Buletin Mercusuar edisi 11, Desember 2009 memuat kisah dengan judul di atas. Kisah tersebut sudah lama beredar di intenet secara anonim. Tidak diketahui lagi siapa yang pertama kali menuliskan kisah tersebut. Kisah ini berusaha memotret kekumuhan dan kemiskinan yang kemudian coba dikontraskan dengan kemewahan bercampur kerinduan akan kasih sayang seorang anak terhadap ibunya. Latar belakang Natal membalut keseluruhan kisah tersebut.
Tidak ada yang tahu darimana asal ibu dan anak perempuannya yang masih sangat kecil itu. Mereka memang bukan penduduk situ. Suami ibu itu yang membawa mereka dan kemudian meninggalkannya berdua, berjuang untuk hidup di tempat paling kumuh di pojokan kota. Ketika uang simpanan sudah habis, sang ibu berusaha mencari pekerjaan serabutan sementara anaknya di tinggal dalam rumah dari kardus-kardus bekas. Berbalutkan kemiskinan dan kelaparan, beberapa pengemis lain menculik anak gadis itu. Membawanya pergi sangat jauh, mendandani dan menjualnya kepada sebuah keluarga kaya raya yang tidak dapat mempunyai anak.
Anak kecil kumuh itu kemudian diberi nama Serafonna. Dia tumbuh besar dan sehat. Hidupnya berkelimpahan dengan harta dan kasih sayang orang tua asuhnya. Tidak terasa, dua puluh lima tahun sudah berlalu. Kini anak itu sudah dewasa, dan menikah dengan gubernur di daerah itu. Kehidupannya semakin gemilang. Namun suatu hari, ketika orang tua asuhnya meninggal, dia melihat sebuah foto kumal. Foto bayi dengan anting-anting sebelah kiri. Ingatannya mulai bergulir ke masa-masa 25 tahun yang lalu. Dia mulai mencocokkan anting di foto itu dengan koleksi pribadi yang sudah lama tidak pernah disentuhnya. Cocok. Bayi dalam foto itu adalah dirinya. Lalu siapa orang tua aslinya? Siapa ibunya? Gelegar dan gejolak hati yang membahana membuat Serafonna mengajukan permintaan yang luar biasa kepada suaminya. Sebarkan berita ke seluruh penjuru kota untuk mencari ibunya. Berhari-hari tidak ada kabar apa-apa. Ketika Serafonna sudah mulai putus asa, tiba-tiba telpon berdering. Ada harapan. Ada orang yang melihat wujud seorang ibu seperti yang Serafonna pernah gambarkan.
Rombongan gubernur beserta polisi dan ambulan beriringan menuju daerah yang ditunjuk. Sebuah daerah di ujung kota, di ujung jalan. Tempat yang sangat-sangat kumuh. Bau menyengat di mana-mana. Diujung jalan di tengah tumpukan sampah nampak seorang ibu tua yang sudah sekarat. Tidak bergerak namun masih hidup. Serafonna mendekat coba memastikan. Mama….begitu bisiknya. Orang tua itu sedikit bergerak. Serafonna segera memperlihatkan anting-anting kiri yang dia miliki. Nampak berusaha tersenyum sang ibu membuka tangannya. Anting-anting kanan yang sudah menghitam. Dua puluh lima tahun sang ibu mencari anaknya. Antara gila dan waras dia tak pernah berhenti berdoa untuk kebahagiaan dan kesejahteraan hidup anaknya. Mama…!!! Tanpa ragu dan jijik Serafonna memeluk orang tua itu. Diletakkannya kepalanya ke dada ibunya. Dada yang dia ingat memberikan kehangatan di hari-hari musim dingin bulan Desember. Dada yang selalu dia rindukan selama ini. Mama…jangan pergi ma….
Namun degub jantung yang sempat menguat itu akhirnya melemah dan diam. Ibu itu telah pergi dengan tenang di bawah siraman salju lembut putih bak kapas. Senyum membayang di bibirnya. Penantiannya selama seperempat abad telah membawa hasil. Langit bulan Desember menjadi saksi. Allah yang hadir dalam bentuk bayi Kudus telah mengantarkan anaknya kembali. Jalan di mana ibu itu tinggal adalah Los Felidas.
Los Felidas ada di mana-mana. Bertahun-tahun lalu saya dan keluarga juga pernah membagikan nasi bungkus kepada mereka-mereka yang sangat miskin. Malam menjelang Natal yang sangat dingin tidak menghalangi hati kami yang membara bersama dengan Roh-Nya menjenguk mereka yang terpuruk, di emperan toko, di pinggir-pinggir rel kereta api Bekasi.
Selamat Datang
Salam damai sejahtera dari kami untuk para pembaca sekalian. Blog ini mulai kami buat di awal tahun 2010 dengan tema Melangkah Bersama Tuhan. Nama Blog ini sesuai dengan harapan dan komitmen kami untuk menjalani tahun 2010 bersama dengan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan manusia sebagai umat kemuliaan-Nya.
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Sunday, 12 December 2010
Saturday, 11 December 2010
16. Maafkan Aku
Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan hati yang lebih gembira. Dengan berjalan setengah berlari dan melompat-lompat aku menuju mobil papaku yang sudah menunggu. Sekolahku memang cukup jauh sehingga tiap pagi mesti diantar oleh papaku. Kalau pulang biasanya aku pulang sendiri pakai bus kota, atau nebeng teman yang searah. Baru kemudian naik angkot dan ojeg sampai ke rumah. Hari ini tanggal satu Desember. Berarti hari Natal sudah dekat. Oleh karena itulah hatiku jadi gembira. Ya…Natal selalu membuatku gembira. Ada lagu-lagu indah, ada drama-drama Natal, ada pohon Natal dan hiasannya yang bagus-bagus, dan yang paling penting ada hadiah Natal. Hadiah dari mana-mana. Mulai dari toko di dekat rumah, dari sekolah, dari gereja dan juga dari orang tuaku sendiri. Kadang hadiahnya lebih bagus dan menarik daripada hadiah di hari ulang tahunku. Memang aneh ya. Yang dirayakan kelahirannya adalah Yesus, tetapi aku yang dapat hadiahnya. Hehehe….terima kasih Yesus.
***
Tidak terasa tibalah hari terakhir sekolahku. Liburan Natal segera tiba. Hari-hari bahagiapun sudah menanti di depan mata. Segera aku berlari menuju ke halte bus untuk menunggu bus kota yang biasa membawaku ke Bekasi tempat aku tinggal. Biasanya begitu aku masuk dan duduk di bus langsung melayang tertidur. Pernah satu kali sampai HP ku hilang diambil orang tanpa aku rasakan. Setiap kali aku tertidur dalam bus, selalu saja ada pengamen yang bernyanyi dan berjalan kesana-kemari. Sering aku jadi sebel kepada pengamen itu. Huh….mengganggu saja. Tidurku jadi tidak nyenyak bila pengamen itu ada. Namun kali ini lain. Karena hatiku begitu gembira, maka aku tidak tertidur. Dengan mata lebar aku melihat-lihat seklilingku. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara orang tepat di depanku. “Mau lagu apa dik?” Ah…rupanya sang pengamen itu. Kurang ajar. Sampai bikin aku kaget setengah mati. Aku diamkan pertanyaannya. Aku menoleh ke arah lain.
Ketika aku sedang melihat-lihat lagi ke luar jendela bus, hai….pengamen itu menyanyikan lagu-lagu Natal. Aneh rasanya ada pengamen menyanyi lagu Natal. Tapi betul. Sudah dua lagu dia nyanyikan. Pertama Malam Kudus, dan yang ke dua Santa Clause is Coming to Town. “Natal segera tiba. Yesus segera lahir. Siapa akan menyambut dia?” Seperti pengkhotbah saja si pengamen itu berteriak-teriak. Aku mulai sebel. Hatiku memang pada Natal tetapi bukan untuk si bayi. Seperti membaca perasaanku, si pengamen itu malah mendekati tempat dudukku. “Mau pesan lagu, dik? Yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris juga oke.” katanya. Huh…tidak mau. Mending cepat sampai di rumah. “Kok menyambut Yesus cemberut begitu? Emang kenapa? Gak senang Yesus datang? Atau hati dan pikiranmu sudah penuh dengan yang lain?” Aaaaah….sok teu. Walaupun aku berusaha mengelak dan tidak mendengarkan ucapannya, hatiku tersentak juga. Ada benarnya omongan si pengamen itu. Hati dan pikiranku ada pada yang lain. Hadiah! Aku tidak mengharapkan Yesus. Aku lebih mengharapkan hadiah dan gemerlapnya Natal bersama teman-temanku. Ya ampun. Kenapa aku jadi berpikiran konyol begini? Tidak! Yang paling indah di hari Natal tetap hadiah dan segala gembiraannya. Aku berusaha memejamkan mata dan tertidur.
Dalam tidurku aku bermimpi. Sebuah mimpi yang aneh. Aku merasa seperti dibawa terbang menuju ke gereja. Disana sudah banyak orang menungguku. Suasananya sangat menggembirakan. Lampu kerlap-kerlip pohon Natal menyala dengan indah. Lagu-lagu Natal diputar dengan suara yang keras. Orang-orang menari gembira. Mereka saling mengucap selamat Natal dan bertukar hadiah. Ah….aku mau ikut. Aku mau menikmati kegembiraan yang sama. Tiba-tiba ketika aku mendarat di lantai gereja, semua sudah berubah. Lampu-lampu itu semua mati. Pohon Natal belum dihiasi. Tidak ada lagu-lagu, tidak ada orang-orang menari. Tidak ada hadiah Natal! Sunyi. Perlahan aku berjalan masuk ke dalam gereja. Hiasan satu-satunya yang sudah terpasang adalah palungan dengan bayi Yesus. Di dekatnya ada Maria dan Yusuf, beserta beberapa gembala. Wajah Yesus nampak bercahaya. Eh….dia tersenyum kepadaku. Aku jadi teringat omongan si pengamen di bus. Aku tertunduk malu. Maafkan aku ya Yesus. Hatiku tertutup untukMu. Hati dan pikiranku terlalu penuh dengan hadiah dan sukacita Natal milikku sendiri.
Aku terbangun ketika kondektur bus mencolek pundakku untuk meminta bayaran. Segera kucari si pengamen tadi. Rupanya dia ada tepat di belakangku. Sambil tersenyum dia berkata, “Sekarang sudah siap?” Kali ini aku tersenyum. Dan pengamen itu segera membalikkan badan dan berlalu. Sayup-sayup di kejauhan aku mendengar dia menyanyikan satu lagu….Apa engkau sedia tempat; Bagi Juru Slamatmu; Yang ketuk dan minta masuk; Maukah sambut Tuhanmu……..(9/11/2008)
***
Tidak terasa tibalah hari terakhir sekolahku. Liburan Natal segera tiba. Hari-hari bahagiapun sudah menanti di depan mata. Segera aku berlari menuju ke halte bus untuk menunggu bus kota yang biasa membawaku ke Bekasi tempat aku tinggal. Biasanya begitu aku masuk dan duduk di bus langsung melayang tertidur. Pernah satu kali sampai HP ku hilang diambil orang tanpa aku rasakan. Setiap kali aku tertidur dalam bus, selalu saja ada pengamen yang bernyanyi dan berjalan kesana-kemari. Sering aku jadi sebel kepada pengamen itu. Huh….mengganggu saja. Tidurku jadi tidak nyenyak bila pengamen itu ada. Namun kali ini lain. Karena hatiku begitu gembira, maka aku tidak tertidur. Dengan mata lebar aku melihat-lihat seklilingku. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara orang tepat di depanku. “Mau lagu apa dik?” Ah…rupanya sang pengamen itu. Kurang ajar. Sampai bikin aku kaget setengah mati. Aku diamkan pertanyaannya. Aku menoleh ke arah lain.
Ketika aku sedang melihat-lihat lagi ke luar jendela bus, hai….pengamen itu menyanyikan lagu-lagu Natal. Aneh rasanya ada pengamen menyanyi lagu Natal. Tapi betul. Sudah dua lagu dia nyanyikan. Pertama Malam Kudus, dan yang ke dua Santa Clause is Coming to Town. “Natal segera tiba. Yesus segera lahir. Siapa akan menyambut dia?” Seperti pengkhotbah saja si pengamen itu berteriak-teriak. Aku mulai sebel. Hatiku memang pada Natal tetapi bukan untuk si bayi. Seperti membaca perasaanku, si pengamen itu malah mendekati tempat dudukku. “Mau pesan lagu, dik? Yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris juga oke.” katanya. Huh…tidak mau. Mending cepat sampai di rumah. “Kok menyambut Yesus cemberut begitu? Emang kenapa? Gak senang Yesus datang? Atau hati dan pikiranmu sudah penuh dengan yang lain?” Aaaaah….sok teu. Walaupun aku berusaha mengelak dan tidak mendengarkan ucapannya, hatiku tersentak juga. Ada benarnya omongan si pengamen itu. Hati dan pikiranku ada pada yang lain. Hadiah! Aku tidak mengharapkan Yesus. Aku lebih mengharapkan hadiah dan gemerlapnya Natal bersama teman-temanku. Ya ampun. Kenapa aku jadi berpikiran konyol begini? Tidak! Yang paling indah di hari Natal tetap hadiah dan segala gembiraannya. Aku berusaha memejamkan mata dan tertidur.
Dalam tidurku aku bermimpi. Sebuah mimpi yang aneh. Aku merasa seperti dibawa terbang menuju ke gereja. Disana sudah banyak orang menungguku. Suasananya sangat menggembirakan. Lampu kerlap-kerlip pohon Natal menyala dengan indah. Lagu-lagu Natal diputar dengan suara yang keras. Orang-orang menari gembira. Mereka saling mengucap selamat Natal dan bertukar hadiah. Ah….aku mau ikut. Aku mau menikmati kegembiraan yang sama. Tiba-tiba ketika aku mendarat di lantai gereja, semua sudah berubah. Lampu-lampu itu semua mati. Pohon Natal belum dihiasi. Tidak ada lagu-lagu, tidak ada orang-orang menari. Tidak ada hadiah Natal! Sunyi. Perlahan aku berjalan masuk ke dalam gereja. Hiasan satu-satunya yang sudah terpasang adalah palungan dengan bayi Yesus. Di dekatnya ada Maria dan Yusuf, beserta beberapa gembala. Wajah Yesus nampak bercahaya. Eh….dia tersenyum kepadaku. Aku jadi teringat omongan si pengamen di bus. Aku tertunduk malu. Maafkan aku ya Yesus. Hatiku tertutup untukMu. Hati dan pikiranku terlalu penuh dengan hadiah dan sukacita Natal milikku sendiri.
Aku terbangun ketika kondektur bus mencolek pundakku untuk meminta bayaran. Segera kucari si pengamen tadi. Rupanya dia ada tepat di belakangku. Sambil tersenyum dia berkata, “Sekarang sudah siap?” Kali ini aku tersenyum. Dan pengamen itu segera membalikkan badan dan berlalu. Sayup-sayup di kejauhan aku mendengar dia menyanyikan satu lagu….Apa engkau sedia tempat; Bagi Juru Slamatmu; Yang ketuk dan minta masuk; Maukah sambut Tuhanmu……..(9/11/2008)
Thursday, 9 December 2010
15. Lonceng
Lonceng memiliki arti yang cukup dalam bagi diri saya pribadi. Dulu sewaktu masih kecil, di dekat rumah saya di Semarang ada sebuah gereja dengan menara yang sangat tinggi. Di ujung menara itu ada sebuah lonceng gereja. Lonceng itu akan berbunyi sebagai penunjuk waktu. Pagi hari jam enam, kemudian siang hari jam dua belas, dan petang hari jam enam. Saat itu, di rumah kami tidak ada jam dinding yang dapat berbunyi ketika menunjukkan waktu tertentu. Jam tangan juga masih sangat mahal. Satu-satunya jam tangan adalah kepunyaan papi yang harus diputar supaya jarum tetap berjalan normal. Di tengah ke langkaan penunjuk waktu itu, maka suara lonceng gereja itu benar-benar penting. Dan sadar atau tidak sadar, memang suara itu dinanti-nantikan…dirindukan.
Nama kecil saya “Ling” berarti lonceng. Banyak teman saya ketika mengetahui arti nama ini sempat protes. Kenapa? Karena mereka berharap saya cukup “rame” bak sebuah lonceng yang gemerincing. Kenyataannya, saya termasuk orang yang pendiam, bicara secukupnya saja. Walau “cukup” sendiri bukan berarti sedikit. Tetapi ya..cukup. Bisa banyak bisa sedikit. Saya sendiri tidak memaknai nama saya sebagai lonceng yang gemerincing. Saya memaknai nama saya sebagai lonceng yang “mengingatkan”. Seperti lonceng gereja di dekat rumah saya yang mengingatkan akan waktu, saya sendiri ingin setiap kali “berbunyi” ada makna mengingatkan untuk selalu menjadi yang lebih baik.
Konon, dahulu kala ada sebuah gereja juga dengan menara yang tinggi. Di puncak menara juga ada sebuah lonceng. Di malam Natal, ketika anak manusia memberikan persembahan, kadang lonceng gereja itu berbunyi sendiri. Kenapa? Karena pada saat itu ada persembahan yang sangat istimewa. Namun, sudah sangat lama, lonceng gereja itu tidak pernah berbunyi lagi. Orang sudah mulai melupakan cerita itu. Banyak Natal sudah dilalui tanpa lonceng itu.
Suatu hari, seorang anak bernama Pedro berjalan kaki di malam Natal yang dingin bersama dengan adiknya menuju gereja bermenara tinggi dan berlonceng. Mereka dua pemuda miskin yang ingin menghadiri kebaktian malam Natal. Namun di tengah jalan, mereka berjumpa dengan seorang nenek yang kedinginan. Hati mereka bergejolak. Bila mereka menolong nenek itu, maka mereka akan terlambat sampai di gereja itu. Bila mereka melewati saja nenek untuk mengejar waktu, hati mereka tidak tega. Akhirnya Pedro memutuskan untuk menolong nenek itu, menyerahkan persembahan kepada adiknya dan meminta adiknya untuk berlari ke gereja agar tidak ketinggalan. Pedro memeluk nenek itu, memberikan jaketnya untuk dipakai si nenek sambil menunggu adiknya kembali.
Di dalam gereja perayaan dan ibadah malam Natal sudah hampir selesai. Tiba saatnya persembahan diberikan. Ada banyak persembahan yang indah-indah dan mahal. Beberapa orang masih mengharapkan agar lonceng gereja berbunyi. Namun sampai antrian terakhir persembahan berupa emas yang luar biasa indah cemerlang pun lonceng tidak berbunyi. Ketika orang-orang sudah mulai kembali ke tempat duduknya masing-masing, tiba-tiba terdengar suara lonceng gereja berbunyi. Sayup-sayup, makin lama makin jelas dan kencang. Jemaat segera menoleh ke tempat persembahan. Disitu ada seorang anak kecil lusuh sedang memberikan persembahannya. Dialah adik Pedro.
Lonceng adalah tanda. Selain penunjuk waktu di masa kecil saya, ia adalah sebuah tanda abadi, sebuah langkah indah untuk kemuliaan Dia yang dilahirkan pada hari Natal. Akankah lonceng dalam batin kita berdentang ketika kita memberikan persembahan untuk-Nya?
Nama kecil saya “Ling” berarti lonceng. Banyak teman saya ketika mengetahui arti nama ini sempat protes. Kenapa? Karena mereka berharap saya cukup “rame” bak sebuah lonceng yang gemerincing. Kenyataannya, saya termasuk orang yang pendiam, bicara secukupnya saja. Walau “cukup” sendiri bukan berarti sedikit. Tetapi ya..cukup. Bisa banyak bisa sedikit. Saya sendiri tidak memaknai nama saya sebagai lonceng yang gemerincing. Saya memaknai nama saya sebagai lonceng yang “mengingatkan”. Seperti lonceng gereja di dekat rumah saya yang mengingatkan akan waktu, saya sendiri ingin setiap kali “berbunyi” ada makna mengingatkan untuk selalu menjadi yang lebih baik.
Konon, dahulu kala ada sebuah gereja juga dengan menara yang tinggi. Di puncak menara juga ada sebuah lonceng. Di malam Natal, ketika anak manusia memberikan persembahan, kadang lonceng gereja itu berbunyi sendiri. Kenapa? Karena pada saat itu ada persembahan yang sangat istimewa. Namun, sudah sangat lama, lonceng gereja itu tidak pernah berbunyi lagi. Orang sudah mulai melupakan cerita itu. Banyak Natal sudah dilalui tanpa lonceng itu.
Suatu hari, seorang anak bernama Pedro berjalan kaki di malam Natal yang dingin bersama dengan adiknya menuju gereja bermenara tinggi dan berlonceng. Mereka dua pemuda miskin yang ingin menghadiri kebaktian malam Natal. Namun di tengah jalan, mereka berjumpa dengan seorang nenek yang kedinginan. Hati mereka bergejolak. Bila mereka menolong nenek itu, maka mereka akan terlambat sampai di gereja itu. Bila mereka melewati saja nenek untuk mengejar waktu, hati mereka tidak tega. Akhirnya Pedro memutuskan untuk menolong nenek itu, menyerahkan persembahan kepada adiknya dan meminta adiknya untuk berlari ke gereja agar tidak ketinggalan. Pedro memeluk nenek itu, memberikan jaketnya untuk dipakai si nenek sambil menunggu adiknya kembali.
Di dalam gereja perayaan dan ibadah malam Natal sudah hampir selesai. Tiba saatnya persembahan diberikan. Ada banyak persembahan yang indah-indah dan mahal. Beberapa orang masih mengharapkan agar lonceng gereja berbunyi. Namun sampai antrian terakhir persembahan berupa emas yang luar biasa indah cemerlang pun lonceng tidak berbunyi. Ketika orang-orang sudah mulai kembali ke tempat duduknya masing-masing, tiba-tiba terdengar suara lonceng gereja berbunyi. Sayup-sayup, makin lama makin jelas dan kencang. Jemaat segera menoleh ke tempat persembahan. Disitu ada seorang anak kecil lusuh sedang memberikan persembahannya. Dialah adik Pedro.
Lonceng adalah tanda. Selain penunjuk waktu di masa kecil saya, ia adalah sebuah tanda abadi, sebuah langkah indah untuk kemuliaan Dia yang dilahirkan pada hari Natal. Akankah lonceng dalam batin kita berdentang ketika kita memberikan persembahan untuk-Nya?
14. Dari Roh Kudus (lanjutan)
Menyimak kembali kitab Kejadian, kita tahu bahwa Roh Allah lah yang menciptakan langit dan bumi, manusia dan segala isinya. Pada mulanya bumi ini sangat tidak teratur (chaos), namun dengan kekuasaan-Nya, Allah kemudian membuatnya menjadi teratur. Ada terang, ada siang, ada malam, ada daratan, ada lautan, ada bintang, ada matahari, ada tumbuhan, ada binatang, ada manusia – laki dan perempuan. Kita juga tahu bahwa manusia itu menjadi hidup setelah Allah sendiri menghembuskan nafas kehidupan kepadanya. Maka kalau kita lihat kembali kepada kuasa Roh Kudus yang membuat Maria hamil, kita dapat meyakini bahwa Yesus hadir ke dalam dunia ini juga untuk membuat keteraturan. Kehidupan manusia yang sudah berantakan karena dosa, dibuat-Nya teratur. Hidup bukan lagi sekedar makan, minum, tidur dan bekerja, namun ada sisi-sisi rohani yang mesti diisi. Sejalan dengan bertumbuh dan berkembangnya raga, roh juga harus bertumbuh dan berkembang. Namun, dengan cara yang justru bertolak belakang. Raga bertumbuh dan berkembang bila menerima (makanan dan minuman), sementara roh bertumbuh dan berkembang justru melalui memberi. Tak heran kalau itu juga yang dicontohkan oleh Yesus sendiri dari awal kelahirannya sampai selesai di atas kayu salib. Roh Allah memberi kehidupan. Maka kita boleh mengerti bahwa sebenarnya kita manusia belum benar-benar hidup kalau Yesus tidak tinggal di dalam jiwa kita. Putusnya hubungan manusia dan Allah akibat dosa telah membuat manusia binasa dalam keberdosaannya. Hanya Yesuslah yang kemudian dapat membuat manusia hidup kembali.
Apa artinya hidup kembali? Bukan hanya berarti tersambungnya kembali relasi manusia-Allah, tetapi juga relasi manusia-manusia. Bila dulu membenci sesamanya, maka di dalam Yesus kita boleh mengasihi. Bila dulu saling mencelakakan, maka di dalam Yesus justru saling membantu. Bila dulu saling meminta, maka di dalam Yesus justru saling memberi. Bila dulu saling menyalahkan, maka di dalam Yesus justru saling memaafkan. Bila dulu hidup berpusatkan diri sendiri, maka di dalam Yesus hidup berpusatkan kepada Kristus. Menjadi serupa dengan-Nya. Itulah rahasia dan arti hidup kembali.
Makin serupa Yesus, Tuhanku
Inilah sungguh kerinduanku;
Makin bersabar, lembut dan merendah,
Makin setia dan rajin bekerja
reff
Ya Tuhanku, ku bri kan pada-Mu
Hidup penuh dan hatiku segnap
Hapuskanlah semua dosaku,
Jadikanlah…kumilik-Mu tetap.
(NKB 138:1)
Apa artinya hidup kembali? Bukan hanya berarti tersambungnya kembali relasi manusia-Allah, tetapi juga relasi manusia-manusia. Bila dulu membenci sesamanya, maka di dalam Yesus kita boleh mengasihi. Bila dulu saling mencelakakan, maka di dalam Yesus justru saling membantu. Bila dulu saling meminta, maka di dalam Yesus justru saling memberi. Bila dulu saling menyalahkan, maka di dalam Yesus justru saling memaafkan. Bila dulu hidup berpusatkan diri sendiri, maka di dalam Yesus hidup berpusatkan kepada Kristus. Menjadi serupa dengan-Nya. Itulah rahasia dan arti hidup kembali.
Makin serupa Yesus, Tuhanku
Inilah sungguh kerinduanku;
Makin bersabar, lembut dan merendah,
Makin setia dan rajin bekerja
reff
Ya Tuhanku, ku bri kan pada-Mu
Hidup penuh dan hatiku segnap
Hapuskanlah semua dosaku,
Jadikanlah…kumilik-Mu tetap.
(NKB 138:1)
13. Dari Roh Kudus
Matius mencatat bahwa kandungan Maria adalah dari Roh Kudus (Mat. 1:18), dan malaikat juga memberitakan hal yang sama kepada Yusuf (Mat.1:20). Kedua hal ini penting untuk diperhatikan, karena Yesus lahir bukan dari keinginan seorang laki-laki tetapi dari Roh Kudus sendiri. Apa maknanya? Apa yang sebenarnya ingin disampaikan?
Kembali untuk mengerti hal ini kita perlu tahu apa makna Roh Kudus bagi umat Yahudi. Bagi mereka, pertama-tama Roh Kudus adalah pribadi yang membawa kebenaran Allah kepada manusia. Para nabi zaman dahulu juga dipimpin dan diberi tahu oleh Roh Kudus. Allah ingin agar manusia mengetahui apa itu kebenaran yang sejati, yang absolut. Maka dengan perantaraan Roh Kudus inilah kemudian Allah berusaha memperkenalkan diri-Nya, kebenaran-Nya agar manusia dapat mengerti. Dengan demikian, Yesus yang hadir ke dalam dunia dengan perantaraan Roh Kudus juga mengemban tugas yang sama. Dia membawa kebenaran Allah itu kepada manusia. Memperkenalkannya. Menunjukkan. Sebelum Yesus datang, kita hanya memiliki gambaran yang samar-samar tentang siapa Allah itu sebenarnya. Namun dengan kedatangan Yesus, segalanya menjadi lebih jelas. Pribadi-Nya, kasih-Nya, kesucian-Nya, anugerah-Nya, keadilan-Nya dan sebagainya. “Barang siapa melihat Aku, ia melihat Bapa..” demikian Yesus pernah berkata.
Selain dari memperkenalkan kebenaran Allah, Roh Kudus mempunyai tugas untuk memungkinkan dan memampukan manusia untuk mengakui kebenaran yang mereka lihat itu. Dengan demikian, Yesus pun akhirnya juga membuka mata manusia akan kebenaran, dan memampukan manusia untuk percaya. Pikiran dan mata hati manusia yang sudah dibutakan oleh berbagai hal, dari keingingan daging, sampai harta dan “keindahan” dunia ini, sekarang dibukakan, dicelikkan oleh kehadiran sang Putera, Yesus Kristus. Dialah kebeneran sejati yang hadir untuk keselamatan manusia. Haleluya!
Ada sebuah ilustrasi yang mengatakan demikian: ada seorang yang sangat kaya. Dia pergi kemana saja untuk melihat keindahan dunia ini. Dia mencoba berbagai makanan yang sangat lezat di berbagai belahan dunia. Namun, ketika dia kembali ke rumahnya, hatinya masih terasa hampa. Kosong. Apa yang berhari-hari dia lalui yang dianggap banyak orang sebagai “menikmati hidup bahagia” baginya tidak berarti apa-apa. Akhirnya si orang kaya ini pergi menjumpai seorang pendeta. Dari percakapan yang cukup lama dengan pendeta itu, akhirnya dia mengerti dan mengenal Yesus. Kebenaran yang sejati. Mulai dari saat itu, dia mengerti untuk apa dia hidup. Kemana kehidupan ini akan menuju, dan apa yang harus dia kerjakan selagi ada waktu.
William Barclay pernah berkata, “Hidup ini memang menjadi berbeda apabila Yesus datang dan mengajar kita untuk melihat segala sesuatu. Kalau Yesus datang ke dalam hidup kita, Ia membuka mata kita dan memampukan kita melihat segala sesuatu secara benar.”
Kembali untuk mengerti hal ini kita perlu tahu apa makna Roh Kudus bagi umat Yahudi. Bagi mereka, pertama-tama Roh Kudus adalah pribadi yang membawa kebenaran Allah kepada manusia. Para nabi zaman dahulu juga dipimpin dan diberi tahu oleh Roh Kudus. Allah ingin agar manusia mengetahui apa itu kebenaran yang sejati, yang absolut. Maka dengan perantaraan Roh Kudus inilah kemudian Allah berusaha memperkenalkan diri-Nya, kebenaran-Nya agar manusia dapat mengerti. Dengan demikian, Yesus yang hadir ke dalam dunia dengan perantaraan Roh Kudus juga mengemban tugas yang sama. Dia membawa kebenaran Allah itu kepada manusia. Memperkenalkannya. Menunjukkan. Sebelum Yesus datang, kita hanya memiliki gambaran yang samar-samar tentang siapa Allah itu sebenarnya. Namun dengan kedatangan Yesus, segalanya menjadi lebih jelas. Pribadi-Nya, kasih-Nya, kesucian-Nya, anugerah-Nya, keadilan-Nya dan sebagainya. “Barang siapa melihat Aku, ia melihat Bapa..” demikian Yesus pernah berkata.
Selain dari memperkenalkan kebenaran Allah, Roh Kudus mempunyai tugas untuk memungkinkan dan memampukan manusia untuk mengakui kebenaran yang mereka lihat itu. Dengan demikian, Yesus pun akhirnya juga membuka mata manusia akan kebenaran, dan memampukan manusia untuk percaya. Pikiran dan mata hati manusia yang sudah dibutakan oleh berbagai hal, dari keingingan daging, sampai harta dan “keindahan” dunia ini, sekarang dibukakan, dicelikkan oleh kehadiran sang Putera, Yesus Kristus. Dialah kebeneran sejati yang hadir untuk keselamatan manusia. Haleluya!
Ada sebuah ilustrasi yang mengatakan demikian: ada seorang yang sangat kaya. Dia pergi kemana saja untuk melihat keindahan dunia ini. Dia mencoba berbagai makanan yang sangat lezat di berbagai belahan dunia. Namun, ketika dia kembali ke rumahnya, hatinya masih terasa hampa. Kosong. Apa yang berhari-hari dia lalui yang dianggap banyak orang sebagai “menikmati hidup bahagia” baginya tidak berarti apa-apa. Akhirnya si orang kaya ini pergi menjumpai seorang pendeta. Dari percakapan yang cukup lama dengan pendeta itu, akhirnya dia mengerti dan mengenal Yesus. Kebenaran yang sejati. Mulai dari saat itu, dia mengerti untuk apa dia hidup. Kemana kehidupan ini akan menuju, dan apa yang harus dia kerjakan selagi ada waktu.
William Barclay pernah berkata, “Hidup ini memang menjadi berbeda apabila Yesus datang dan mengajar kita untuk melihat segala sesuatu. Kalau Yesus datang ke dalam hidup kita, Ia membuka mata kita dan memampukan kita melihat segala sesuatu secara benar.”
Monday, 6 December 2010
12. Yusuf dan Maria
Apakah Yusuf dan Maria sudah resmi menjadi suami isteri ketika Roh Kudus membuahi Maria? Kalau kita melihat ayat berikut, kesimpulannya sich belum ya.. “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.” Namun cukup mengherankan respon dari Yusuf ketika mendengar bahwa Maria telah mengandung. Coba baca ini “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.” Lho, katanya belum resmi jadi suami isteri, kok sekarang ingin menceraikan? Apa sebenarnya yang terjadi? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu mengerti kondisi budaya Yahudi saat itu, khususnya berkenaan dengan perkawinan.
Dalam budaya Yahudi, ada 3 macam tingkat hubungan laki-laki dan perempuan. Dari mulai tahap saling berjanji, kemudian tahap pertunangan dan terakhir adalah tahap pernikahan. Tahap pertama, yang disebut sebagai tahap saling berjanji, boleh jadi bukan dilakukan oleh masing-masing individu sendiri. Tetapi bisa juga kedua orang tua yang sudah saling mengenal kemudian saling berjanji untuk “besanan”. Bahkan seringkali individu yang bersangkutan malah belum tahu atau belum saling mengenal sama sekali. Perkawinan adalah sesuatu yang amat sangat penting bagi kaum Yahudi. Sehingga orang tua benar-benar harus campur tangan di dalamnya, dari sangat awal perkenalan. Menjaga kemurnian salah satu tujuannya.
Sesudah saling berjanji, tahap berikutnya adalah tahap pertunangan. Sebelum mencapai tahap ini, apabila salah satu pihak ingin mengundurkan diri dan tidak meneruskan, dapat saja terjadi. Namun sekali sudah masuk ke tahap ini, dan diumumkan kepada khalayak ramai, maka pertunangan menjadi sah meskipun pasangan belum memiliki hak sebagai suami isteri. Pada tahap ini, apabila mereka ingin berpisah, harus melalui jalur hukum atau dengan perantaraan beberapa orang saksi. Dalam tahap inilah rupanya Maria hamil oleh Roh Kudus, dan Yusuf mencoba memilih perceraian secara diam-diam dengan memanggil saksi. Untung berhasil digagalkan oleh Tuhan sendiri. Tahap akhir dari pertunangan ini adalah tahap dari perkawinan itu sendiri.
Yesus adalah nama Yunani untuk Yusak (Yosua) yang berarti Tuhan adalah keselamatan. Yusuf diberi tahu bahwa bayi yang akan lahir itu adalah Juruselamat manusia. Dan hendaknya diberi nama Yesus. Disini Matius hendak menegaskan bahwa walaupun Yesus adalah keturunan raja, namun Dia adalah Raja yang lain. Dia bukan raja yang memerintah dengan kuasa dan pasukan perang. Dia adalah Raja yang menyelamatkan umat yang menyambut Dia.
Tuhan meninggikan yang suka merendah;
Oleh-Nya disingkirkan yang angkuh bermegah.
Yang tulus hatinya niscaya dilayakkan,
Menyambut kedatangan Sang Raja Mulia.
(PKJ 60:3)
Dalam budaya Yahudi, ada 3 macam tingkat hubungan laki-laki dan perempuan. Dari mulai tahap saling berjanji, kemudian tahap pertunangan dan terakhir adalah tahap pernikahan. Tahap pertama, yang disebut sebagai tahap saling berjanji, boleh jadi bukan dilakukan oleh masing-masing individu sendiri. Tetapi bisa juga kedua orang tua yang sudah saling mengenal kemudian saling berjanji untuk “besanan”. Bahkan seringkali individu yang bersangkutan malah belum tahu atau belum saling mengenal sama sekali. Perkawinan adalah sesuatu yang amat sangat penting bagi kaum Yahudi. Sehingga orang tua benar-benar harus campur tangan di dalamnya, dari sangat awal perkenalan. Menjaga kemurnian salah satu tujuannya.
Sesudah saling berjanji, tahap berikutnya adalah tahap pertunangan. Sebelum mencapai tahap ini, apabila salah satu pihak ingin mengundurkan diri dan tidak meneruskan, dapat saja terjadi. Namun sekali sudah masuk ke tahap ini, dan diumumkan kepada khalayak ramai, maka pertunangan menjadi sah meskipun pasangan belum memiliki hak sebagai suami isteri. Pada tahap ini, apabila mereka ingin berpisah, harus melalui jalur hukum atau dengan perantaraan beberapa orang saksi. Dalam tahap inilah rupanya Maria hamil oleh Roh Kudus, dan Yusuf mencoba memilih perceraian secara diam-diam dengan memanggil saksi. Untung berhasil digagalkan oleh Tuhan sendiri. Tahap akhir dari pertunangan ini adalah tahap dari perkawinan itu sendiri.
Yesus adalah nama Yunani untuk Yusak (Yosua) yang berarti Tuhan adalah keselamatan. Yusuf diberi tahu bahwa bayi yang akan lahir itu adalah Juruselamat manusia. Dan hendaknya diberi nama Yesus. Disini Matius hendak menegaskan bahwa walaupun Yesus adalah keturunan raja, namun Dia adalah Raja yang lain. Dia bukan raja yang memerintah dengan kuasa dan pasukan perang. Dia adalah Raja yang menyelamatkan umat yang menyambut Dia.
Tuhan meninggikan yang suka merendah;
Oleh-Nya disingkirkan yang angkuh bermegah.
Yang tulus hatinya niscaya dilayakkan,
Menyambut kedatangan Sang Raja Mulia.
(PKJ 60:3)
11. Maria Imakulata
Maria Imakulata bukanlah nama sembarang nama. Ia mengandung arti Maria yang Kudus. Maria memang jarang disebut, dibicarakan, diagungkan di kalangan gereja protestan. Oleh karena itu, doktrin atau pengajaran tentang ke-Kudusan-an Maria ini hampir tidak pernah dibicarakan di gereja protestan. Namun demikian, secara sadar atau tidak sadar kita juga mengakui bahwa Maria adalah kudus – suci bukan hanya karena dia belum pernah berhubungan dengan laki-laki ketika mengandung Yesus Kristus, tetapi jauh lebih dalam dan mulia daripada itu. Karena kalangan gereja protestan termasuk GKI tidak mengembangkan ajaran ini, maka pembahasan mengenai kekudusan Maria ini saya intip dari doktrin dan ajaran dari gereja Katolik.
Pengajaran mengenai kekudusan Maria dikeluarkan oleh Paus Pius IX pada tahun 1854. Prinsip dasar yang dipegang adalah bahwa Yesus harus lahir tanpa dosa. Oleh karena itu, ibunya juga harus tanpa dosa. Kenapa demikian? Karena kita mengenal istilah “dosa asal”, bahwa manusia selalu dikandung dan dilahirkan dalam dosa. Bila memang demikian, bagaimana mungkin Maria bisa tanpa dosa? Ada intervensi Allah disini. Tidak seperti orang-orang lain yang pengampunan dan penyucian atas dosanya berlaku melalui baptisan dan imannya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, Maria tidak perlu mengalami itu semua. Kuasa penyucian dan pengampunan Yesus berlaku surut (retroaktif) bahkan sebelum Maria mulai hidup di dalam rahim ibunya. Dosa tidak pernah menyentuh jiwanya, namun kutukan atas Adam tetap berlaku terhadap tubuhnya.
Apa yang dapat kita pelajari dari Maria? Tentu kemampuannya sangat luarbiasa mempertahankan kekudusan itu hingga Roh Kudus membuahi dan Yesus dilahirkan. Tidak heran kalau kemudian Maria dianggap sebagai wanita yang mulia, bukan hanya karena dia adalah ibu Sang Juruselamat, tetapi karena dia mampu menyediakan diri dan mempersiapkan diri menjadi ibu Sang Penyelamat Dunia. Ada sebuah doa yang khusus didedikasikan untuk sang bunda. Salam Maria.
Salam Maria, penuh rahmat,
Tuhan sertamu;
Terpujilah engkau di antara wanita,
Dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, bunda Allah,
Doakanlah kami yang berdosa ini
Sekarang dan waktu kami mati.
Amin.
Ave Maria, gratia plena,
Dominus tecum,
Benedicta tu in mulieribus,
Et benedictus fructus ventris tui, Jesus.
Sancta Maria, Mater Dei,
Ora pro nobis peccartoribus, nunc, et in hora mortis nostrae.
Amen.
Pengajaran mengenai kekudusan Maria dikeluarkan oleh Paus Pius IX pada tahun 1854. Prinsip dasar yang dipegang adalah bahwa Yesus harus lahir tanpa dosa. Oleh karena itu, ibunya juga harus tanpa dosa. Kenapa demikian? Karena kita mengenal istilah “dosa asal”, bahwa manusia selalu dikandung dan dilahirkan dalam dosa. Bila memang demikian, bagaimana mungkin Maria bisa tanpa dosa? Ada intervensi Allah disini. Tidak seperti orang-orang lain yang pengampunan dan penyucian atas dosanya berlaku melalui baptisan dan imannya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, Maria tidak perlu mengalami itu semua. Kuasa penyucian dan pengampunan Yesus berlaku surut (retroaktif) bahkan sebelum Maria mulai hidup di dalam rahim ibunya. Dosa tidak pernah menyentuh jiwanya, namun kutukan atas Adam tetap berlaku terhadap tubuhnya.
Apa yang dapat kita pelajari dari Maria? Tentu kemampuannya sangat luarbiasa mempertahankan kekudusan itu hingga Roh Kudus membuahi dan Yesus dilahirkan. Tidak heran kalau kemudian Maria dianggap sebagai wanita yang mulia, bukan hanya karena dia adalah ibu Sang Juruselamat, tetapi karena dia mampu menyediakan diri dan mempersiapkan diri menjadi ibu Sang Penyelamat Dunia. Ada sebuah doa yang khusus didedikasikan untuk sang bunda. Salam Maria.
Salam Maria, penuh rahmat,
Tuhan sertamu;
Terpujilah engkau di antara wanita,
Dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, bunda Allah,
Doakanlah kami yang berdosa ini
Sekarang dan waktu kami mati.
Amin.
Ave Maria, gratia plena,
Dominus tecum,
Benedicta tu in mulieribus,
Et benedictus fructus ventris tui, Jesus.
Sancta Maria, Mater Dei,
Ora pro nobis peccartoribus, nunc, et in hora mortis nostrae.
Amen.
Subscribe to:
Posts (Atom)