Selamat Datang

Salam damai sejahtera dari kami untuk para pembaca sekalian. Blog ini mulai kami buat di awal tahun 2010 dengan tema Melangkah Bersama Tuhan. Nama Blog ini sesuai dengan harapan dan komitmen kami untuk menjalani tahun 2010 bersama dengan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan manusia sebagai umat kemuliaan-Nya.

Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.

Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.

Salam dari kami,

Julianto Djajakartika

Sunday, 19 December 2010

24. Artaban

Dalam tulisan berjudul Kelirumologi Natal, dikatakan bahwa sebenarnya orang Majus yang datang mengunjungi bayi Yesus belum tentu tiga orang. Hanya dikatakan “orang-orang Majus” itu saja, walaupun persembahan yang diberikan seolah-olah diserahkan oleh tiga orang: emas, kemenyan dan mur. Namun, baiklah kita beranggapan bahwa benar orang Majus yang datang adalah bertiga, mereka bernama Caspar, Melchior dan Balthasar. Artaban adalah orang Majus yang keempat.

Ketika Artaban dan kawan-kawannya mengetahui bahwa ada seorang Raja besar akan dilahirkan, tanpa ragu ia menjual semua harta bendanya dan kemudian dia membeli sebuah batu saphir yang sangat indah, sebuah batu ruby yang luar biasa bagus, dan terakhir dia membeli sebutir mutiara yang putih kemilau. Artaban sudah membuat janji dengan ketiga temannya untuk bertemu di suatu tempat. Caspar, Melchior dan Balthasar sudah mengatakan dengan tegas, kalau Artaban sampai terlambat semenit saja, mereka akan pergi meninggalkan Artaban sendiri. Artaban setuju.

Ketika sudah hampir tiba waktu perjanjian, berjalanlah Artaban menuju tempat yang sudah disepakati. Namun di tengah jalan, Artaban mendapati seorang yang sakit parah. Rupanya dia bekas dirampok dan dipukuli orang. Hati Artaban bergolak. Menolong artinya terlambat, tidak menolong, hatinya tidak sampai. Akhirnya dia memutuskan untuk menolong orang itu. Bahkan dia menjual permata saphirnya yang sangat indah. Artaban menggunakan uang hasil penjualan itu untuk mengobati orang yang sakit, mengantarkan ke sebuah penginapan, dan untuk dia sendiri membeli seekor unta agar dapat mengejar ketinggalan teman-temannya. Sedih hatinya karena batu permata yang hendak dia persembahkan kepada sang Raja berkurang satu.

Walaupun sudah berusaha mengejar ketinggalannya, ternyata ketiga temannya sudah sangat jauh. Ketika Artaban sampai di Betlehem pun ketiga temannya sudah pulang kembali. Bayi yang baru lahir sebagai Raja besar pun tidak ada lagi. Malahan Artaban menyaksikan kejadian yang luar biasa menyesakkan dada di sana. Raja Herodes sedang memerintahkan pasukannya untuk membunuh semua bayi yang berumur 2 tahun ke bawah. Di rumah tempat Artaban menginap pun ada seorang bayi yang terus-menerus menangis. Ibunya sudah berusaha menenangkan agar suara tangisan bayi tidak terdengar oleh pasukan Herodes. Gagal. Pasukan itu masuk ke rumah dan berusaha merampas sang bayi. Tak kuasa bertahan sang ibu menangis tersedu-sedu. Melihat kejadian itu, Artaban maju dan menawarkan satu batu permata rubynya sebagai pengganti nyawa bayi itu. Pasukan Herodes setuju dan mengembalikan si bayi kepada ibunya.

Sekarang Artaban tinggal memiliki sebuah mutiara. Tidak apa, pikirnya. Sebuah mutiara juga cukup berharga untuk diberikan kepada sang Raja. Tetapi di mana? Tiga puluh tahun Artaban terus berputar, berkeliling mencari-cari Raja Mulia itu. Sampai suatu saat dia mendengar bahwa Raja itu akan disalibkan di bukit Golgota. Bergegas Artaban mencari tahu di mana tempat itu. Satu mutiara barangkali dapat menyelamatkan nyawa Raja itu, pikir Artaban. Dengan setengah berlari Artaban menuju ke arah Golgota, namun di tengah jalan dia melihat seorang anak perempuan menangis dengan keras. “Apa yang terjadi?” Artaban bertanya. “Ayah saya berhutang kepada orang itu,” kata anak itu sambil menunjuk kepada seorang pendek gemuk bermuka lebar dengan beberapa pengawalnya. “Saya hendak dijual sebagai budak, karena ayah saya tidak dapat membayar semua hutangnya.” Dengan terisak anak perempuan itu bertutur. Sekali lagi hati Artaban berkecamuk. Mutiara tinggal satu. Untuk menyelamatkan sang Raja, atau anak ini? Artaban yang sudah cukup tua sekarang, berpikir sejenak. Anak ini masih sangat kecil. Dia harus diselamatkan. Maka diserahkanlah mutiara kepada orang pendek gemuk dengan muka lebar itu sebagai ganti si anak perempuan. Begitu mutiara itu menyentuh tangan orang pendek gemuk itu, terjadilah gempa bumi yang hebat. Langit menjadi gelap. Artaban terjatuh, nafasnya tersengal. Tidak ada lagi batu yang dapat dia berikan kepada sang Raja. Tanpa terasa air mata mulai membasahi ujung matanya. Artaban kecewa. Hidupnya terasa gagal. Dia akan meninggalkan dunia ini tanpa bertemu dengan sang Raja, tanpa dapat memberikan apa-apa. Pandangannya mulai kabur. Segala yang dia lihat tampak berwarna putih. Tiba-tiba muncul cahaya bersinar sangat terang. Sayup-sayup dia mendengar suara “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Artaban menghembuskan nafasnya. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman. Ketiga hadiahnya telah sampai ke tangan sang Raja.

23. Herodes

Herodes adalah contoh manusia yang penuh kepalsuan. Alkitab hanya mencatat sisi gelap dari sosok manusia ini. Namun sejarah mencatat dengan lebih lengkap. Ada beberapa hal “baik” yang Herodes lakukan, namun tetap berujung pada kegelapan. Karena kebaikannya itulah maka Herodes kemudian mendapat gelar Herodes yang Agung. Apa yang dia lakukan? Beberapa hal dapat dirinci sebagai berikut. Ia satu-satunya penguasa yang dapat memulihkan kedamaian dan tata tertib dan ketenteraman hidup. Ia adalah bapak pembangunan. Ia juga yang kemudian membangun kembali Bait Suci di Yerusalem. Ia bisa bersikap sangat murah hati. Pada waktu kondisi ekonomi sulit, ia memberikan keringanan pajak. Bahkan pada waktu bahaya kelaparan menyerang pada tahun 25 sM, Herodes menjual emas-emasnya untuk membeli bahan makanan dan dibagikan kepada rakyatnya. Baik bukan? Ya. Namun dibalik semua itu, ada sisi kegelapan. Semua kebaikan yang Herodes lakukan boleh jadi hanya semacam iming-iming agar rakyat senang kepadanya. Kenyataannya demikian. Maka kekuasaan Herodes makin lama makin besar dan meluas. Dia berkuasa cukup lama di tanah Kanaan.

Semakin tua Herodes, semakin tampak aslinya. Dia adalah seorang yang sangat keras dan kejam. Disamping itu, dia adalah seorang yang penuh rasa curiga. Siapa saja yang dicurigai akan mengguncangkan kekuasaannya pasti akan habis dibunuh. Bayangkan. Herodes tidak segan-segan membunuh isterinya sendiri yang bernama Mariamne, beserta ibunya yang bernama Alexandra. Anaknya yang tertua bernama Antipater juga dibunuh, juga dua orang anaknya yang lain yang bernama Alexander dan Aristobulus. Kaisar Agustus di Roma sampai berkata getir, bahwa lebih baik menjadi babi milik Herodes daripada menjadi anaknya.

Dengan sifat-sifat seperti itu, tidak heran kalau kemudian dia terkejut mendengar kabar bahwa ada Raja yang akan dilahirkan di tanah Yudea. Maka kepalsuannya kembali muncul. Dengan berpura-pura ingin menyembah sang Raja Mungil, dia bertanya dengan teliti kepada para Majus. Tidak heran juga jika kemudian Herodes memerintahkan membunuh semua bayi berumur 2 tahun ke bawah karena tidak berhasil menemukan bayi Yesus Kristus.

Sesungguhnya kepalsuan adalah hal yang sangat dibenci oleh Tuhan. Yesaya pernah mencatat "Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.” (Yesaya 1:11-15).

Marilah hilangkan segala kepalsuan. Marilah hidup dalam kebenaran. Berkata benar dan terus terang terkadang memang terasa lebih menyakitkan, namun juga memperjelas persoalan. Berkatalah ya untuk yang ya dan tidak untuk yang tidak. Kepalsuan bukan hanya membingungkan orang lain, tetapi juga membunuh diri sendiri.

Thursday, 16 December 2010

22. Betlehem

Nabi Mikha yang hidup sekitar tahun 700 sM, pernah menyatakan tempat kelahiran Sang Juru Selamat: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mikha 5:1). Seperti apa sebetulnya kota Betlehem itu? Mengapa dia dikatakan kota yang kecil? Saya belum pernah kesana, tetapi petunjuk yang dituliskan oleh William Barclay di bawah ini cukup memberikan gambaran keadaan dan kondisi kota Betlehem.

“Betlehem adalah sebuah kota kecil, kira-kira 9 km di sebelah selatan Yerusalem. Pada zaman dahulu Betlehem juga disebut Efrat atau Efrata. Namun Betlehem sendiri berarti Rumah Roti. Betlehem terletak di daerah yang subur, cocok dengan namanya. Betlehem terletak di atas sebuah punggung bukit, yang tingginya kurang lebih 800 meter. Bukit itu dikelilingi oleh bukit-bukit yang lain yang lebih tinggi, sehingga kota Betlehem nampak seperti sebuah kota di tengah-tengah suatu stadion besar.

Betlehem mempunyai sejarah yang panjang. Di kota Betlehemlah Yakub mengubur Rachel isterinya dan mendirikan sebuah tiang batu peringatan di samping kuburan itu (Kej. 48:7; 35:20). Di kota Betlehem juga Rut hidup ketika menikah dengan Boas (Rut 1:22). Dan dari Betlehem juga Rut dapat melihat negeri Moab, tanah airnya di sebelah lembah Yordan. Di atas semuanya itu Betlehem adalah rumah dan kota Daud (1 Sam 16:1;17:12; 20:6). Dan air sumur kota Betlehem itu lah yang didambakan oleh Daud yang kehausan, ketika ia dikejar-kejar dan menjadi orang pelarian di bukit-bukit (2 Sam 23:14,15).

Itulah gambaran kota kelahiran Yesus Kristus. Masing-masing kita tentu memiliki kota kelahirannya. Saya lahir di Semarang, isteri saya lahir di Bandung dan anak saya lahir di Jakarta. Tetapi masing-masing kita tidak ada yang lahir di sebuah kandang binatang seperti Yesus. Kondisi rumah di Betlehem pada zaman itu jauh dari kondisi rumah sekarang. Pada waktu itu, rumah-rumah dibuat di lereng-lereng bukit kapur dan di bagian bawahnya dibuat semacam gua yang juga berfungsi sebagai kandang hewan. Disitulah Yesus dilahirkan. Gua tersebut menggambarkan kesediaan Kristus untuk merendahkan diri di hadapan manusia, demi keselamatan kita semua. Akankah kita bermegah karena karya keselamatan yang seperti itu? Akankah kita sekarang ini mengingat dan memperingati hari kelahiran-Nya dengan sikap angkuh dan congkak? Harapannya tentu tidak. Semoga tidak. Kesediaan Kristus merendahkan diri patut menjadi contoh bagi kita untuk melakukan hal yang serupa. Ketika banyak orang menderita karena kemiskinan yang menekan dan banyaknya bencana alam, Merapi, Wasior, Mentawai…marilah kita bersama merayakan kelahiran-Nya dengan penuh kesederhanaan.

Hai kota mungil Betlehem, betapa kau senyap;
Bintang di langit cemerlang melihat kau lelap.
Namun di lorong g’lapmu bersinar Trang baka:
Harapanmu dan doamu kini terkabullah.

Ya Yesus, Anak Betlehem, kunjungi kami pun;
Sucikanlah, masukkanlah yang mau menyambut-Mu,
Telah kami dengarkan Berita mulia:
Kau beserta manusia kekal selamanya.
(KJ 94:1,4)

Wednesday, 15 December 2010

21. An Act of Love

Christmas is an act of love. Do you realize that? I think so. When God promised to save His people, He sent His only Son to come. Why? Because He loves us. He is then willing to sacrifice His Son on behalf of our sin. This is an act of love. Love must be acted. Without action love is just a word. Nothing. No meaning at all. In a couple of days, I found a teenager…probably a young adult wrote a poem. When you have finished reading it through, you can understand why love should be followed with actions to be understood, to be meaningful.

I should have been asking these to you
How is your day?
How have you been?
Right now I am looking at your photograph
asking these stupid questions and wondering what will be your answer to me
but I have noticed it
yeah, you should have another man to say it for you

someone who cheers you up in times you cry
someone who gives you his shoulder when you cry
someone who never let go off your arms
someone who replies to your messages
someone who picks up your calls
someone who does what I have never done before

I pray hopelessly that you will be happy
Watching you day by day
Truthfully, I spoke to myself that you were happy
Honestly, I struggle to pretend that I was okay

Truly, I do care for you
but I never say it..

Now, it is almost christmas time. We understand His love for us so that He sent His Son. Every Sunday, every day we say that we love Him. Through this love we love our friends, other people of the same or different race, age, sex. What have we done to show that love? Words are not enough. Actions are necessary. Say it , show it, do it.

Let’s pray.
O my God, I love you above all things, with my whole heart and soul, because you are all-good and worthy of all love. I love my neighbor as myself for the love of you. I forgive all who have injured me, and I ask pardon of all whom I have injured.
http://www.ourcatholicprayers.com/act-of-love.html

Tuesday, 14 December 2010

20. Palungan yang Kosong

Tahun 2009 lalu, seorang pegiat lingkungan di gereja kami membuat palungan dari botol-botol plastik bekas. Seribu enam ratus lima puluh-an botol plastik digunakan untuk membuat palungan itu. Saya sempat mengambil beberapa foto palungan kosong itu. Entah kenapa saya tidak merasa aneh, sebuah palungan kosong. Berhiaskan dedauan, namun tanpa ternak. Tidak ada Maria dan Yusuf, tidak ada bayi Yesus di dalamnya. Namun demikian, warna putih dan lekak lekuk botol tertimpa cahaya lampu tampak berbinar-binar indah. Bak bintang-bintang berkerlap-kerlip di langit Bekasi.

Saya kemudian teringat sebuah cerita dalam salah satu buku Chicken Soup. Seorang pemuda sedang berbelanja untuk hari Natal ketika tiba-tiba mendengar seorang anak berpakaian lusuh dan compang-camping berkata kepada ibunya, “Bayi ini cantik sekali ma. Beli ya?” Sementara ibunya yang tidak kalah lusuh dan kumal pakaiannya tanpa menoleh segera berteriak, “Cepat letakkan boneka itu! Atau mama pukul kamu nanti.” Ketika anaknya tidak bergeming dan terus bermain-main dengan boneka Yesus itu, maka sang ibu segera menghampiri. Suasana tiba-tiba menjadi sunyi. Sepi. Tidak ada teriakan ibu, tidak ada tangisan anak. Tidak ada suara pukulan ibu kepada anak gadisnya. Sebentar kemudian suara isakan ibu itu mulai terdengar perlahan. “Maafkan ibu nak. Ibu tidak punya cukup uang untuk membelinya. Kita masih memerlukan banyak barang untuk melewati musim dingin ini.” Ibunya memeluk anaknya dengan erat. Sang anak tidak ketinggalan segera melingkarkan lengannya di leher ibunya. “Tidak apa mama. Mama tidak usah menangis. Saya sudah tidak menginginkan boneka Yesus itu lagi. Lihat ma. Boneka itu sudah saya taruh lagi di tempatnya. Lihat ma. Jangan menangis lagi ma. Guru sekolah Minggu juga sering mengajarkan bahwa Yesus sesungguhnya ada dalam hati kita semua. Tidak perlu saya membawa boneka itu.”

Ketika ibu dan anak itu mulai berjalan pergi, pemuda yang dari tadi memperhatikan kejadian itu segera mengambil boneka Yesus, berikut palungannya. Dibayarnya semua hiasan Natal itu. Segera dia berikan boneka Yesus itu kepada anak perempuan lusuh tadi. Sementara palungan kosong dia bawa pulang. Ya. Palungan kosong. Tidak apa-apa Yesus tidak ada dalam palungan tersebut. Yesus ada dalam hati kita semua.

Bagaimana dengan diri kita masing-masing? Apakah palungan hati kita siap menerima bayi Yesus? Dia yang telah datang ke dalam dunia ini menunggu dan mengetuk pintu hati kita. Ketika kita membukakan pintu itu, maka Dia akan duduk makan bersama-sama dengan kita. Mari Yesus, masuklah. Kami menunggu-Mu.

Apa engkau sedia tempat,
Bagi Juru Slamatmu,
Yang ketuk dan minta masuk
Maukah sambut Tuhanmu
Tempat untuk Raja Damai
Skarang turut printah-Nya
Bukalah pintu hatimu
Sambutlah Penebusmu

Monday, 13 December 2010

19. Para Gembala, Para Malaikat

Hanya Lukas yang mencatat mengenai gembala dan nyanyian para malaikat. Oleh karena itu menjadi menarik bagi kita untuk menyimak dan berusaha mencari tahu apa maksud Lukas sebetulnya. Dengan demikian, kisah ini tidak menjadi kisah yang mati, namun hidup karena pemaknaannya masuk dalam hati kita masing-masing.

Gembala adalah bagian dari masyarakat yang dianggap rendah pada waktu itu. Para gembala tidak mampu mengikuti ritual ibadah dengan mendetil dan baik. Oleh karena itu, para gembala bukanlah orang-orang yang terhormat. Mereka orang biasa, dan hidup hanya dari menggembala saja. Tidak ada istimewanya. Tidak memerlukan kemampuan dan kepandaian khusus.

Namun demikian, rupanya para gembala yang dicatat oleh Lukas ini adalah gembala khusus. Seperti diketahui bahwa setiap hari, pagi dan petang, selalu dipersembahkan seekor domba tanpa noda. Nah, para gemala inilah yang ditugasi untuk menjaga domba-domba tersebut. Merekalah yang kemudian pertama kali mendapat kabar dari para malaikat mengenai kedatangan, kelahiran sang Anak Domba Allah.

Kebiasaan Yahudi waktu itu ketika ada kelahiran bayi, para pemain musik lokal datang ke rumah itu dan menyanyikan lagu-lagu dengan peralatan yang sederhana. Musik dan nyanyian itu telah digantikan oleh para malaikat. Sungguh memikat. Lukas menyatukan keduanya.

*****

Dulu ada sebuah legenda seorang raja yang ingin melihat dengan mata kepala sendiri kondisi rakyatnya. Oleh karena itu, pada waktu-waktu tertentu dia keluar dari istananya dan mengenakan pakaian rakyat jelata. Berjalan-jalan ke pasar, ke kampung-kampung penduduk. Hal ini memang membuat para pengawal khawatir akan keselamatan raja tersebut. Namun, dengan tindakannya itu, raja mengerti seperti apa keadaan rakyatnya, apa kebutuhan mereka, dan apa yang sebaiknya dilakukan untuk menolong mereka. Raja damai Yesus Kristus juga melakukan hal yang sama. Allah telah turun ke dunia. Inilah kejadian paling ajaib sepanjang sejarah. Bahwa Allah sendiri ingin mengenal dan mengetahui kehidupan kita manusia. Dia melakukannya. Dan dia mengenalnya dengan baik, karena Dia telah hidup bersama-sama sekaligus sama dengan kita manusia.



Malam kudus, sunyi senyap,
Kabar baik menggegap;
Bala sorga menyanyikannya,
Kaum gembala menyaksikannya;
“Lahir Raja Syalom,
Lahir Raja Syalom.”
(KJ 92:2)

Sunday, 12 December 2010

18. Natal Anak

Natal tidak pernah lepas dari anak-anak. Bagaimana mungkin Natal tanpa anak-anak? Untuk siapa itu pohon Natal? Untuk siapa itu permen dengan bungkusnya yang indah luar biasa? Untuk siapa itu drama Natal dibuat di gereja? Natal tanpa anak-anak adalah Natal yang kering. Ya. Tentu saja. Natal sendiri pada hakekatnya memperingati Dia yang hadir dalam wujud bayi Kudus dalam palungan. Palungan yang kosong tanpa sang bayi Kudus akan sangat menggelikan. Tidak mengherankan kalau di sebuah surat kabar lokal di Amerika kemudian terbaca sebuah iklan sebagai berikut:

Apakah ada tempat di mana kami dapat meminjam seorang anak laki-laki kecil yang berusia tiga atau empat tahun untuk liburan Natal? Kami mempunyai rumah yang nyaman dan akan merawatnya dengan baik dan membawanya kembali dengan sehat walafiat. Kami dulu mempunyai seorang anak laki-laki kecil, tetapi ia tak dapat tetap bersama kami, sehingga kami amat merindukannya saat Natal tiba, - N. Muller.

Anak adalah sumber sukacita. Tidak heran juga bahwa Yesus dewasa begitu menyayangi anak-anak. Kerinduan seorang ayah yang menuliskan iklan baris itu dapat dimengerti. Selama paling tidak tiga tahun dia pernah bermain bersama, bergembira merayakan hari Natal. Namun karena sesuatu hal, dia terpaksa kehilangan anaknya. Segera keheningan menyelimuti suasa hati. Kesibukan barangkali dapat sedikit menangkal kesepian itu. Namun ketika liburan Natal tiba, ketika anak-anak libur sekolah dan bermain salju, ketika anak-anak bernyanyi bersama berkeliling kota….kepedihan itu datang kembali.

Berbahagialah keluarga yang masih memiliki anak-anak yang setia menemani. Namun, tetaplah bersukacita walaupun anak-anak tidak hadir di dalam kehidupan keluarga atau ketika anak-anak sudah menjadi besar. Ketika mereka juga memiliki keluarga mereka sendiri…. Bagaimanapun Anak kecil, Anak Kudus itu tetap ada. Dia setia dan tetap membawa sukacita ketika kita pun sudah mulai renta.



Hai, anak semua, cepat marilah!
Masukilah kandang dengan segera,
Dan lihatlah Bayi yang tidur nyenyak,
Tergolek di dalam palungan ternak.

Perhatikanlah wajah-Nya berseri,
Lembut bercahaya di malam sepi.
Meski dalam lampin,
Lebih mulia dibanding malaikat di sorga cerah.
(Puji Syukur 463)