Selamat Datang
Salam damai sejahtera dari kami untuk para pembaca sekalian. Blog ini mulai kami buat di awal tahun 2010 dengan tema Melangkah Bersama Tuhan. Nama Blog ini sesuai dengan harapan dan komitmen kami untuk menjalani tahun 2010 bersama dengan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan manusia sebagai umat kemuliaan-Nya.
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Thursday, 6 November 2014
Tular
TULAR. Tadi pagi dalam pembukaan audit lingkungan, manajemen menjelaskan satu hal penting: tularkan ilmu dan kebiasaan yang kita dapat dari perusahaan berkenaan dengan pengelolaan lingkungan dan tanggungjawab sosial kepada keluarga di rumah, khususnya anak-anak. Mengapa? Karena anak-anak ini 10 – 20 tahun mendatang akan bekerja. Apa yang kita tularkan membuat mereka terbiasa bersentuhan mesra dengan masyarakat sosial di sekitarnya maupun memelihara lingkungan dimana mereka beraktivitas.
Sederhana
SEDERHANA. Ada rasa puas dan bangga menyelinap dalam benak ketika menyantap sarapan pagi tadi. Di sela banyaknya anak-anak yang enggan makan sayuran, saya sanggup menghabiskan sekotak sayuran plus tempe goreng dan kerupuk dengan lahap dan nikmat, tanpa nasi. Di sela banyaknya orang yang bilang ‘belum makan’ kalau belum kena nasi dan daging, sarapan pagi saya termasuk sederhana namun lengkap dan mengenyangkan hingga siang hari. Teriring doa syukur untuk hari ini.
Wednesday, 5 November 2014
Hampa
HAMPA. Beberapa hari lalu seorang kawan mengajak nonton-bareng rame-rame film horor. Seorang kawan lain menolak bukan hanya karena takut dan tidak nyaman menonton film seperti itu namun juga tidak rela merogoh kocek untuk hal yang hampa. Pagi ini saya diingatkan juga oleh catatan Sang Pemazmur dalam Buku Suci yang memohon kepada Allah: "Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan!" Banyak hal tidak dapat saya hindari berseliweran di depan mata, namun saya dapat memilih mana yang hendak saya lihat.
Doa
DOA. Suatu hari seorang karyawati yang masih sangat muda datang menghadap saya sambil berlinang air mata. “Pak, saya mau bicara.” Demikian dia memulai percakapan. “Silahkan. Ada apakah?” “Saya mau mengundurkan diri pak.” “Kenapa? Apakah pekerjaan tidak cocok untukmu? Apakah ada yang mengganggu?” “Tidak pak. Saya sedih sebenarnya meninggalkan pekerjaan ini.” “Lalu kenapa mau keluar?” “Saya mau jadi pegawai negeri, pak. Mama yang minta.” Saya terdiam sejenak. “Baiklah, tulis surat pengunduran dirimu. Kamu pasti lebih baik di tempat baru itu karena doa ibumu pasti menyertaimu.”
Tuesday, 4 November 2014
Terusik
TERUSIK. Ada sepenggal kisah dalam Buku Suci. Suatu saat Sang Guru mampir ke sebuah rumah yang dihuni oleh dua perempuan bersaudara. Saat Sang Guru masuk, satu perempuan segera duduk di dekat kaki-Nya dan mendengarkan segala hal yang Ia utarakan, sementara saudaranya sibuk menyiapkan berbagai hal selayaknya tuan rumah yang kedatangan seorang tamu Agung. Dalam percakapan mereka ber tiga, ternyata Sang Guru membenarkan pilihan perempuan yang bersimpuh di dekat kaki-Nya. Mengingat kembali kisah ini, saya kembali terusik dengan pertanyaan apakah duduk bersimpuh di kaki-Nya memang lebih baik daripada menyiapkan makan/minum? Apakah menyiapkan sebuah acara dan mengendalikan agar semua hal berjalan baik dan sesuai rencana nilainya lebih rendah ketimbang berdoa dan membaca Buku Suci? Apakah Ia memang lebih suka bicara dan minta kita mendengarkan ketimbang melihat umat ini berbuat sesuatu? Jawablah dalam kegelapan pikiranku.
Monday, 3 November 2014
Cahaya
CAHAYA. Dalam sebuah kesempatan pelatihan hidroponik, saya mendengar satu istilah ‘kutilang’. Rupanya singkatan dari kurus-tinggi-langsing. Pertumbuhan pohon yang tidak normal karena kekurangan cahaya matahari. Memang pohon akan tumbuh sempurna dengan cahaya matahari. Demikian pula manusia memerlukan cahaya matahari untuk hidup jasmaninya, sementara untuk hidup rohani selayaknya ia mencari cahaya Ilahi, olehnyalah ia akan tumbuh makin sempurna dan berbuah lebat.
Sunday, 2 November 2014
Perempuan
PEREMPUAN. Dia bukan orang Indonesia sebetulnya, namun dia sangat mencintai Indonesia. ‘Full’ begitu katanya. Dia bukan orang Indonesia namun membaktikan diri secara penuh untuk perempuan Indonesia dalam proses melahirkan. Ia pendiri Yayasan Bumi Sehat. Disini tidak ada kelas. Disini semua pasien diperlakukan sebagai VIP. Ia adalah perempuan berhati lembut. “Sebelum membuka mulut untuk bicara, saya buka hati terlebih dahulu.” demikian dia pernah berujar. Ia adalah Robin Lim, perempuan asal Filipina.
Subscribe to:
Posts (Atom)