadah baris ke dua dari depan. Lilin merah jambu dinyalakan.Senyuman mengembang. Itu lilin sukacita. Berharap akan ada kabar menyenangkan, ada penghiburan. Kenyataannya, petugas justru membuka dengan pernyataan bahwa ada orang-orang yang tidak mampu menikmati sukacita. Ada saja orang yang justru berduka, entah karena relasinya dengan orang lain terganggu, karena ditinggal pergi oleh orang yang dikasihi, sakit atau karena sebab lainnya. Khotbah pun mengalirkan seruan pertobatan dan usaha menghasilkan buah-buah kebenaran. Alat penampi di tangan-Nya bak ancaman. Usaha menggapai sukacita terganjal tuntutan penyesalan. Aduh! Saya gagal menikmati lilin merah jambu. (14 December 2015)

Sunday, 13 December 2015

Napas

NAPAS. Beberapa hari lalu, anak saya iseng membuat pohon Natal dari Rosario bermanik-manik hijau dengan puncak bandul salibnya. Sejenak saya tertegun dan ingatanpun melayang ke sebuah tulisan lama. Natal memang tidak lengkap bila tidak diikuti dengan peristiwa salib dan kebangkitan. Pohon natal rekaan dengan puncak salib mencerminkan hal itu. Saya sadar bahwa kalender gerejawi dari adven pertama hingga paska lalu berputar kembali menuju adven memang sengaja diatur sedemikian rupa untuk membantu kita mengenang karya keselamatan Allah. Saya percaya bahwa Allah berkarya dalam sejarah yang terus menerus diturunalihkan, dikisahulangkan serta dihadirkan dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Dengan demikian kalender gerejawi merupakan wahana simbolis yang hendak menghadirkan sejarah keselamatan yang dilakukan Allah di masa lalu sehingga kita di masa kini merupakan bagian dari sejarah itu. Selamat menyambut adven ke tiga. (12 Desember 2015).

Thursday, 10 December 2015

Tepat

TEPAT. Bacaan hari Minggu lalu bukanlah bacaan yang mudah. Seorang Lektor menunjukkan bacaan tersebut kepada saya sambil berkata, “Sudah berkali-kali saya baca perikop ini, tetapi tidak bisa paham juga.” Saya paham maksudnya. Karena seorang Lektor harus dapat merasakan terlebih dahulu sapaan Allah sebelum dia sendiri membacakannya bagi umat. Saya coba membaca bagian yang ditunjukkan, memang sulit. Saat ibadah saya sengaja tidak mau membaca. Saya ingin mendengarkan Lektor tersebut membaca. Ternyata bagus sekali! Ucapannya jelas dan tertata, kecepatannya terjaga, dan penggalan kalimatnya pas. Selesai ibadah saya berkata kepadanya, membacamu bagus sekali akhirnya ya. “Saya juga tidak tahu kenapa. Semua mengalir begitu saja saat saya berdiri di belakang mimbar.” Begitu jawabnya. Tuhan berkarya selalu tepat pada waktunya. (11 December 2015)

Wednesday, 9 December 2015

Takut

TAKUT. Goyah artinya goyang karena tidak kokoh letaknya. Kalau lutut yang goyah? Ngewel bahasa Jawanya. Lutut yang bergetar seperti tidak terkendali karena sesuatu hal. Saya pernah mengalaminya. Pertama karena menerjang banjir yang airnya hampir menutup kap mesin. Kedua saat ditodong dengan pisau oleh lima orang pemuda. Saya merasakan sendiri lutut yang bergoyang kencang dan kalau tidak mampu menenangkan diri pasti jatuh. Saat menerjang banjir itu, bahkan menekan pedal gas saja rasanya berat sekali. Penyebab keduanya sama yaitu rasa takut yang luar biasa. Sebagai manusia, banyak rasa takut merebak dalam perjalanan hidup. Terlebih tidak mudah mengelola rasa takut. Namun bacaan semalam mengingatkan “Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah…… Ia (Allah) sendiri datang menyelamatkan kamu!” Tidak cukup dengan itu, pagi tadi seorang kawan mengulas bahwa sapaan pertama para malaikat kepada para gembala adalah “Jangan Takut!” (10 December 2015)

Monday, 7 December 2015

Sukacita

SUKACITA. Kemarin kubaca Mazmur 126. Satu bagiannya terus berdengung dalam kepala hingga sekarang. Ada banyak alasan untuk bergembira, bersukahati, bersukacita. Waktu saya kecil saya akan sangat gembira bila orang tua memberi mainan yang sudah lama saya dambakan. Biasanya karena terlebih dahulu melihat mainan anak lain, dan ingin punya sendiri. Sewaktu remaja, saya akan sangat berbunga-bunga ketika banyak orang memuji kemampuan saya; apakah itu kemampuan untuk memainkan alat musik tertentu atau kemampuan bercerita hingga membuat pendengar melongo. Waktu kuliah saya akan memuji diri sendiri kala melihat hasil ujian mendapat nilai A, meski ada tanda minus di belakangnya sekalipun. Sebagai orang tua muda, saya akan tertawa gembira saat melihat bayi mungilku terkekeh-kekeh geli. Sebagai mahluk spiritual saya akan bersorak gembira bersama Pemazmur: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.” (8 December 2015)

Friday, 4 December 2015

Cerdik

CERDIK. Tadi siang dalam perjalanan kembali ke kantor saya mendengarkan perbincangan menarik pada sebuah siaran radio swasta. Ternyata yang menggerogoti keuangan BPJS Kesehatan hingga mencapai 70% adalah penyakit-penyakit bukan menular, yang banyak diantaranya terjadi karena gaya hidup. Penyakit-penyakit ini memang mahal penanganannya. Ada 5 penyakit seperti ini: Jantung, Stroke, Ginjal, Kanker, Diabetes. “Hidup sehat itu murah, dan sakit itu mahal” begitu kata beberapa teman di kantor. Maka kita harus cerdik menyikapi hidup. Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan rokok dari kehidupan kita, Rajin melakukan aktivitas fisik, Diet seimbang (untuk saya kurangi hingga minimal asupan karbohidrat, gula dan minyak), Istirahat cukup dan terakhir Kelola stress. (4 December 2015)