Bagian dari kisah Natal versi Matius mengenai pembunuhan bayi-bayi berumur 2 tahun ke bawah adalah bagian yang sulit untuk dimengerti. Seperti dicatat oleh Matius “ Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."”
Mengapakah sukacita kelahiran sang Juru Selamat harus dikontraskan dengan pembunuhan bayi? Mengapakah sukacita para Majus harus diiringi oleh tangisan ibu-ibu yang kehilangan anaknya? Apakah kejadian pembunuhan ini benar-benar terjadi? Yosefus, seorang ahli sejarah tidak pernah mencatat adanya kejadian pembunuhan bayi. Tetapi melihat kejadiannya, memang cocok dengan pribadi Herodes, seperti yang sudah saya uraikan di tulisan terdahulu berjudul Herodes. Ada kemungkinan sejarah memang tidak mencatat pembunuhan bayi karena bukan sebuah peristiwa luar biasa waktu itu. Betlehem adalah kota kecil. Penduduknya juga sangat sedikit. Sehingga waktu itu, bayi yang berumur 2 tahun ke bawah tidaklah banyak. Barangkali tidak lebih dari 20 anak, sehingga memang tidak masuk dalam catatan sejarah. Akan tetapi Matius mencatatnya. Dan pasti ada maksudnya.
Kuncinya barangkali ada pada kutipan dari Yeremia 31:15. Kejadian yang dikutip itu adalah perjalan bangsa Isreal menuju Babel ketika pembuangan terjadi. Rachel dianggap sebagai ibu bangsa Israel. Rachel dikuburkan di Rama, di pinggir jalan menuju Betlehem. Oleh karena itu, dibayangkan bahwa Rachel menangis dari dalam kubur melihat anak-anaknya berjalan menuju Babel untuk dibuang. Bagian inilah yang dikutip oleh Matius untuk melengkapi ceritanya. Namun sebetulnya cerita itu belum selesai. Sengaja atau tidak sengaja Matius tidak meneruskan ayat yang ke 16 dan ke 17. Nampaknya disitulah intinya. Yeremia 31:16-17 itu berbunyi : “Beginilah firman TUHAN: Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata, sebab untuk jerih payahmu ada ganjaran, demikianlah firman TUHAN; mereka akan kembali dari negeri musuh. Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman TUHAN: anak-anak akan kembali ke daerah mereka.” Masih ada harapan. Kelahiran Kristus selalu membawa pengharapan baru. Ketika dunia ditutupi kegelapan, cahaya terang bayi mungil Yesus Kristus membawa pengharapan. Hati yang beku dilunakkan. Mata yang buta dicelikkan. Orang yang lumpuh mampu berjalan. Dan mereka yang seolah tanpa pengharapan, penjahat seumur hidup, tergantung di kayu salib pun akhirnya tinggal bersama-sama dengan Yesus di dalam Firdaus.
*****
Ketika bencana tanah longsor menimpa Papua Barat, Wasior, banyak korban yang meninggal dunia. Sulit mencapai daerah itu, dari kota pelabuhan terdekat. Namun, disitu ada seorang muda dengan perahunya. Katakanlah namanya Antonius. Dengan setia dia mengantarkan orang-orang yang hendak membantu ke daerah Wasior. Biayanya sangat murah. Cukup biaya bensin pergi pulang saja. Kapan saja, setiap saat Antonius bersedia berangkat. Ketika Antonius ditanya, kenapa dia mau membaktikan diri seperti itu? Dia menjawab, “Karena aku bagian dari mereka yang selamat.” Orang tua, saudara dan kerabatnya semua meninggal dalam musiah itu. Hanya dia sendirian yang selamat karena sedang berada di luar kota. Itulah cara Antonius menyikapi kepedihan hatinya. Bukan dengan diam dan meratap, tetapi dengan berbuat sesuatu untuk sesamanya. Dengan berbuat seperti itu, hidupnya jadi berarti. Cahaya harapan tetap menjelang.
Kisah bencana pembunuhan bayi yang menyertai kelahiran Kristus tidak perlu disikapi dengan kesedihan dan keheranan. Ada pelajaran disana agar kita selalu melihat, dan berbuat sesuatu sebab hidup itu anugerah.
Selamat Datang
Salam damai sejahtera dari kami untuk para pembaca sekalian. Blog ini mulai kami buat di awal tahun 2010 dengan tema Melangkah Bersama Tuhan. Nama Blog ini sesuai dengan harapan dan komitmen kami untuk menjalani tahun 2010 bersama dengan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan manusia sebagai umat kemuliaan-Nya.
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Tuesday, 21 December 2010
25. Emas, Kemenyan dan Mur
Emas, kemenyan dan mur adalah tiga benda yang dibawa oleh para Majus untuk dipersembahkan kepada bayi Yesus. Karena tiga benda inilah orang sering mengatakan bahwa para Majus yang datang ke tempat kelahiran Yesus ada tiga orang. Tulisan ini tidak hendak membahas jumlah para Majus, namun akan menyoroti tiga benda pemberian para Majus itu. Benda-benda itu, ternyata dapat mewakili keberadaan Yesus sendiri.
Emas adalah pemberian untuk para raja. Pada zaman itu, seorang raja tidak mungkin dapat ditemui tanpa membawa berbagai macam pemberian. Emas adalah yang paling cocok. Emas adalah raja dari segala logam. Maka pemberian emas adalah pemberian terhormat dan tepat untuk seorang raja. Emas dipersembahkan kepada bayi Yesus. Jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang Raja. Ia adalah penguasa Kerajaan Allah. Namun, Raja ini tidak memerintah dengan menggunakan pasukan, tetapi menggunakan bahasa kasih. Raja ini tidak memerintah dari atas tahta kerajaan, namun dari atas kayu salib. Raja ini memerintah dengan merendahkan diri, mengorbankan diri demi rakyat Kerajaan-Nya.
Kemenyan adalah pewangian yang digunakan didalam upacara-upacara gerejawi. Misalnya ketika persembahan diberikan, maka imam berdoa sambil membakar wewangian berupa kemenyan ini. Kemenyan hanya digunakan oleh para imam. Tradisi ini masih dijalankan di kalangan gereja Katolik. Persembahan kemenyan kepada bayi Yesus hendak menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang Imam. Imam yang Agung. Tugas imam adalah menjadi perantara antara umat dan Allah. Imam menjadi penengah. Maka Yesus sebagai Imam Agung pun demikian. Dia membangun jembatan – hubungan baru dengan Sang Bapa. Bahkan Yesus sendirilah jembatan itu. Melalui Yesus hubungan manusia – Allah yang pernah putus di zaman Adam dan Hawa dipulihkan. Melalui Yesus manusia dapat menghampiri Allah, yang kemudian dipanggil Bapa.
Mur adalah persembahan bagi orang yang akan meninggal. Mur digunakan untuk membalsem jenazah agar tidak cepat membusuk. Mur yang dipersembahkan kepada bayi Yesus menunjukkan bahwa kelak Yesus akan mati juga untuk manusia. Dengan demikian lengkaplah penggambaran akan bayi Yesus. Dia adalah seorang Raja yang memerintah dengan kasih, Dia adalah seorang Imam yang menjadi pengantara manusia dan Allah, Dia juga yang akhirnya mati bagi seluruh umat manusia. Yesus datang ke dunia untuk hidup bagi manusia, bersama manusia – namun akhirnya Dia juga mati untuk manusia.
Pemberian-pemberian para Majus telah menggambarkan perjalanan hidup yang akan dilalui oleh Yesus. Walaupun baru saja dilahirkan, namun kemana arah hidupnya sudah ditentukan dengan pasti. Ia tidak melawan kehendak Bapa-Nya. Ia setia, bahkan setia sampai di kayu salib.
Dalam merayakan dan mengingat kembali kelahiran sang Bayi Kristus, baiklah kita juga mengingat apa yang hendak Dia kerjakan dalam kehidupan. Sebab kelahiran-Nya tanpa kematian dan kebangkitan-Nya adalah hal yang sia-sia. Tanpa kebangkitan Ia akan menjadi seperti manusia biasa pada umumnya. Yang kelahirannya dirayakan – sebentar, sesaat – lalu dilupakan.
Emas adalah pemberian untuk para raja. Pada zaman itu, seorang raja tidak mungkin dapat ditemui tanpa membawa berbagai macam pemberian. Emas adalah yang paling cocok. Emas adalah raja dari segala logam. Maka pemberian emas adalah pemberian terhormat dan tepat untuk seorang raja. Emas dipersembahkan kepada bayi Yesus. Jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang Raja. Ia adalah penguasa Kerajaan Allah. Namun, Raja ini tidak memerintah dengan menggunakan pasukan, tetapi menggunakan bahasa kasih. Raja ini tidak memerintah dari atas tahta kerajaan, namun dari atas kayu salib. Raja ini memerintah dengan merendahkan diri, mengorbankan diri demi rakyat Kerajaan-Nya.
Kemenyan adalah pewangian yang digunakan didalam upacara-upacara gerejawi. Misalnya ketika persembahan diberikan, maka imam berdoa sambil membakar wewangian berupa kemenyan ini. Kemenyan hanya digunakan oleh para imam. Tradisi ini masih dijalankan di kalangan gereja Katolik. Persembahan kemenyan kepada bayi Yesus hendak menunjukkan bahwa Yesus adalah seorang Imam. Imam yang Agung. Tugas imam adalah menjadi perantara antara umat dan Allah. Imam menjadi penengah. Maka Yesus sebagai Imam Agung pun demikian. Dia membangun jembatan – hubungan baru dengan Sang Bapa. Bahkan Yesus sendirilah jembatan itu. Melalui Yesus hubungan manusia – Allah yang pernah putus di zaman Adam dan Hawa dipulihkan. Melalui Yesus manusia dapat menghampiri Allah, yang kemudian dipanggil Bapa.
Mur adalah persembahan bagi orang yang akan meninggal. Mur digunakan untuk membalsem jenazah agar tidak cepat membusuk. Mur yang dipersembahkan kepada bayi Yesus menunjukkan bahwa kelak Yesus akan mati juga untuk manusia. Dengan demikian lengkaplah penggambaran akan bayi Yesus. Dia adalah seorang Raja yang memerintah dengan kasih, Dia adalah seorang Imam yang menjadi pengantara manusia dan Allah, Dia juga yang akhirnya mati bagi seluruh umat manusia. Yesus datang ke dunia untuk hidup bagi manusia, bersama manusia – namun akhirnya Dia juga mati untuk manusia.
Pemberian-pemberian para Majus telah menggambarkan perjalanan hidup yang akan dilalui oleh Yesus. Walaupun baru saja dilahirkan, namun kemana arah hidupnya sudah ditentukan dengan pasti. Ia tidak melawan kehendak Bapa-Nya. Ia setia, bahkan setia sampai di kayu salib.
Dalam merayakan dan mengingat kembali kelahiran sang Bayi Kristus, baiklah kita juga mengingat apa yang hendak Dia kerjakan dalam kehidupan. Sebab kelahiran-Nya tanpa kematian dan kebangkitan-Nya adalah hal yang sia-sia. Tanpa kebangkitan Ia akan menjadi seperti manusia biasa pada umumnya. Yang kelahirannya dirayakan – sebentar, sesaat – lalu dilupakan.
Sunday, 19 December 2010
24. Artaban
Dalam tulisan berjudul Kelirumologi Natal, dikatakan bahwa sebenarnya orang Majus yang datang mengunjungi bayi Yesus belum tentu tiga orang. Hanya dikatakan “orang-orang Majus” itu saja, walaupun persembahan yang diberikan seolah-olah diserahkan oleh tiga orang: emas, kemenyan dan mur. Namun, baiklah kita beranggapan bahwa benar orang Majus yang datang adalah bertiga, mereka bernama Caspar, Melchior dan Balthasar. Artaban adalah orang Majus yang keempat.
Ketika Artaban dan kawan-kawannya mengetahui bahwa ada seorang Raja besar akan dilahirkan, tanpa ragu ia menjual semua harta bendanya dan kemudian dia membeli sebuah batu saphir yang sangat indah, sebuah batu ruby yang luar biasa bagus, dan terakhir dia membeli sebutir mutiara yang putih kemilau. Artaban sudah membuat janji dengan ketiga temannya untuk bertemu di suatu tempat. Caspar, Melchior dan Balthasar sudah mengatakan dengan tegas, kalau Artaban sampai terlambat semenit saja, mereka akan pergi meninggalkan Artaban sendiri. Artaban setuju.
Ketika sudah hampir tiba waktu perjanjian, berjalanlah Artaban menuju tempat yang sudah disepakati. Namun di tengah jalan, Artaban mendapati seorang yang sakit parah. Rupanya dia bekas dirampok dan dipukuli orang. Hati Artaban bergolak. Menolong artinya terlambat, tidak menolong, hatinya tidak sampai. Akhirnya dia memutuskan untuk menolong orang itu. Bahkan dia menjual permata saphirnya yang sangat indah. Artaban menggunakan uang hasil penjualan itu untuk mengobati orang yang sakit, mengantarkan ke sebuah penginapan, dan untuk dia sendiri membeli seekor unta agar dapat mengejar ketinggalan teman-temannya. Sedih hatinya karena batu permata yang hendak dia persembahkan kepada sang Raja berkurang satu.
Walaupun sudah berusaha mengejar ketinggalannya, ternyata ketiga temannya sudah sangat jauh. Ketika Artaban sampai di Betlehem pun ketiga temannya sudah pulang kembali. Bayi yang baru lahir sebagai Raja besar pun tidak ada lagi. Malahan Artaban menyaksikan kejadian yang luar biasa menyesakkan dada di sana. Raja Herodes sedang memerintahkan pasukannya untuk membunuh semua bayi yang berumur 2 tahun ke bawah. Di rumah tempat Artaban menginap pun ada seorang bayi yang terus-menerus menangis. Ibunya sudah berusaha menenangkan agar suara tangisan bayi tidak terdengar oleh pasukan Herodes. Gagal. Pasukan itu masuk ke rumah dan berusaha merampas sang bayi. Tak kuasa bertahan sang ibu menangis tersedu-sedu. Melihat kejadian itu, Artaban maju dan menawarkan satu batu permata rubynya sebagai pengganti nyawa bayi itu. Pasukan Herodes setuju dan mengembalikan si bayi kepada ibunya.
Sekarang Artaban tinggal memiliki sebuah mutiara. Tidak apa, pikirnya. Sebuah mutiara juga cukup berharga untuk diberikan kepada sang Raja. Tetapi di mana? Tiga puluh tahun Artaban terus berputar, berkeliling mencari-cari Raja Mulia itu. Sampai suatu saat dia mendengar bahwa Raja itu akan disalibkan di bukit Golgota. Bergegas Artaban mencari tahu di mana tempat itu. Satu mutiara barangkali dapat menyelamatkan nyawa Raja itu, pikir Artaban. Dengan setengah berlari Artaban menuju ke arah Golgota, namun di tengah jalan dia melihat seorang anak perempuan menangis dengan keras. “Apa yang terjadi?” Artaban bertanya. “Ayah saya berhutang kepada orang itu,” kata anak itu sambil menunjuk kepada seorang pendek gemuk bermuka lebar dengan beberapa pengawalnya. “Saya hendak dijual sebagai budak, karena ayah saya tidak dapat membayar semua hutangnya.” Dengan terisak anak perempuan itu bertutur. Sekali lagi hati Artaban berkecamuk. Mutiara tinggal satu. Untuk menyelamatkan sang Raja, atau anak ini? Artaban yang sudah cukup tua sekarang, berpikir sejenak. Anak ini masih sangat kecil. Dia harus diselamatkan. Maka diserahkanlah mutiara kepada orang pendek gemuk dengan muka lebar itu sebagai ganti si anak perempuan. Begitu mutiara itu menyentuh tangan orang pendek gemuk itu, terjadilah gempa bumi yang hebat. Langit menjadi gelap. Artaban terjatuh, nafasnya tersengal. Tidak ada lagi batu yang dapat dia berikan kepada sang Raja. Tanpa terasa air mata mulai membasahi ujung matanya. Artaban kecewa. Hidupnya terasa gagal. Dia akan meninggalkan dunia ini tanpa bertemu dengan sang Raja, tanpa dapat memberikan apa-apa. Pandangannya mulai kabur. Segala yang dia lihat tampak berwarna putih. Tiba-tiba muncul cahaya bersinar sangat terang. Sayup-sayup dia mendengar suara “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Artaban menghembuskan nafasnya. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman. Ketiga hadiahnya telah sampai ke tangan sang Raja.
Ketika Artaban dan kawan-kawannya mengetahui bahwa ada seorang Raja besar akan dilahirkan, tanpa ragu ia menjual semua harta bendanya dan kemudian dia membeli sebuah batu saphir yang sangat indah, sebuah batu ruby yang luar biasa bagus, dan terakhir dia membeli sebutir mutiara yang putih kemilau. Artaban sudah membuat janji dengan ketiga temannya untuk bertemu di suatu tempat. Caspar, Melchior dan Balthasar sudah mengatakan dengan tegas, kalau Artaban sampai terlambat semenit saja, mereka akan pergi meninggalkan Artaban sendiri. Artaban setuju.
Ketika sudah hampir tiba waktu perjanjian, berjalanlah Artaban menuju tempat yang sudah disepakati. Namun di tengah jalan, Artaban mendapati seorang yang sakit parah. Rupanya dia bekas dirampok dan dipukuli orang. Hati Artaban bergolak. Menolong artinya terlambat, tidak menolong, hatinya tidak sampai. Akhirnya dia memutuskan untuk menolong orang itu. Bahkan dia menjual permata saphirnya yang sangat indah. Artaban menggunakan uang hasil penjualan itu untuk mengobati orang yang sakit, mengantarkan ke sebuah penginapan, dan untuk dia sendiri membeli seekor unta agar dapat mengejar ketinggalan teman-temannya. Sedih hatinya karena batu permata yang hendak dia persembahkan kepada sang Raja berkurang satu.
Walaupun sudah berusaha mengejar ketinggalannya, ternyata ketiga temannya sudah sangat jauh. Ketika Artaban sampai di Betlehem pun ketiga temannya sudah pulang kembali. Bayi yang baru lahir sebagai Raja besar pun tidak ada lagi. Malahan Artaban menyaksikan kejadian yang luar biasa menyesakkan dada di sana. Raja Herodes sedang memerintahkan pasukannya untuk membunuh semua bayi yang berumur 2 tahun ke bawah. Di rumah tempat Artaban menginap pun ada seorang bayi yang terus-menerus menangis. Ibunya sudah berusaha menenangkan agar suara tangisan bayi tidak terdengar oleh pasukan Herodes. Gagal. Pasukan itu masuk ke rumah dan berusaha merampas sang bayi. Tak kuasa bertahan sang ibu menangis tersedu-sedu. Melihat kejadian itu, Artaban maju dan menawarkan satu batu permata rubynya sebagai pengganti nyawa bayi itu. Pasukan Herodes setuju dan mengembalikan si bayi kepada ibunya.
Sekarang Artaban tinggal memiliki sebuah mutiara. Tidak apa, pikirnya. Sebuah mutiara juga cukup berharga untuk diberikan kepada sang Raja. Tetapi di mana? Tiga puluh tahun Artaban terus berputar, berkeliling mencari-cari Raja Mulia itu. Sampai suatu saat dia mendengar bahwa Raja itu akan disalibkan di bukit Golgota. Bergegas Artaban mencari tahu di mana tempat itu. Satu mutiara barangkali dapat menyelamatkan nyawa Raja itu, pikir Artaban. Dengan setengah berlari Artaban menuju ke arah Golgota, namun di tengah jalan dia melihat seorang anak perempuan menangis dengan keras. “Apa yang terjadi?” Artaban bertanya. “Ayah saya berhutang kepada orang itu,” kata anak itu sambil menunjuk kepada seorang pendek gemuk bermuka lebar dengan beberapa pengawalnya. “Saya hendak dijual sebagai budak, karena ayah saya tidak dapat membayar semua hutangnya.” Dengan terisak anak perempuan itu bertutur. Sekali lagi hati Artaban berkecamuk. Mutiara tinggal satu. Untuk menyelamatkan sang Raja, atau anak ini? Artaban yang sudah cukup tua sekarang, berpikir sejenak. Anak ini masih sangat kecil. Dia harus diselamatkan. Maka diserahkanlah mutiara kepada orang pendek gemuk dengan muka lebar itu sebagai ganti si anak perempuan. Begitu mutiara itu menyentuh tangan orang pendek gemuk itu, terjadilah gempa bumi yang hebat. Langit menjadi gelap. Artaban terjatuh, nafasnya tersengal. Tidak ada lagi batu yang dapat dia berikan kepada sang Raja. Tanpa terasa air mata mulai membasahi ujung matanya. Artaban kecewa. Hidupnya terasa gagal. Dia akan meninggalkan dunia ini tanpa bertemu dengan sang Raja, tanpa dapat memberikan apa-apa. Pandangannya mulai kabur. Segala yang dia lihat tampak berwarna putih. Tiba-tiba muncul cahaya bersinar sangat terang. Sayup-sayup dia mendengar suara “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Artaban menghembuskan nafasnya. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman. Ketiga hadiahnya telah sampai ke tangan sang Raja.
23. Herodes
Herodes adalah contoh manusia yang penuh kepalsuan. Alkitab hanya mencatat sisi gelap dari sosok manusia ini. Namun sejarah mencatat dengan lebih lengkap. Ada beberapa hal “baik” yang Herodes lakukan, namun tetap berujung pada kegelapan. Karena kebaikannya itulah maka Herodes kemudian mendapat gelar Herodes yang Agung. Apa yang dia lakukan? Beberapa hal dapat dirinci sebagai berikut. Ia satu-satunya penguasa yang dapat memulihkan kedamaian dan tata tertib dan ketenteraman hidup. Ia adalah bapak pembangunan. Ia juga yang kemudian membangun kembali Bait Suci di Yerusalem. Ia bisa bersikap sangat murah hati. Pada waktu kondisi ekonomi sulit, ia memberikan keringanan pajak. Bahkan pada waktu bahaya kelaparan menyerang pada tahun 25 sM, Herodes menjual emas-emasnya untuk membeli bahan makanan dan dibagikan kepada rakyatnya. Baik bukan? Ya. Namun dibalik semua itu, ada sisi kegelapan. Semua kebaikan yang Herodes lakukan boleh jadi hanya semacam iming-iming agar rakyat senang kepadanya. Kenyataannya demikian. Maka kekuasaan Herodes makin lama makin besar dan meluas. Dia berkuasa cukup lama di tanah Kanaan.
Semakin tua Herodes, semakin tampak aslinya. Dia adalah seorang yang sangat keras dan kejam. Disamping itu, dia adalah seorang yang penuh rasa curiga. Siapa saja yang dicurigai akan mengguncangkan kekuasaannya pasti akan habis dibunuh. Bayangkan. Herodes tidak segan-segan membunuh isterinya sendiri yang bernama Mariamne, beserta ibunya yang bernama Alexandra. Anaknya yang tertua bernama Antipater juga dibunuh, juga dua orang anaknya yang lain yang bernama Alexander dan Aristobulus. Kaisar Agustus di Roma sampai berkata getir, bahwa lebih baik menjadi babi milik Herodes daripada menjadi anaknya.
Dengan sifat-sifat seperti itu, tidak heran kalau kemudian dia terkejut mendengar kabar bahwa ada Raja yang akan dilahirkan di tanah Yudea. Maka kepalsuannya kembali muncul. Dengan berpura-pura ingin menyembah sang Raja Mungil, dia bertanya dengan teliti kepada para Majus. Tidak heran juga jika kemudian Herodes memerintahkan membunuh semua bayi berumur 2 tahun ke bawah karena tidak berhasil menemukan bayi Yesus Kristus.
Sesungguhnya kepalsuan adalah hal yang sangat dibenci oleh Tuhan. Yesaya pernah mencatat "Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.” (Yesaya 1:11-15).
Marilah hilangkan segala kepalsuan. Marilah hidup dalam kebenaran. Berkata benar dan terus terang terkadang memang terasa lebih menyakitkan, namun juga memperjelas persoalan. Berkatalah ya untuk yang ya dan tidak untuk yang tidak. Kepalsuan bukan hanya membingungkan orang lain, tetapi juga membunuh diri sendiri.
Semakin tua Herodes, semakin tampak aslinya. Dia adalah seorang yang sangat keras dan kejam. Disamping itu, dia adalah seorang yang penuh rasa curiga. Siapa saja yang dicurigai akan mengguncangkan kekuasaannya pasti akan habis dibunuh. Bayangkan. Herodes tidak segan-segan membunuh isterinya sendiri yang bernama Mariamne, beserta ibunya yang bernama Alexandra. Anaknya yang tertua bernama Antipater juga dibunuh, juga dua orang anaknya yang lain yang bernama Alexander dan Aristobulus. Kaisar Agustus di Roma sampai berkata getir, bahwa lebih baik menjadi babi milik Herodes daripada menjadi anaknya.
Dengan sifat-sifat seperti itu, tidak heran kalau kemudian dia terkejut mendengar kabar bahwa ada Raja yang akan dilahirkan di tanah Yudea. Maka kepalsuannya kembali muncul. Dengan berpura-pura ingin menyembah sang Raja Mungil, dia bertanya dengan teliti kepada para Majus. Tidak heran juga jika kemudian Herodes memerintahkan membunuh semua bayi berumur 2 tahun ke bawah karena tidak berhasil menemukan bayi Yesus Kristus.
Sesungguhnya kepalsuan adalah hal yang sangat dibenci oleh Tuhan. Yesaya pernah mencatat "Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.” (Yesaya 1:11-15).
Marilah hilangkan segala kepalsuan. Marilah hidup dalam kebenaran. Berkata benar dan terus terang terkadang memang terasa lebih menyakitkan, namun juga memperjelas persoalan. Berkatalah ya untuk yang ya dan tidak untuk yang tidak. Kepalsuan bukan hanya membingungkan orang lain, tetapi juga membunuh diri sendiri.
Thursday, 16 December 2010
22. Betlehem
Nabi Mikha yang hidup sekitar tahun 700 sM, pernah menyatakan tempat kelahiran Sang Juru Selamat: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mikha 5:1). Seperti apa sebetulnya kota Betlehem itu? Mengapa dia dikatakan kota yang kecil? Saya belum pernah kesana, tetapi petunjuk yang dituliskan oleh William Barclay di bawah ini cukup memberikan gambaran keadaan dan kondisi kota Betlehem.
“Betlehem adalah sebuah kota kecil, kira-kira 9 km di sebelah selatan Yerusalem. Pada zaman dahulu Betlehem juga disebut Efrat atau Efrata. Namun Betlehem sendiri berarti Rumah Roti. Betlehem terletak di daerah yang subur, cocok dengan namanya. Betlehem terletak di atas sebuah punggung bukit, yang tingginya kurang lebih 800 meter. Bukit itu dikelilingi oleh bukit-bukit yang lain yang lebih tinggi, sehingga kota Betlehem nampak seperti sebuah kota di tengah-tengah suatu stadion besar.
Betlehem mempunyai sejarah yang panjang. Di kota Betlehemlah Yakub mengubur Rachel isterinya dan mendirikan sebuah tiang batu peringatan di samping kuburan itu (Kej. 48:7; 35:20). Di kota Betlehem juga Rut hidup ketika menikah dengan Boas (Rut 1:22). Dan dari Betlehem juga Rut dapat melihat negeri Moab, tanah airnya di sebelah lembah Yordan. Di atas semuanya itu Betlehem adalah rumah dan kota Daud (1 Sam 16:1;17:12; 20:6). Dan air sumur kota Betlehem itu lah yang didambakan oleh Daud yang kehausan, ketika ia dikejar-kejar dan menjadi orang pelarian di bukit-bukit (2 Sam 23:14,15).
Itulah gambaran kota kelahiran Yesus Kristus. Masing-masing kita tentu memiliki kota kelahirannya. Saya lahir di Semarang, isteri saya lahir di Bandung dan anak saya lahir di Jakarta. Tetapi masing-masing kita tidak ada yang lahir di sebuah kandang binatang seperti Yesus. Kondisi rumah di Betlehem pada zaman itu jauh dari kondisi rumah sekarang. Pada waktu itu, rumah-rumah dibuat di lereng-lereng bukit kapur dan di bagian bawahnya dibuat semacam gua yang juga berfungsi sebagai kandang hewan. Disitulah Yesus dilahirkan. Gua tersebut menggambarkan kesediaan Kristus untuk merendahkan diri di hadapan manusia, demi keselamatan kita semua. Akankah kita bermegah karena karya keselamatan yang seperti itu? Akankah kita sekarang ini mengingat dan memperingati hari kelahiran-Nya dengan sikap angkuh dan congkak? Harapannya tentu tidak. Semoga tidak. Kesediaan Kristus merendahkan diri patut menjadi contoh bagi kita untuk melakukan hal yang serupa. Ketika banyak orang menderita karena kemiskinan yang menekan dan banyaknya bencana alam, Merapi, Wasior, Mentawai…marilah kita bersama merayakan kelahiran-Nya dengan penuh kesederhanaan.
Hai kota mungil Betlehem, betapa kau senyap;
Bintang di langit cemerlang melihat kau lelap.
Namun di lorong g’lapmu bersinar Trang baka:
Harapanmu dan doamu kini terkabullah.
Ya Yesus, Anak Betlehem, kunjungi kami pun;
Sucikanlah, masukkanlah yang mau menyambut-Mu,
Telah kami dengarkan Berita mulia:
Kau beserta manusia kekal selamanya.
(KJ 94:1,4)
“Betlehem adalah sebuah kota kecil, kira-kira 9 km di sebelah selatan Yerusalem. Pada zaman dahulu Betlehem juga disebut Efrat atau Efrata. Namun Betlehem sendiri berarti Rumah Roti. Betlehem terletak di daerah yang subur, cocok dengan namanya. Betlehem terletak di atas sebuah punggung bukit, yang tingginya kurang lebih 800 meter. Bukit itu dikelilingi oleh bukit-bukit yang lain yang lebih tinggi, sehingga kota Betlehem nampak seperti sebuah kota di tengah-tengah suatu stadion besar.
Betlehem mempunyai sejarah yang panjang. Di kota Betlehemlah Yakub mengubur Rachel isterinya dan mendirikan sebuah tiang batu peringatan di samping kuburan itu (Kej. 48:7; 35:20). Di kota Betlehem juga Rut hidup ketika menikah dengan Boas (Rut 1:22). Dan dari Betlehem juga Rut dapat melihat negeri Moab, tanah airnya di sebelah lembah Yordan. Di atas semuanya itu Betlehem adalah rumah dan kota Daud (1 Sam 16:1;17:12; 20:6). Dan air sumur kota Betlehem itu lah yang didambakan oleh Daud yang kehausan, ketika ia dikejar-kejar dan menjadi orang pelarian di bukit-bukit (2 Sam 23:14,15).
Itulah gambaran kota kelahiran Yesus Kristus. Masing-masing kita tentu memiliki kota kelahirannya. Saya lahir di Semarang, isteri saya lahir di Bandung dan anak saya lahir di Jakarta. Tetapi masing-masing kita tidak ada yang lahir di sebuah kandang binatang seperti Yesus. Kondisi rumah di Betlehem pada zaman itu jauh dari kondisi rumah sekarang. Pada waktu itu, rumah-rumah dibuat di lereng-lereng bukit kapur dan di bagian bawahnya dibuat semacam gua yang juga berfungsi sebagai kandang hewan. Disitulah Yesus dilahirkan. Gua tersebut menggambarkan kesediaan Kristus untuk merendahkan diri di hadapan manusia, demi keselamatan kita semua. Akankah kita bermegah karena karya keselamatan yang seperti itu? Akankah kita sekarang ini mengingat dan memperingati hari kelahiran-Nya dengan sikap angkuh dan congkak? Harapannya tentu tidak. Semoga tidak. Kesediaan Kristus merendahkan diri patut menjadi contoh bagi kita untuk melakukan hal yang serupa. Ketika banyak orang menderita karena kemiskinan yang menekan dan banyaknya bencana alam, Merapi, Wasior, Mentawai…marilah kita bersama merayakan kelahiran-Nya dengan penuh kesederhanaan.
Hai kota mungil Betlehem, betapa kau senyap;
Bintang di langit cemerlang melihat kau lelap.
Namun di lorong g’lapmu bersinar Trang baka:
Harapanmu dan doamu kini terkabullah.
Ya Yesus, Anak Betlehem, kunjungi kami pun;
Sucikanlah, masukkanlah yang mau menyambut-Mu,
Telah kami dengarkan Berita mulia:
Kau beserta manusia kekal selamanya.
(KJ 94:1,4)
Wednesday, 15 December 2010
21. An Act of Love
Christmas is an act of love. Do you realize that? I think so. When God promised to save His people, He sent His only Son to come. Why? Because He loves us. He is then willing to sacrifice His Son on behalf of our sin. This is an act of love. Love must be acted. Without action love is just a word. Nothing. No meaning at all. In a couple of days, I found a teenager…probably a young adult wrote a poem. When you have finished reading it through, you can understand why love should be followed with actions to be understood, to be meaningful.
I should have been asking these to you
How is your day?
How have you been?
Right now I am looking at your photograph
asking these stupid questions and wondering what will be your answer to me
but I have noticed it
yeah, you should have another man to say it for you
someone who cheers you up in times you cry
someone who gives you his shoulder when you cry
someone who never let go off your arms
someone who replies to your messages
someone who picks up your calls
someone who does what I have never done before
I pray hopelessly that you will be happy
Watching you day by day
Truthfully, I spoke to myself that you were happy
Honestly, I struggle to pretend that I was okay
Truly, I do care for you
but I never say it..
Now, it is almost christmas time. We understand His love for us so that He sent His Son. Every Sunday, every day we say that we love Him. Through this love we love our friends, other people of the same or different race, age, sex. What have we done to show that love? Words are not enough. Actions are necessary. Say it , show it, do it.
Let’s pray.
O my God, I love you above all things, with my whole heart and soul, because you are all-good and worthy of all love. I love my neighbor as myself for the love of you. I forgive all who have injured me, and I ask pardon of all whom I have injured.
http://www.ourcatholicprayers.com/act-of-love.html
I should have been asking these to you
How is your day?
How have you been?
Right now I am looking at your photograph
asking these stupid questions and wondering what will be your answer to me
but I have noticed it
yeah, you should have another man to say it for you
someone who cheers you up in times you cry
someone who gives you his shoulder when you cry
someone who never let go off your arms
someone who replies to your messages
someone who picks up your calls
someone who does what I have never done before
I pray hopelessly that you will be happy
Watching you day by day
Truthfully, I spoke to myself that you were happy
Honestly, I struggle to pretend that I was okay
Truly, I do care for you
but I never say it..
Now, it is almost christmas time. We understand His love for us so that He sent His Son. Every Sunday, every day we say that we love Him. Through this love we love our friends, other people of the same or different race, age, sex. What have we done to show that love? Words are not enough. Actions are necessary. Say it , show it, do it.
Let’s pray.
O my God, I love you above all things, with my whole heart and soul, because you are all-good and worthy of all love. I love my neighbor as myself for the love of you. I forgive all who have injured me, and I ask pardon of all whom I have injured.
http://www.ourcatholicprayers.com/act-of-love.html
Tuesday, 14 December 2010
20. Palungan yang Kosong
Tahun 2009 lalu, seorang pegiat lingkungan di gereja kami membuat palungan dari botol-botol plastik bekas. Seribu enam ratus lima puluh-an botol plastik digunakan untuk membuat palungan itu. Saya sempat mengambil beberapa foto palungan kosong itu. Entah kenapa saya tidak merasa aneh, sebuah palungan kosong. Berhiaskan dedauan, namun tanpa ternak. Tidak ada Maria dan Yusuf, tidak ada bayi Yesus di dalamnya. Namun demikian, warna putih dan lekak lekuk botol tertimpa cahaya lampu tampak berbinar-binar indah. Bak bintang-bintang berkerlap-kerlip di langit Bekasi.
Saya kemudian teringat sebuah cerita dalam salah satu buku Chicken Soup. Seorang pemuda sedang berbelanja untuk hari Natal ketika tiba-tiba mendengar seorang anak berpakaian lusuh dan compang-camping berkata kepada ibunya, “Bayi ini cantik sekali ma. Beli ya?” Sementara ibunya yang tidak kalah lusuh dan kumal pakaiannya tanpa menoleh segera berteriak, “Cepat letakkan boneka itu! Atau mama pukul kamu nanti.” Ketika anaknya tidak bergeming dan terus bermain-main dengan boneka Yesus itu, maka sang ibu segera menghampiri. Suasana tiba-tiba menjadi sunyi. Sepi. Tidak ada teriakan ibu, tidak ada tangisan anak. Tidak ada suara pukulan ibu kepada anak gadisnya. Sebentar kemudian suara isakan ibu itu mulai terdengar perlahan. “Maafkan ibu nak. Ibu tidak punya cukup uang untuk membelinya. Kita masih memerlukan banyak barang untuk melewati musim dingin ini.” Ibunya memeluk anaknya dengan erat. Sang anak tidak ketinggalan segera melingkarkan lengannya di leher ibunya. “Tidak apa mama. Mama tidak usah menangis. Saya sudah tidak menginginkan boneka Yesus itu lagi. Lihat ma. Boneka itu sudah saya taruh lagi di tempatnya. Lihat ma. Jangan menangis lagi ma. Guru sekolah Minggu juga sering mengajarkan bahwa Yesus sesungguhnya ada dalam hati kita semua. Tidak perlu saya membawa boneka itu.”
Ketika ibu dan anak itu mulai berjalan pergi, pemuda yang dari tadi memperhatikan kejadian itu segera mengambil boneka Yesus, berikut palungannya. Dibayarnya semua hiasan Natal itu. Segera dia berikan boneka Yesus itu kepada anak perempuan lusuh tadi. Sementara palungan kosong dia bawa pulang. Ya. Palungan kosong. Tidak apa-apa Yesus tidak ada dalam palungan tersebut. Yesus ada dalam hati kita semua.
Bagaimana dengan diri kita masing-masing? Apakah palungan hati kita siap menerima bayi Yesus? Dia yang telah datang ke dalam dunia ini menunggu dan mengetuk pintu hati kita. Ketika kita membukakan pintu itu, maka Dia akan duduk makan bersama-sama dengan kita. Mari Yesus, masuklah. Kami menunggu-Mu.
Apa engkau sedia tempat,
Bagi Juru Slamatmu,
Yang ketuk dan minta masuk
Maukah sambut Tuhanmu
Tempat untuk Raja Damai
Skarang turut printah-Nya
Bukalah pintu hatimu
Sambutlah Penebusmu
Saya kemudian teringat sebuah cerita dalam salah satu buku Chicken Soup. Seorang pemuda sedang berbelanja untuk hari Natal ketika tiba-tiba mendengar seorang anak berpakaian lusuh dan compang-camping berkata kepada ibunya, “Bayi ini cantik sekali ma. Beli ya?” Sementara ibunya yang tidak kalah lusuh dan kumal pakaiannya tanpa menoleh segera berteriak, “Cepat letakkan boneka itu! Atau mama pukul kamu nanti.” Ketika anaknya tidak bergeming dan terus bermain-main dengan boneka Yesus itu, maka sang ibu segera menghampiri. Suasana tiba-tiba menjadi sunyi. Sepi. Tidak ada teriakan ibu, tidak ada tangisan anak. Tidak ada suara pukulan ibu kepada anak gadisnya. Sebentar kemudian suara isakan ibu itu mulai terdengar perlahan. “Maafkan ibu nak. Ibu tidak punya cukup uang untuk membelinya. Kita masih memerlukan banyak barang untuk melewati musim dingin ini.” Ibunya memeluk anaknya dengan erat. Sang anak tidak ketinggalan segera melingkarkan lengannya di leher ibunya. “Tidak apa mama. Mama tidak usah menangis. Saya sudah tidak menginginkan boneka Yesus itu lagi. Lihat ma. Boneka itu sudah saya taruh lagi di tempatnya. Lihat ma. Jangan menangis lagi ma. Guru sekolah Minggu juga sering mengajarkan bahwa Yesus sesungguhnya ada dalam hati kita semua. Tidak perlu saya membawa boneka itu.”
Ketika ibu dan anak itu mulai berjalan pergi, pemuda yang dari tadi memperhatikan kejadian itu segera mengambil boneka Yesus, berikut palungannya. Dibayarnya semua hiasan Natal itu. Segera dia berikan boneka Yesus itu kepada anak perempuan lusuh tadi. Sementara palungan kosong dia bawa pulang. Ya. Palungan kosong. Tidak apa-apa Yesus tidak ada dalam palungan tersebut. Yesus ada dalam hati kita semua.
Bagaimana dengan diri kita masing-masing? Apakah palungan hati kita siap menerima bayi Yesus? Dia yang telah datang ke dalam dunia ini menunggu dan mengetuk pintu hati kita. Ketika kita membukakan pintu itu, maka Dia akan duduk makan bersama-sama dengan kita. Mari Yesus, masuklah. Kami menunggu-Mu.
Apa engkau sedia tempat,
Bagi Juru Slamatmu,
Yang ketuk dan minta masuk
Maukah sambut Tuhanmu
Tempat untuk Raja Damai
Skarang turut printah-Nya
Bukalah pintu hatimu
Sambutlah Penebusmu
Subscribe to:
Posts (Atom)