Apakah Yusuf dan Maria sudah resmi menjadi suami isteri ketika Roh Kudus membuahi Maria? Kalau kita melihat ayat berikut, kesimpulannya sich belum ya.. “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.” Namun cukup mengherankan respon dari Yusuf ketika mendengar bahwa Maria telah mengandung. Coba baca ini “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.” Lho, katanya belum resmi jadi suami isteri, kok sekarang ingin menceraikan? Apa sebenarnya yang terjadi? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu mengerti kondisi budaya Yahudi saat itu, khususnya berkenaan dengan perkawinan.
Dalam budaya Yahudi, ada 3 macam tingkat hubungan laki-laki dan perempuan. Dari mulai tahap saling berjanji, kemudian tahap pertunangan dan terakhir adalah tahap pernikahan. Tahap pertama, yang disebut sebagai tahap saling berjanji, boleh jadi bukan dilakukan oleh masing-masing individu sendiri. Tetapi bisa juga kedua orang tua yang sudah saling mengenal kemudian saling berjanji untuk “besanan”. Bahkan seringkali individu yang bersangkutan malah belum tahu atau belum saling mengenal sama sekali. Perkawinan adalah sesuatu yang amat sangat penting bagi kaum Yahudi. Sehingga orang tua benar-benar harus campur tangan di dalamnya, dari sangat awal perkenalan. Menjaga kemurnian salah satu tujuannya.
Sesudah saling berjanji, tahap berikutnya adalah tahap pertunangan. Sebelum mencapai tahap ini, apabila salah satu pihak ingin mengundurkan diri dan tidak meneruskan, dapat saja terjadi. Namun sekali sudah masuk ke tahap ini, dan diumumkan kepada khalayak ramai, maka pertunangan menjadi sah meskipun pasangan belum memiliki hak sebagai suami isteri. Pada tahap ini, apabila mereka ingin berpisah, harus melalui jalur hukum atau dengan perantaraan beberapa orang saksi. Dalam tahap inilah rupanya Maria hamil oleh Roh Kudus, dan Yusuf mencoba memilih perceraian secara diam-diam dengan memanggil saksi. Untung berhasil digagalkan oleh Tuhan sendiri. Tahap akhir dari pertunangan ini adalah tahap dari perkawinan itu sendiri.
Yesus adalah nama Yunani untuk Yusak (Yosua) yang berarti Tuhan adalah keselamatan. Yusuf diberi tahu bahwa bayi yang akan lahir itu adalah Juruselamat manusia. Dan hendaknya diberi nama Yesus. Disini Matius hendak menegaskan bahwa walaupun Yesus adalah keturunan raja, namun Dia adalah Raja yang lain. Dia bukan raja yang memerintah dengan kuasa dan pasukan perang. Dia adalah Raja yang menyelamatkan umat yang menyambut Dia.
Tuhan meninggikan yang suka merendah;
Oleh-Nya disingkirkan yang angkuh bermegah.
Yang tulus hatinya niscaya dilayakkan,
Menyambut kedatangan Sang Raja Mulia.
(PKJ 60:3)
Selamat Datang
Salam damai sejahtera dari kami untuk para pembaca sekalian. Blog ini mulai kami buat di awal tahun 2010 dengan tema Melangkah Bersama Tuhan. Nama Blog ini sesuai dengan harapan dan komitmen kami untuk menjalani tahun 2010 bersama dengan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan manusia sebagai umat kemuliaan-Nya.
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Monday, 6 December 2010
11. Maria Imakulata
Maria Imakulata bukanlah nama sembarang nama. Ia mengandung arti Maria yang Kudus. Maria memang jarang disebut, dibicarakan, diagungkan di kalangan gereja protestan. Oleh karena itu, doktrin atau pengajaran tentang ke-Kudusan-an Maria ini hampir tidak pernah dibicarakan di gereja protestan. Namun demikian, secara sadar atau tidak sadar kita juga mengakui bahwa Maria adalah kudus – suci bukan hanya karena dia belum pernah berhubungan dengan laki-laki ketika mengandung Yesus Kristus, tetapi jauh lebih dalam dan mulia daripada itu. Karena kalangan gereja protestan termasuk GKI tidak mengembangkan ajaran ini, maka pembahasan mengenai kekudusan Maria ini saya intip dari doktrin dan ajaran dari gereja Katolik.
Pengajaran mengenai kekudusan Maria dikeluarkan oleh Paus Pius IX pada tahun 1854. Prinsip dasar yang dipegang adalah bahwa Yesus harus lahir tanpa dosa. Oleh karena itu, ibunya juga harus tanpa dosa. Kenapa demikian? Karena kita mengenal istilah “dosa asal”, bahwa manusia selalu dikandung dan dilahirkan dalam dosa. Bila memang demikian, bagaimana mungkin Maria bisa tanpa dosa? Ada intervensi Allah disini. Tidak seperti orang-orang lain yang pengampunan dan penyucian atas dosanya berlaku melalui baptisan dan imannya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, Maria tidak perlu mengalami itu semua. Kuasa penyucian dan pengampunan Yesus berlaku surut (retroaktif) bahkan sebelum Maria mulai hidup di dalam rahim ibunya. Dosa tidak pernah menyentuh jiwanya, namun kutukan atas Adam tetap berlaku terhadap tubuhnya.
Apa yang dapat kita pelajari dari Maria? Tentu kemampuannya sangat luarbiasa mempertahankan kekudusan itu hingga Roh Kudus membuahi dan Yesus dilahirkan. Tidak heran kalau kemudian Maria dianggap sebagai wanita yang mulia, bukan hanya karena dia adalah ibu Sang Juruselamat, tetapi karena dia mampu menyediakan diri dan mempersiapkan diri menjadi ibu Sang Penyelamat Dunia. Ada sebuah doa yang khusus didedikasikan untuk sang bunda. Salam Maria.
Salam Maria, penuh rahmat,
Tuhan sertamu;
Terpujilah engkau di antara wanita,
Dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, bunda Allah,
Doakanlah kami yang berdosa ini
Sekarang dan waktu kami mati.
Amin.
Ave Maria, gratia plena,
Dominus tecum,
Benedicta tu in mulieribus,
Et benedictus fructus ventris tui, Jesus.
Sancta Maria, Mater Dei,
Ora pro nobis peccartoribus, nunc, et in hora mortis nostrae.
Amen.
Pengajaran mengenai kekudusan Maria dikeluarkan oleh Paus Pius IX pada tahun 1854. Prinsip dasar yang dipegang adalah bahwa Yesus harus lahir tanpa dosa. Oleh karena itu, ibunya juga harus tanpa dosa. Kenapa demikian? Karena kita mengenal istilah “dosa asal”, bahwa manusia selalu dikandung dan dilahirkan dalam dosa. Bila memang demikian, bagaimana mungkin Maria bisa tanpa dosa? Ada intervensi Allah disini. Tidak seperti orang-orang lain yang pengampunan dan penyucian atas dosanya berlaku melalui baptisan dan imannya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, Maria tidak perlu mengalami itu semua. Kuasa penyucian dan pengampunan Yesus berlaku surut (retroaktif) bahkan sebelum Maria mulai hidup di dalam rahim ibunya. Dosa tidak pernah menyentuh jiwanya, namun kutukan atas Adam tetap berlaku terhadap tubuhnya.
Apa yang dapat kita pelajari dari Maria? Tentu kemampuannya sangat luarbiasa mempertahankan kekudusan itu hingga Roh Kudus membuahi dan Yesus dilahirkan. Tidak heran kalau kemudian Maria dianggap sebagai wanita yang mulia, bukan hanya karena dia adalah ibu Sang Juruselamat, tetapi karena dia mampu menyediakan diri dan mempersiapkan diri menjadi ibu Sang Penyelamat Dunia. Ada sebuah doa yang khusus didedikasikan untuk sang bunda. Salam Maria.
Salam Maria, penuh rahmat,
Tuhan sertamu;
Terpujilah engkau di antara wanita,
Dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Santa Maria, bunda Allah,
Doakanlah kami yang berdosa ini
Sekarang dan waktu kami mati.
Amin.
Ave Maria, gratia plena,
Dominus tecum,
Benedicta tu in mulieribus,
Et benedictus fructus ventris tui, Jesus.
Sancta Maria, Mater Dei,
Ora pro nobis peccartoribus, nunc, et in hora mortis nostrae.
Amen.
Saturday, 4 December 2010
10. Garis Kehidupan Manusia
Dalam tulisan yang lalu kita sudah mengerti bahwa Matius sengaja membagi silsilah Yesus menjadi tiga bagian. Dan masing-masing bagian terdiri dari empat belas keturunan. Dimulai dari Abraham hingga Daud. Sejarah Israel memang dimulai dari pemanggilan Abraham. Dari situlah Allah berjanji membuat keturunan Abraham menjadi bangsa yang besar. Dan puncak kejayaan Israel tercapai pada saat Daud menjadi raja.
Bagian kedua dari silsilah itu dimulai dari Daud sampai ke pembuangan ke Babel. Jelas terlihat disini bahwa kerajaan Israel mengalami kemerosotan. Raja Daud telah tiada. Israel menjadi bulan-bulanan dan akhirnya terpaksa tinggal di tanah asing. Menjadi tawanan asing.
Bagian ketiga dari silsilah dimulai dari pembuangan ke Babel hingga lahirnya sang Juru Selamat, Yesus Kristus. Bangsa yang sudah lumpuh itu kembali menemukan pengharapan. Raja yang sudah pergi itu digantikan bahkan oleh Raja yang lebih besar dan mulia. Kerajaan-Nya bukan hanya di palestina saja tetapi mencakup seluruh bumi.
Coba perhatikan baik-baik. Bukankah ke tiga bagian silsilah itu mencerminkan kehidupan manusia ini? Manusia diciptakan untuk mencapai kemuliaan. Manusia diciptakan segambar dengan Penciptanya sendiri. Segambar dengan Allah. Hanya manusia yang mendapatkan nafas Allah, dan ia menjadi hidup. Hanya manusia yang digambarkan dengan ungkapan “sungguh amat baik.”
Namun pada gilirannya manusia tidak mampu mempertahankan kemuliaan itu. Manusia lebih memilih melawan Allah yang menciptakannya. Manusia berontak. Ia ingin bukan saja bersaing dengan Allah, tetapi juga ingin hidup bebas dari ketergantungan dengan Allah. Kehidupan tanpa ketergantungan dengan Allah ini membawa manusia jatuh, runtuh dan kehilangan segala kemuliaannya.
Beruntung Allah tidak tinggal diam. Dalam keterpurukan manusia Allah memberikan inisiatifnya untuk menyelamatkan. Dijanjikannya penyelamat yang akan menghancurkan kepala ular itu. Manusia yang sudah putus hubungan dengan Allah kembali menikmati persekutuan yang indah dengan Penciptanya. Allah telah turun ke dunia. Firman telah menjadi manusia. Yesus Kristus, sang penyelamat telah lahir di Betlehem.
Sungguh indah apa yang digambarkan oleh Matius. Pengharapan manusia tidak sia-sia. Pengharapan umat Allah tidak sia-sia. Dengan pulihnya hubungan manusia dengan Allah, pulih jugalah kemuliaannya sebagai umat Allah. Bahkan kepada mereka yang percaya kepada Sang Penyelamat itu diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Luar biasa! Pembagian menjadi 3 bagian generasi itu sungguh membantu kita mengerti dari mana asal kita, apa yang terjadi dengan diri kita, dan kemana tujuan kita sebagai manusia.
Natal bukan cuma basa-basi. Natal mencerminkan penggenapan janji Allah kepada manusia pertama itu, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kejadian 3:15).
Bagian kedua dari silsilah itu dimulai dari Daud sampai ke pembuangan ke Babel. Jelas terlihat disini bahwa kerajaan Israel mengalami kemerosotan. Raja Daud telah tiada. Israel menjadi bulan-bulanan dan akhirnya terpaksa tinggal di tanah asing. Menjadi tawanan asing.
Bagian ketiga dari silsilah dimulai dari pembuangan ke Babel hingga lahirnya sang Juru Selamat, Yesus Kristus. Bangsa yang sudah lumpuh itu kembali menemukan pengharapan. Raja yang sudah pergi itu digantikan bahkan oleh Raja yang lebih besar dan mulia. Kerajaan-Nya bukan hanya di palestina saja tetapi mencakup seluruh bumi.
Coba perhatikan baik-baik. Bukankah ke tiga bagian silsilah itu mencerminkan kehidupan manusia ini? Manusia diciptakan untuk mencapai kemuliaan. Manusia diciptakan segambar dengan Penciptanya sendiri. Segambar dengan Allah. Hanya manusia yang mendapatkan nafas Allah, dan ia menjadi hidup. Hanya manusia yang digambarkan dengan ungkapan “sungguh amat baik.”
Namun pada gilirannya manusia tidak mampu mempertahankan kemuliaan itu. Manusia lebih memilih melawan Allah yang menciptakannya. Manusia berontak. Ia ingin bukan saja bersaing dengan Allah, tetapi juga ingin hidup bebas dari ketergantungan dengan Allah. Kehidupan tanpa ketergantungan dengan Allah ini membawa manusia jatuh, runtuh dan kehilangan segala kemuliaannya.
Beruntung Allah tidak tinggal diam. Dalam keterpurukan manusia Allah memberikan inisiatifnya untuk menyelamatkan. Dijanjikannya penyelamat yang akan menghancurkan kepala ular itu. Manusia yang sudah putus hubungan dengan Allah kembali menikmati persekutuan yang indah dengan Penciptanya. Allah telah turun ke dunia. Firman telah menjadi manusia. Yesus Kristus, sang penyelamat telah lahir di Betlehem.
Sungguh indah apa yang digambarkan oleh Matius. Pengharapan manusia tidak sia-sia. Pengharapan umat Allah tidak sia-sia. Dengan pulihnya hubungan manusia dengan Allah, pulih jugalah kemuliaannya sebagai umat Allah. Bahkan kepada mereka yang percaya kepada Sang Penyelamat itu diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Luar biasa! Pembagian menjadi 3 bagian generasi itu sungguh membantu kita mengerti dari mana asal kita, apa yang terjadi dengan diri kita, dan kemana tujuan kita sebagai manusia.
Natal bukan cuma basa-basi. Natal mencerminkan penggenapan janji Allah kepada manusia pertama itu, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kejadian 3:15).
Friday, 3 December 2010
9. Green Christmas
Buletin Mercusuar edisi 7, Desember 2007 mengusung tema I am dreaming of a green christmas. Ya. Memang ini pelesetan dari lagu Natal terkenal I am dreaming of a white christmas. Namun kerinduan itu memang ada. Natal yang hijau. Dalam buletin tersebut, dikatakan bahwa Natal banyak menghasilkan sampah. Lalu kemana sampah itu? Puluhan bahkan ratusan truk sampah setiap hari memadati jalanan ke TPA Bantar Gebang, Bekasi. Seberapa kontribusi kita? Dan sesudah perayaan atau “pesta” Natal kita, apa saja yang kita buang? Mencemarikah? Apakah itu semua terpikirkan oleh kita yang merayakan datangnya sang Bayi Kudus? Natal selalu dominan dengan warna hijau dan merah. Ya. Itulah memang warna Natal. Merah adalah lambang darah Yesus yang tercurah demi keselamatan manusia, sementara hijau adalah lambang kesuburan dan pengharapan bagi dunia.
Natal yang hijau. Mungkinkah? Mungkin saja bila kita mau peduli. Coba perhatikan apa yang kita beli untuk merayakan Natal. Berapa banyak kantung plastik yang ada. Kita dapat berbelanja dengan membawa tas sendiri sehingga tidak menambah konsumsi plastik. Bagaimana dengan Kartu Natal? Di seluruh dunia jumlah kartu Natal luar biasa banyak. Ribuan pohon ditebang untuk membuat kartu Natal. Untung sekarang teknologi membantu mengurangi pemakaian kartu untuk sekadar mengucapkan “Selamat Natal.”
Di saat tulisan ini dibuat, di Jakarta sedang ramai didengungkan adanya Green Festival. Sebuah perhelatan nasional dalam rangka pendidikan lingkungan. Tema kali ini adalah Solusi untuk Bumi. Ya. Udara yang makin memanas ini perlu dicegah atau diperlambat untuk menjadi cepat panas. Banyak hal buruk akan terjadi bila bumi terus memanas. Maka Natal yang hijau haruslah menjadi impian dan tujuan semua orang yang merayakan.
Tiga tahun sesudah tema Green Christmas, buletin yang sama mengangkat tema untuk edisi 19, Desember 2010 “Padang Rumput, Riwayatmu Dulu..” Ini juga pelesetan sebuah lagu “Bengawan Solo.” Tema lingkungan masih marak. Sebab bumi memang masih harus kita tinggali, dan tinggalkan untuk anak cucu kita semua. Bila kita lengah, jangan-jangan cucu kita akan bertanya kelak, padang rumput itu apa sich opa? Akan menangiskah kita mendengar pertanyaan itu? Atau malah tertawa geli?
Natal yang hijau, padang rumput yang hijau tetap menjadi kerinduan. Seperti para gembala yang mendengar kabar kelahiran sang Putera Kudus. Mereka sedang beristirahat di hamparan padang rumput, sehabis memberi makan domba-domba mereka. Padang rumput hijau itu harus masih ada sampai nanti. Padang rumput hijau itu harus masih ada untuk anak cucu cicit kita.
Dengan peduli, Natal yang hijau akan terwujud. Pohon-pohon mulai tumbuh. Bunga-bunga bermekaran. Rumput-rumput menjadi gemuk. Daun melambai-lambai mengundang kita bersama berseru “Aku merindukan Natal yang hijau!” Ya. Sekarang. Disini.
“Green Christmas is not just a dream but a reality. Ubahlah gaya hidup kita. Hentikan pemborosan. Pakai lagi. Kelola lagi. Kurangi lagi……(Evangeline Pua).”
Natal yang hijau. Mungkinkah? Mungkin saja bila kita mau peduli. Coba perhatikan apa yang kita beli untuk merayakan Natal. Berapa banyak kantung plastik yang ada. Kita dapat berbelanja dengan membawa tas sendiri sehingga tidak menambah konsumsi plastik. Bagaimana dengan Kartu Natal? Di seluruh dunia jumlah kartu Natal luar biasa banyak. Ribuan pohon ditebang untuk membuat kartu Natal. Untung sekarang teknologi membantu mengurangi pemakaian kartu untuk sekadar mengucapkan “Selamat Natal.”
Di saat tulisan ini dibuat, di Jakarta sedang ramai didengungkan adanya Green Festival. Sebuah perhelatan nasional dalam rangka pendidikan lingkungan. Tema kali ini adalah Solusi untuk Bumi. Ya. Udara yang makin memanas ini perlu dicegah atau diperlambat untuk menjadi cepat panas. Banyak hal buruk akan terjadi bila bumi terus memanas. Maka Natal yang hijau haruslah menjadi impian dan tujuan semua orang yang merayakan.
Tiga tahun sesudah tema Green Christmas, buletin yang sama mengangkat tema untuk edisi 19, Desember 2010 “Padang Rumput, Riwayatmu Dulu..” Ini juga pelesetan sebuah lagu “Bengawan Solo.” Tema lingkungan masih marak. Sebab bumi memang masih harus kita tinggali, dan tinggalkan untuk anak cucu kita semua. Bila kita lengah, jangan-jangan cucu kita akan bertanya kelak, padang rumput itu apa sich opa? Akan menangiskah kita mendengar pertanyaan itu? Atau malah tertawa geli?
Natal yang hijau, padang rumput yang hijau tetap menjadi kerinduan. Seperti para gembala yang mendengar kabar kelahiran sang Putera Kudus. Mereka sedang beristirahat di hamparan padang rumput, sehabis memberi makan domba-domba mereka. Padang rumput hijau itu harus masih ada sampai nanti. Padang rumput hijau itu harus masih ada untuk anak cucu cicit kita.
Dengan peduli, Natal yang hijau akan terwujud. Pohon-pohon mulai tumbuh. Bunga-bunga bermekaran. Rumput-rumput menjadi gemuk. Daun melambai-lambai mengundang kita bersama berseru “Aku merindukan Natal yang hijau!” Ya. Sekarang. Disini.
“Green Christmas is not just a dream but a reality. Ubahlah gaya hidup kita. Hentikan pemborosan. Pakai lagi. Kelola lagi. Kurangi lagi……(Evangeline Pua).”
Thursday, 2 December 2010
8. Empat Perempuan
Pengantar
Beberapa waktu lalu saya pernah menuliskan bahwa ada noda hitam dalam silsilah Yesus Kristus yang dibuat oleh Matius. Noda hitam itu khususnya terdapat pada 4 orang perempuan Tamar, Rahab, Rut dan Batsyeba. Ketika tulisan saya itu dibaca oleh seorang teman, dia berkomentar bahwa tidak ada noda hitam dalam ke empat orang perempuan tersebut. Sebagai contoh: Tamar. Ketika Tamar berhubungan dengan Yehuda, dia memang sudah sebagai janda, dan Yehuda adalah seorang duda. Saya berkilah, coba lihat Kej 38:14 “maka ditanggalkannyalah pakaian kejandaannya, ia bertelekung dan berselubung, lalu pergi duduk di pintu masuk ke Enaim yang di jalan ke Timna, karena dilihatnya, bahwa Syela telah menjadi besar, dan dia tidak diberikan juga kepada Syela itu untuk menjadi isterinya.” Bukankah itu menunjukkan bahwa Tamar secara diam-diam melacurkan diri dan menjebak Yehuda? Kawan saya menjawab kembali, bahwa kalau kacamata modern yang dipakai barangkali kesimpulan itu benar. Namun maksud narrator, penulis kitab Kejadian tidak seperti itu. Buktinya, pada akhirnya tindakan Tamar dibenarkan oleh Yehuda sendiri (Kej38:26).
*****
Sampai disini, saya lalu membaca ulang semua kisah empat perempuan tersebut. Tamar adalah korban. Dia tidak ingin melacurkan diri. Dia didiamkan saja oleh Yehuda, karena ketakutan Yehuda sendiri. Dua anak laki-lakinya meninggal ketika kawin dengan Tamar. Jangan-jangan yang ke tiga juga demikian. Maka ketika anaknya yang ke tiga sudah dewasa pun, Tamar dibiarkan tetap sebagai janda. Padahal peraturannya jelas. Tamar adalah korban, namun dia tidak tinggal diam. Tamar berusaha melakukan sesuatu – untuk mendapatkan hak nya sebagai seorang perempuan. Tetap dalam koridor hukum yang berlaku saat itu. Tamar akhirnya dibenarkan – dan melahirkan dua orang anak. Salah satunya adalah nenek moyang Yesus Kristus.
Rahab adalah perempuan sundal. Jelas ditulis dalam Alkitab. Tampaknya ini noda hitam itu. Tetapi dia juga bukan orang sembarangan. Perhatikan kata-katanya ketika dua orang pengintai suruhan Yosua datang menginap di rumahnya, “Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu.” (Yosua 2:9). Rahab rupanya mengenal sejarah bangsa Israel dan pimpinan Tuhan dari mulai keluar dari Mesir. Di ayat-ayat selanjutnya dia mampu bercerita mengenai pimpinan Tuhan terhadap bangsa Israel dengan baik. Rahab percaya kepada Tuhan, Allah Israel. Tidak heran penulis kitab Ibrani juga membenarkan Rahab (Ibrani 11:31). Rahab adalah orang beriman. Melalui rahimnya lahir nenek moyang Yesus Kristus.
Rut adalah perempuan Moab. Dia bukan Yahudi. Tampaknya ini noda hitam juga dalam silsilah Yesus Kristus. Tapi lihat apa yang dia katakan ketika Naomi, mertuanya meminta dia kembali ke tanah Moab, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; (Rut 1:16). Tampak sekali bahwa Rut juga mengenal siapa Allah Israel sebenarnya. Dia memiliki kualitas iman yang luar biasa. Maka ketika akhirnya Rut menikah dengan Boas, dari rahimnya dilahirkan nenek moyang Yesus Kristus.
Batsyeba adalah korban. Siapa yang bermasalah dan bersalah dalam kisah luar biasa ini? Daud. Ya. Raja Daud, raja terbesar bangsa Israel itulah yang bermasalah. Batsyeba tidak memiliki kemampuan apa-apa. Dia perempuan yang pasrah terhadap jalinan hidup yang mesti dijalaninya. Oleh karena itu, Allah sendiri menjadi pembelanya melalui nabi Natan. Tidak ada ucapan keluar dari mulut Batsyeba kecuali pemberitahuan kepada Daud “Aku mengandung.” Pemberitahuan itulah yang kemudian membuat Daud kebakaran jenggot dan merencanakan pembunuhan demi menutupi perselingkuhannya. Batsyeba adalah perempuan baik dan dari rahimnya juga lahir nenek moyang Yesus Kristus.
Terima kasih buat teman saya. Kesimpulan bacaan ulang saya adalah tidak ada noda hitam dari ke empat perempuan tersebut. Lalu untuk apa Matius mencantumkan dalam silsilahnya? Apa tujuannya? Apa maksudnya? Dugaan saya Matius ingin meruntuhkan tembok-tembok yang biasa diciptakan oleh orang-orang Yahudi. Kalangan umat Yahudi yang sangat patriakal, biasanya tidak pernah memunculkan perempuan dalam silsilah. Bahkan ada doa ucapan syukur di kalangan umat Yahudi yang diucapkan oleh para lelaki bahwa mereka sungguh bersyukur tidak dilahirkan sebagai perempuan. Demikianlah keadaan saat itu. Namun Matius dengan berani memunculkan nama-nama perempuan tersebut dalam silsilah sang Raja. Matius ingin menunjukkan bahwa kelahiran Yesus menghancurkan tembok pemisah laki-laki dan perempuan. Di mata Allah laki-laki dan perempuan sama saja. Tidak ada perbedaan gender.
Kalau kita lihat lagi nama Rut dan Rahab, keduanya bukan orang Yahudi. Rut adalah perempuan Moab, dan Rahab adalah perempuan asing bukan Yahudi. Matius tetap menggunakan kedua nama tersebut. Apa maksudnya? Sekali lagi Matius hendak menghancurkan tembok pemisah Yahudi dan non-Yahudi. Umat Israel yang dipanggil menjadi bangsa terpilih, telah berusaha memurnikan dirinya sendiri. Mereka cenderung menganggap bangsa-bangsa lain sebagai kafir, dan najis. Hanya bangsa Yahudi saja yang murni dan suci. Pandangan Matius dan tentu saja pandangan Allah tidaklah demikian. Selain menghancurkan tembok pemisah gender, melalui silsilah ini tembok kebangsaan juga dihancurkan. Bagaimanapun di dalam pandangan Allah, semua bangsa adalah sama. Mereka adalah sesama manusia, sesama mahluk ciptaan. Munculnya perempuan asing dalam silsilah menunjukkan kesediaan Allah merangkum segala bangsa untuk diselamatkan.
Bagaikan sebuah prosesi, empat perempuan itu telah ikut mengiring kedatangan, kelahiran sang Juru Selamat. Marilah kita menyambut Natal dengan tanpa tembok pemisah. Apakah itu gender, kebangsaan, sosial, suku bahkan agama. Matius telah mengingatkan dan memberikan contoh melalui silsilah yang dia siapkan. Allah mengasihi mereka semua, dan untuk mereka jugalah lah Yesus hadir di dunia ini.
Beberapa waktu lalu saya pernah menuliskan bahwa ada noda hitam dalam silsilah Yesus Kristus yang dibuat oleh Matius. Noda hitam itu khususnya terdapat pada 4 orang perempuan Tamar, Rahab, Rut dan Batsyeba. Ketika tulisan saya itu dibaca oleh seorang teman, dia berkomentar bahwa tidak ada noda hitam dalam ke empat orang perempuan tersebut. Sebagai contoh: Tamar. Ketika Tamar berhubungan dengan Yehuda, dia memang sudah sebagai janda, dan Yehuda adalah seorang duda. Saya berkilah, coba lihat Kej 38:14 “maka ditanggalkannyalah pakaian kejandaannya, ia bertelekung dan berselubung, lalu pergi duduk di pintu masuk ke Enaim yang di jalan ke Timna, karena dilihatnya, bahwa Syela telah menjadi besar, dan dia tidak diberikan juga kepada Syela itu untuk menjadi isterinya.” Bukankah itu menunjukkan bahwa Tamar secara diam-diam melacurkan diri dan menjebak Yehuda? Kawan saya menjawab kembali, bahwa kalau kacamata modern yang dipakai barangkali kesimpulan itu benar. Namun maksud narrator, penulis kitab Kejadian tidak seperti itu. Buktinya, pada akhirnya tindakan Tamar dibenarkan oleh Yehuda sendiri (Kej38:26).
*****
Sampai disini, saya lalu membaca ulang semua kisah empat perempuan tersebut. Tamar adalah korban. Dia tidak ingin melacurkan diri. Dia didiamkan saja oleh Yehuda, karena ketakutan Yehuda sendiri. Dua anak laki-lakinya meninggal ketika kawin dengan Tamar. Jangan-jangan yang ke tiga juga demikian. Maka ketika anaknya yang ke tiga sudah dewasa pun, Tamar dibiarkan tetap sebagai janda. Padahal peraturannya jelas. Tamar adalah korban, namun dia tidak tinggal diam. Tamar berusaha melakukan sesuatu – untuk mendapatkan hak nya sebagai seorang perempuan. Tetap dalam koridor hukum yang berlaku saat itu. Tamar akhirnya dibenarkan – dan melahirkan dua orang anak. Salah satunya adalah nenek moyang Yesus Kristus.
Rahab adalah perempuan sundal. Jelas ditulis dalam Alkitab. Tampaknya ini noda hitam itu. Tetapi dia juga bukan orang sembarangan. Perhatikan kata-katanya ketika dua orang pengintai suruhan Yosua datang menginap di rumahnya, “Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu.” (Yosua 2:9). Rahab rupanya mengenal sejarah bangsa Israel dan pimpinan Tuhan dari mulai keluar dari Mesir. Di ayat-ayat selanjutnya dia mampu bercerita mengenai pimpinan Tuhan terhadap bangsa Israel dengan baik. Rahab percaya kepada Tuhan, Allah Israel. Tidak heran penulis kitab Ibrani juga membenarkan Rahab (Ibrani 11:31). Rahab adalah orang beriman. Melalui rahimnya lahir nenek moyang Yesus Kristus.
Rut adalah perempuan Moab. Dia bukan Yahudi. Tampaknya ini noda hitam juga dalam silsilah Yesus Kristus. Tapi lihat apa yang dia katakan ketika Naomi, mertuanya meminta dia kembali ke tanah Moab, “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; (Rut 1:16). Tampak sekali bahwa Rut juga mengenal siapa Allah Israel sebenarnya. Dia memiliki kualitas iman yang luar biasa. Maka ketika akhirnya Rut menikah dengan Boas, dari rahimnya dilahirkan nenek moyang Yesus Kristus.
Batsyeba adalah korban. Siapa yang bermasalah dan bersalah dalam kisah luar biasa ini? Daud. Ya. Raja Daud, raja terbesar bangsa Israel itulah yang bermasalah. Batsyeba tidak memiliki kemampuan apa-apa. Dia perempuan yang pasrah terhadap jalinan hidup yang mesti dijalaninya. Oleh karena itu, Allah sendiri menjadi pembelanya melalui nabi Natan. Tidak ada ucapan keluar dari mulut Batsyeba kecuali pemberitahuan kepada Daud “Aku mengandung.” Pemberitahuan itulah yang kemudian membuat Daud kebakaran jenggot dan merencanakan pembunuhan demi menutupi perselingkuhannya. Batsyeba adalah perempuan baik dan dari rahimnya juga lahir nenek moyang Yesus Kristus.
Terima kasih buat teman saya. Kesimpulan bacaan ulang saya adalah tidak ada noda hitam dari ke empat perempuan tersebut. Lalu untuk apa Matius mencantumkan dalam silsilahnya? Apa tujuannya? Apa maksudnya? Dugaan saya Matius ingin meruntuhkan tembok-tembok yang biasa diciptakan oleh orang-orang Yahudi. Kalangan umat Yahudi yang sangat patriakal, biasanya tidak pernah memunculkan perempuan dalam silsilah. Bahkan ada doa ucapan syukur di kalangan umat Yahudi yang diucapkan oleh para lelaki bahwa mereka sungguh bersyukur tidak dilahirkan sebagai perempuan. Demikianlah keadaan saat itu. Namun Matius dengan berani memunculkan nama-nama perempuan tersebut dalam silsilah sang Raja. Matius ingin menunjukkan bahwa kelahiran Yesus menghancurkan tembok pemisah laki-laki dan perempuan. Di mata Allah laki-laki dan perempuan sama saja. Tidak ada perbedaan gender.
Kalau kita lihat lagi nama Rut dan Rahab, keduanya bukan orang Yahudi. Rut adalah perempuan Moab, dan Rahab adalah perempuan asing bukan Yahudi. Matius tetap menggunakan kedua nama tersebut. Apa maksudnya? Sekali lagi Matius hendak menghancurkan tembok pemisah Yahudi dan non-Yahudi. Umat Israel yang dipanggil menjadi bangsa terpilih, telah berusaha memurnikan dirinya sendiri. Mereka cenderung menganggap bangsa-bangsa lain sebagai kafir, dan najis. Hanya bangsa Yahudi saja yang murni dan suci. Pandangan Matius dan tentu saja pandangan Allah tidaklah demikian. Selain menghancurkan tembok pemisah gender, melalui silsilah ini tembok kebangsaan juga dihancurkan. Bagaimanapun di dalam pandangan Allah, semua bangsa adalah sama. Mereka adalah sesama manusia, sesama mahluk ciptaan. Munculnya perempuan asing dalam silsilah menunjukkan kesediaan Allah merangkum segala bangsa untuk diselamatkan.
Bagaikan sebuah prosesi, empat perempuan itu telah ikut mengiring kedatangan, kelahiran sang Juru Selamat. Marilah kita menyambut Natal dengan tanpa tembok pemisah. Apakah itu gender, kebangsaan, sosial, suku bahkan agama. Matius telah mengingatkan dan memberikan contoh melalui silsilah yang dia siapkan. Allah mengasihi mereka semua, dan untuk mereka jugalah lah Yesus hadir di dunia ini.
7. Taat Maka Selamat
Sebagian besar kecelakaan lalu lintas adalah karena ketidaktaatan. Baik itu ketidaktaatan dia sendiri yang mengalami kecelakaan, atau ketidaktaatan orang lain yang kemudian menyebabkan orang lain celaka. Ya. Lampu sudah menyala merah, namun tetap melaju. Akhirnya terjadi kecelakaan. Palang pintu kereta api sudah mulai turun, tetap saja diterobos, akhirnya mobil hancur ditabrak kereta. Bahkan kecelakaan yang nampaknya bukan karena ketidaktaatan pun, sesungguhnya bila diteliti lebih dalam penyebab utamanya adalah ketidaktaatan juga. Ban yang meletus misalnya. Ini akibat ketidaktaatan pengecekan berkala. Bila kembang sudah mulai menipis, ban harus segera diganti. Atau pengecekan tekanan angin. Terlalu keras dapat menyebabkan ban meletus di hari panas di jalanan yang panas karena udara dalam ban memuai. Tekanan angin yang terlalu rendah pun dapat menyebabkan ban pecah, karena retak-retak yang timbul di dinding ban.
Dalam pengalaman saya di pekerjaan juga seperti itu. Kecelakaan yang terjadi di pabrik juga sebagian besar akibat ketidaktaatan mengerjakan suatu pekerjaan sesuai prosedur yang sudah ditetapkan. Bahkan break down mesin juga penyebab utamanya adalah ketidaktaatan bagian produksi atau maintenance dalam merawat dan menggunakan mesin produksi.
Manusia pertama jatuh ke dalam dosa juga akibat ketidaktaatan mereka untuk berpegang pada Firman dan Perintah Tuhan. Akibatnya manusia butuh penyelamat. Dia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Maka Allah pun kemudian mengirimkan Sang Juruselamat ke dalam dunia ini. Namun, memang Penyelamat ini unik. Yesaya mencatat demikian “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.” Sungguh di luar harapan manusia pada umumnya. Penyelamat itu ternyata bukan orang yang wah. Maka Paulus juga memberikan nasehat kepada jemaatnya di Korintus demikian, “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,…” Penyelamat itu memang tidak membawa harta dan kereta kuda. Namun Dia membawa dan memberikan kehidupan. Percayalah kepada-Nya. Taatilah perintah-perintah-Nya, maka kita akan selamat.
Setialah, setialah selama hidupmu.
Ikuti jalan Tuhanmu dengan tetap teguh.
Meski penuh derita di dalam dunia,
Tetapi jangan kau gentar, tetap setialah.
Setialah, setialah mengikut Tuhanmu.
Bersaksilah di dunia tentang Penebusmu
Yang mati disalibkan di bukit Golgota,
Tetapi Dia bangkitlah, besar kuasa-Nya.
Setialah, setialah menjadi hamba-Nya.
Meski besar rintanganmu, tetap percayalah.
Selalu kau dibimbing ke air yang tenang,
Kelak yang terang.
(NKB 154)
Dalam pengalaman saya di pekerjaan juga seperti itu. Kecelakaan yang terjadi di pabrik juga sebagian besar akibat ketidaktaatan mengerjakan suatu pekerjaan sesuai prosedur yang sudah ditetapkan. Bahkan break down mesin juga penyebab utamanya adalah ketidaktaatan bagian produksi atau maintenance dalam merawat dan menggunakan mesin produksi.
Manusia pertama jatuh ke dalam dosa juga akibat ketidaktaatan mereka untuk berpegang pada Firman dan Perintah Tuhan. Akibatnya manusia butuh penyelamat. Dia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Maka Allah pun kemudian mengirimkan Sang Juruselamat ke dalam dunia ini. Namun, memang Penyelamat ini unik. Yesaya mencatat demikian “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.” Sungguh di luar harapan manusia pada umumnya. Penyelamat itu ternyata bukan orang yang wah. Maka Paulus juga memberikan nasehat kepada jemaatnya di Korintus demikian, “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,…” Penyelamat itu memang tidak membawa harta dan kereta kuda. Namun Dia membawa dan memberikan kehidupan. Percayalah kepada-Nya. Taatilah perintah-perintah-Nya, maka kita akan selamat.
Setialah, setialah selama hidupmu.
Ikuti jalan Tuhanmu dengan tetap teguh.
Meski penuh derita di dalam dunia,
Tetapi jangan kau gentar, tetap setialah.
Setialah, setialah mengikut Tuhanmu.
Bersaksilah di dunia tentang Penebusmu
Yang mati disalibkan di bukit Golgota,
Tetapi Dia bangkitlah, besar kuasa-Nya.
Setialah, setialah menjadi hamba-Nya.
Meski besar rintanganmu, tetap percayalah.
Selalu kau dibimbing ke air yang tenang,
Kelak yang terang.
(NKB 154)
Wednesday, 1 December 2010
6. Malam Kudus
Seperti sudah pernah saya utarakan sebelumnya, lagu Malam Kudus adalah lagu pertama yang saya pelajari ketika saya masih kecil. Lagu itu begitu indah dan menyentuh. Begini bunyinya dalam bahasa Indonesia.
Malam kudus, sunyi senyap; Dunia terlelap.
Hanya dua berjaga terus – ayah bunda mesra dan kudus;
Anak tidur tenang, Anak tidur tenang.
Malam kudus, sunyi senyap, Kabar Baik menggegap;
Bala sorga menyanyikannya, kaum gembala menyaksikannya
“Lahir Raja Syalom, lahir Raja Syalom!”
Malam kudus, sunyi senyap. Kurnia dan berkat
Tercermin bagi kami terus, di wajah-Mu, ya Anak kudus,
Cinta kasih kekal, cinta kasih kekal.
Bukan hanya lagu ini yang membawa sukacita dan perdamaian, tetapi bagaimana lagu ini tercipta telah menjadi sebuah cerita yang banyak menjadi berkat bagi mereka yang membacanya. Mari kita tengok lagi secara sekilas.
Ada sebuah gereja kecil di daerah Oberndorf, yang ketika menjelang malam Natal orgelnya rusak. Tikus-tikus telah memakan bagian-bagian orgel tua itu sehingga kerusakannya memang betul-betul parah. Sementara tukang orgel berusaha memperbaiki, terpaksa ibadah pada malam hari tanggal 23 Desember dipindah ke rumah seorang pengusaha kaya. Pendeta Josepth Mohr juga ikut dalam ibadah itu. Setelah usai ibadah malam itu, pendeta Joseph Mohr mendaki sebuah bukit kecil. Di tengah malam itu, diantara tiupan angin malam yang dingin sepoi, dia memandang ke bawah. Kerlap-kerlip lampu minyak. Di langit yang cerah dia melihat kerlap-kerlip bintang bertaburan sangat banyak. Jiwanya tersentuh. Roh Tuhan hadir dan merasuki batinnya. Tiba di rumah dia tidak dapat segera tidur, namun menuliskan sebuah puisi… Malam Kudus.
Keesokan harinya puisi itu diserahkan kepada temannya Franz Gruber, yang saat itu menjadi kepala tim musik di gereja itu. Sambil memberikan lembaran kertas itu, pendeta Josepth Mohr berkata “Kalau mau tuliskan lagunya juga.” Franz Gruber setuju – maka terciptalah sebuah lagu indah yang tidak pernah lupa kita nyanyikan saat Natal – Malam Kudus.
Apakah semuanya itu sebuah kebetulan? Apakah sebuah kebetulan bahwa orgel besar itu rusak? Apakah sebuah kebetulan saja pendeta Joseph Mohr ikut beribadah di rumah usahawan dekat bukit kecil itu? Apakah sebuah kebetulan saja dia menaiki bukit dan memandang ke bawah dan ke langit? Apakah sebuah kebetulan bahwa temannya Franz Gruber bersedia membuatkan lagu? Bukan kebetulan? Kalau begitu kepada siapa kita akan mengucap syukur?
Kita hadir di dunia ini tidak pernah “kebetulan”. Ada maksud Allah di dalam kehidupan kita masing-masing. Cari dan temukan itu.
Malam kudus, sunyi senyap; Dunia terlelap.
Hanya dua berjaga terus – ayah bunda mesra dan kudus;
Anak tidur tenang, Anak tidur tenang.
Malam kudus, sunyi senyap, Kabar Baik menggegap;
Bala sorga menyanyikannya, kaum gembala menyaksikannya
“Lahir Raja Syalom, lahir Raja Syalom!”
Malam kudus, sunyi senyap. Kurnia dan berkat
Tercermin bagi kami terus, di wajah-Mu, ya Anak kudus,
Cinta kasih kekal, cinta kasih kekal.
Bukan hanya lagu ini yang membawa sukacita dan perdamaian, tetapi bagaimana lagu ini tercipta telah menjadi sebuah cerita yang banyak menjadi berkat bagi mereka yang membacanya. Mari kita tengok lagi secara sekilas.
Ada sebuah gereja kecil di daerah Oberndorf, yang ketika menjelang malam Natal orgelnya rusak. Tikus-tikus telah memakan bagian-bagian orgel tua itu sehingga kerusakannya memang betul-betul parah. Sementara tukang orgel berusaha memperbaiki, terpaksa ibadah pada malam hari tanggal 23 Desember dipindah ke rumah seorang pengusaha kaya. Pendeta Josepth Mohr juga ikut dalam ibadah itu. Setelah usai ibadah malam itu, pendeta Joseph Mohr mendaki sebuah bukit kecil. Di tengah malam itu, diantara tiupan angin malam yang dingin sepoi, dia memandang ke bawah. Kerlap-kerlip lampu minyak. Di langit yang cerah dia melihat kerlap-kerlip bintang bertaburan sangat banyak. Jiwanya tersentuh. Roh Tuhan hadir dan merasuki batinnya. Tiba di rumah dia tidak dapat segera tidur, namun menuliskan sebuah puisi… Malam Kudus.
Keesokan harinya puisi itu diserahkan kepada temannya Franz Gruber, yang saat itu menjadi kepala tim musik di gereja itu. Sambil memberikan lembaran kertas itu, pendeta Josepth Mohr berkata “Kalau mau tuliskan lagunya juga.” Franz Gruber setuju – maka terciptalah sebuah lagu indah yang tidak pernah lupa kita nyanyikan saat Natal – Malam Kudus.
Apakah semuanya itu sebuah kebetulan? Apakah sebuah kebetulan bahwa orgel besar itu rusak? Apakah sebuah kebetulan saja pendeta Joseph Mohr ikut beribadah di rumah usahawan dekat bukit kecil itu? Apakah sebuah kebetulan saja dia menaiki bukit dan memandang ke bawah dan ke langit? Apakah sebuah kebetulan bahwa temannya Franz Gruber bersedia membuatkan lagu? Bukan kebetulan? Kalau begitu kepada siapa kita akan mengucap syukur?
Kita hadir di dunia ini tidak pernah “kebetulan”. Ada maksud Allah di dalam kehidupan kita masing-masing. Cari dan temukan itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)