Tulisan saya YUK BELAJAR BERPIKIR setelah saya lempar ke beberapa milis yang saya ikuti lumayan mendapat respon. Ada minta, ada komentar macam-macam sehingga menambah selain semaraknya milis juga kemampuan berpikir. Memang salah satu cara belajar berpikir adalah dengan menulis. Beberapa komentar yang cukup relevan dengan topik ini akan coba saya rangkum dan uraikan pada beberapa paragraf di bawah.
Rene Descartes mengatakan ‘cogito ergo sum’ yang biasa diartikan bahwa aku berpikir maka aku ada. Seorang teman langsung mengomentari “maka dari itu berpikirlah supaya dianggap ada”. Sebetulnya berpikir saja belumlah cukup. Ketika pikiran itu berdampak entah negatif entah positif barulah kemudian orang-orang yang terkena dampaknya menyadari..ooo ada orang toh disini.
Ketika masyarakat masih sangat sederhana, belum ada TV, radio, HP, internet dan berbagai teknologi komunikasi lainnya, manusia sudah mengerti pentingnya latihan berpikir. Mereka melakukannya dengan meditasi. Japa mala (Hindu/Budha), tasbih (Islam), dan rosario (Katolik) adalah alat-alat yang membantu meditasi. Latihan untuk fokus dan konsentrasi sehingga kemampuan berpikirpun akan meningkat – karena pikiran menjadi tenang dan terang. Berpikir rupaya bukan hanya menggunakan ratio tetapi juga perasaan. Salah satu contoh adalah kisah yang diceritakan oleh Yesus tentang orang Samaria yang baik hati. Walaupun pada awalnya si ahli Taurat mengajak berpikir tentang “siapakah sesamaku manusia”, pada akhir cerita Yesus mengajak si ahli Taurat berpikir sekaligus “merasakan” sesama bagi siapakah saya ini? Oleh sebab itu tidaklah mengherankan kalau Paulus juga memberi nasehat agar kita menaruh pikiran dan perasaan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari.
Puisi anonim yang saya kutip dalam tulisan terdahulu, ternyata memiliki tandingannya. Karena tulisan tandingan ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ada baiknya saya kutipkan juga disini. Kata-kata kita mengungkapkan pemikiran kita. Sikap kita mencerminkan harga diri kita. Tindakan kita menunjukkan watak kita. Kebiasaan kita meramalkan masa depat kita (William Arthur Ward). Mirip bukan? Untuk lebih memantapkan proses pemikiran sampai ke masa depan, seorang kawan yang terbiasa kerja di perusahaan manufacturing mengungkapkan sebuah rumusan I -- P -- O. Input, Process, Output. Saya tidak cocok dengan rumusan ini.
Saya meyakini akan lebih cocok dan menghindari ada pembelokan pemikiran serta lebih merangsang orang untuk berpikir kalau rumusannya dibalik I -- P -- O (dengan arah panah ke kiri). Orang sono menyebut rumusan ini start from the end. Hasil seperti apa yang ingin kita harapkan, maka kita atur prosesnya sedemikian rupa, dan kita siapkan bahan-bahan dasarnya sesuai spesifikasi. Dalam puisi anonim saya kemarin jadinya kita mulai dari thoughts --- words --- actions --- habits --- character --- destiny (dengan arah panah ke kiri).
Yuk mulai belajar berpikir destiny seperti apa yang kita inginkan.
Selamat Datang
Salam damai sejahtera dari kami untuk para pembaca sekalian. Blog ini mulai kami buat di awal tahun 2010 dengan tema Melangkah Bersama Tuhan. Nama Blog ini sesuai dengan harapan dan komitmen kami untuk menjalani tahun 2010 bersama dengan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dan menciptakan manusia sebagai umat kemuliaan-Nya.
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Kami akan menyajikan renungan-renungan yang kami buat sendiri berdasarkan pengalaman pribadi, pendengaran dari orang lain yang diolah, maupun dari bacaan-bacaan yang kami dapat.
Selamat membaca, dan semoga membawa berkat bagi Anda semua.
Salam dari kami,
Julianto Djajakartika
Thursday, 15 July 2010
Monday, 12 July 2010
Yuk Belajar Berpikir
Salah satu perbedaan mendasar manusia dan binatang adalah kemampuan manusia untuk berpikir. Oleh karena kemampuannya itu, manusia dapat menciptakan teknologi untuk membantu (dan merusak) kehidupannya. Dengan kemampuannya itu pula manusia dalam kelompoknya dapat mengembangkan sebuah kebudayaan. Pikiran memang luar biasa, karena dia dapat menentukan kehidupan umat manusia. Sebuah puisi anonim yang sangat bagus menggambarkan kekuatan pikiran itu.
Be careful of your thoughts
for your thoughts become your word.
Be careful of your words
for your words become your actions.
Be careful of your actions
for your actions become your habits.
Be careful of your habits
for your habits become your character.
Be careful of your character
for your character becomes your destiny.
Betapa benarnya ucapan dalam puisi itu. Dari sebuah pikiran, dapat timbul perkataan. Dari sebuah perkataan dapat timbul perbuatan. Dari sebuah perbuatan dapat tercipta kebiasaan. Dari sebuah kebiasaan menjadi karakter seseorang. Karakter ini akhirnya menentukan kehidupan manusia itu sendiri. Dari rangkaian kata-kata ini dapat dibayangkan betapa pentingnya pikiran kita. Seolah hidup kita sangat tergantung oleh dinamika berpikir kita sendiri. Seorang kawan menyebutkan bahwa “sopir dari kehidupan manusia adalah buah pikir manusia sendiri.” Bahkan berbagai macam masalah personal/pribadi, masalah sosial, masalah dalam keluarga, masalah di kantor atau sekolah juga timbul oleh karena ketidakmampuan seseorang untuk mengelola pikiriannya. Betulkah demikian? Coba renungkan.
Karena pentingnya pikiran kita ini, Paulus dalam berbagai tulisannya juga mengingatkan agar seiring dengan pertobatan kita dan pengenalan akan Kristus Yesus, maka selayaknya kita juga mengubah cara berpikir kita agar bersesuaian dengan Kristus sendiri (Roma 12:2, Kolose 3:2). Disamping itu, Paulus juga mengingatkan agar kita SELALU mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang positif. Apa itu? Semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8).
Yuk belajar berpikir.
Be careful of your thoughts
for your thoughts become your word.
Be careful of your words
for your words become your actions.
Be careful of your actions
for your actions become your habits.
Be careful of your habits
for your habits become your character.
Be careful of your character
for your character becomes your destiny.
Betapa benarnya ucapan dalam puisi itu. Dari sebuah pikiran, dapat timbul perkataan. Dari sebuah perkataan dapat timbul perbuatan. Dari sebuah perbuatan dapat tercipta kebiasaan. Dari sebuah kebiasaan menjadi karakter seseorang. Karakter ini akhirnya menentukan kehidupan manusia itu sendiri. Dari rangkaian kata-kata ini dapat dibayangkan betapa pentingnya pikiran kita. Seolah hidup kita sangat tergantung oleh dinamika berpikir kita sendiri. Seorang kawan menyebutkan bahwa “sopir dari kehidupan manusia adalah buah pikir manusia sendiri.” Bahkan berbagai macam masalah personal/pribadi, masalah sosial, masalah dalam keluarga, masalah di kantor atau sekolah juga timbul oleh karena ketidakmampuan seseorang untuk mengelola pikiriannya. Betulkah demikian? Coba renungkan.
Karena pentingnya pikiran kita ini, Paulus dalam berbagai tulisannya juga mengingatkan agar seiring dengan pertobatan kita dan pengenalan akan Kristus Yesus, maka selayaknya kita juga mengubah cara berpikir kita agar bersesuaian dengan Kristus sendiri (Roma 12:2, Kolose 3:2). Disamping itu, Paulus juga mengingatkan agar kita SELALU mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang positif. Apa itu? Semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4:8).
Yuk belajar berpikir.
Sunday, 4 July 2010
Hampir GOCAP
Di usia yang sudah hampir gocap ini masih adakah kegembiraan dan
sukacita ulang tahun?
Ternyata masih.
Sukacita itu terutama hadir dari sekian banyak kawan yang menyempatkan
diri untuk mengirim selamat ulang tahun.
Ada yang DP dulu sebelum hari H, karena takut lupa, ada yang pas
melewati pukul 24:00 lalu berkirim message, dan terutama di pagi hari
ini tanggal 5 Juli 2010 berjibun sms, coretan di wall facebook, bbm
sampai email. Saya pribadi bersyukur atas perhatian yang sebesar itu,
yang bukan ada karena saya sendiri saja, namun tangan Tuhan ikut
berkarya memberikan malaikat-malaikatnya di sekeliling kehidupan
mereka yang percaya dan bergantung kepada-Nya.
***
Suatu hari seorang pria dari suku Indian yang telah bertobat ditanya
oleh sahabatnya,
“Mengapa kamu selalu membicarakan dan menyebut nama Yesus?” Mendapat
pertanyaan tersebut, pria Indian ini terdiam sebentar. Bukan langsung
menjawab, ia malah mengambil sejumlah ranting dan rumput yang kering
dan dibuatnya menjadi lingkaran. Setelah jadi, ia pun membakarnya.
Namun sebelum itu, ia sudah meletakkan seekor ulat di tengah-tengah
api.
Api semakin besar, tetapi belum ada satu patah kata pun keluar dari
pria Indian tersebut. Justru ia dan sahabatnya menyaksikan bagaimana
ulat yang ditaruh di tengah-tengah api itu menggeliat dan ingin segera
keluar dari sana. Tidak lama kemudian, ia pun lalu mengeluarkan jari
tangannya dan dengan segera si ulat merambat naik dengan selamat.
“Seperti itulah yang dilakukan Tuhan Yesus ketika saya tidak berdaya,
berada di tengah-tengah bahaya, saya berseru mohon pertolongan
pada-Nya. Dia mendengarkan saya dan memberi pertolongan,” kata pria
Indian setelah menolong ulat keluar dari lingkaran api.
***
Terima kasih Tuhan, atas segala berkat dan anugerah-Mu, atas segala
pengujian dan kekuatan menghadapi pencobaan, atas segala malaikat yang
Engkau berikan, atas segala hal yang membawa pertumbuhan, semakin
kuat, semakin terang.....
sukacita ulang tahun?
Ternyata masih.
Sukacita itu terutama hadir dari sekian banyak kawan yang menyempatkan
diri untuk mengirim selamat ulang tahun.
Ada yang DP dulu sebelum hari H, karena takut lupa, ada yang pas
melewati pukul 24:00 lalu berkirim message, dan terutama di pagi hari
ini tanggal 5 Juli 2010 berjibun sms, coretan di wall facebook, bbm
sampai email. Saya pribadi bersyukur atas perhatian yang sebesar itu,
yang bukan ada karena saya sendiri saja, namun tangan Tuhan ikut
berkarya memberikan malaikat-malaikatnya di sekeliling kehidupan
mereka yang percaya dan bergantung kepada-Nya.
***
Suatu hari seorang pria dari suku Indian yang telah bertobat ditanya
oleh sahabatnya,
“Mengapa kamu selalu membicarakan dan menyebut nama Yesus?” Mendapat
pertanyaan tersebut, pria Indian ini terdiam sebentar. Bukan langsung
menjawab, ia malah mengambil sejumlah ranting dan rumput yang kering
dan dibuatnya menjadi lingkaran. Setelah jadi, ia pun membakarnya.
Namun sebelum itu, ia sudah meletakkan seekor ulat di tengah-tengah
api.
Api semakin besar, tetapi belum ada satu patah kata pun keluar dari
pria Indian tersebut. Justru ia dan sahabatnya menyaksikan bagaimana
ulat yang ditaruh di tengah-tengah api itu menggeliat dan ingin segera
keluar dari sana. Tidak lama kemudian, ia pun lalu mengeluarkan jari
tangannya dan dengan segera si ulat merambat naik dengan selamat.
“Seperti itulah yang dilakukan Tuhan Yesus ketika saya tidak berdaya,
berada di tengah-tengah bahaya, saya berseru mohon pertolongan
pada-Nya. Dia mendengarkan saya dan memberi pertolongan,” kata pria
Indian setelah menolong ulat keluar dari lingkaran api.
***
Terima kasih Tuhan, atas segala berkat dan anugerah-Mu, atas segala
pengujian dan kekuatan menghadapi pencobaan, atas segala malaikat yang
Engkau berikan, atas segala hal yang membawa pertumbuhan, semakin
kuat, semakin terang.....
Thursday, 24 June 2010
Ayo Latihan Menulis
Ayo Latihan Menulis
(Cara Paling Sederhana)
Sudah sangat sering saya mendengar keluhan dari redaksi buletin gereja bahwa sangat sulit mendapatkan seorang penulis untuk mengisi buletin tersebut. Banyak orang kalau ditanya kemudian menjawab: “Saya tidak bisa menulis.” Benarkah tidak bisa menulis? Saya rasa tidak. Belum pernah berlatih, dan belum pernah mencoba. Itu tepatnya. Akan tetapi mind set sudah terlanjur menghakimi bahwa memang saya tidak bisa menulis. Sebetulnya, setiap orang yang bisa membaca, bisa ngobrol dan bercerita, tentu bisa menulis. Yuk kita coba latihan.
Nah, pertama-tama yang harus anda lakukan adalah meyakinkan diri bahwa anda memang bisa menulis. Jangan ragu-ragu. OK? Bagus! Sekarang cobalah mulai menulis. Anda harus mempraktekkan bagaimana menulis. Tanpa praktek memang tulisan tidak akan jadi, dan matang siap disantap oleh pembaca. Tapi menulis apa? Apa saja yang ada di pikiranmu. Tuliskan saja semuanya. Lakukan itu selama kira-kira 10-15 menit. Ini contohnya.
“Orang gila itu nampak lusuh sekali ya. Lihat rambutnya yang kusut. Bukan Cuma kusut tetapi gembel kata orang. Lengket di beberapa bagian dan pasti ga pernah lagi disisir. Entah sudah berapa tahun rambut itu tidak dipotong, dikeramasi dan disisir. Lihat kakinya yang telanjang. Tanpa sandal tanpa sepatu. Tadi pagi saya ketemu dan ga sengaja melihat dia. Orang gila itu tidak memakai baju sama sekali. Celana juga sudah sangat lusuh. Warnanya kehitaman disana-sini seperti bekas buat mengelap angus atau kena oli mesin kendaraan bermotor. Badannya yang tanpa baju juga kelihatan hitam dimana-mana. Daki itu. Bekas-bekas keringat bercampur debu yang tidak pernah dibersihkan. Mandi ga pernah. Paling kalau hujan mungkin dia hujan-hujannya sekedar menyegarkan badan dan membersihkan tubuhnya yang ihhhh….bener-bener kotor dech. Tapi kok sehat aja yach? Heran juga saya. Eh…dia menoleh dan memandang kepadaku. Cilaka! Sepertinya dia sadar sedang diperhatikan. Langkahku berhenti. Aku ragu mau melanjutkan kemana. Aku belok sedikit ke kiri. Orang gila mengikuti? Aduh…bagaimana ini?”
Nah, itu adalah contoh tulisan yang meluncur begitu saja dari otak. Dari pengalaman saya sendiri tadi pagi melihat gelandangan yang nampaknya kurang waras. Gampang kan? Itu sudah jadi bahan utama dan dapat menjadi sebuah tulisan singkat yang menarik. Siapa bilang orang tidak bisa menulis? Nah, sesudah langkah pertama tadi, sekarang masuk ke langkah ke dua. Sama gampangnya dengan langkah pertama tadi, coba anda baca tulisan tumpahan apa yang ada di otak tadi. Resapi pelan-pelan, gali dan temukan sebuah tema atau pesan utama dalam cerita yang tadi ditulis. Sudah ketemu? Bagus!
Misalnya dalam tulisan contoh di atas pesan utama adalah perasaan penulisnya melihat seorang gelandangan yang kurang waras, dan refleksinya atas kejadian itu.
Nah, setelah pesan utama kepada pembaca ditemukan, sekarang mulai proses editing. Coba baca ulang lagi tulisan itu. Buang kata-kata atau kalimat yang tidak produktif. Maksudnya tidak produktif adalah, kata atau kalimat itu kalau dibuang tidak mengurangi maksud, kalau ada disitu juga tidak menambahkan maksud apa-apa. Just there! Nah, yang seperti itu buang saja. Tetapi bilamana perlu tambahkan kata-kata baru atau kalimat-kalimat baru agar tulisan menjadi smooth, dan halus sehingga enak dibaca, mampu menajamkan tema yang dikemukakan. Jadi dah satu tulisan. Gampangkan? Sekarang tulisan contoh itu sesudah dibaca ulang dan diedit misalnya akan menjadi seperti ini.
“Tadi pagi ketika saya berjalan menuju tempat kerja, mata saya tiba-tiba tertumbuk pada sosok gelandangan yang mirip seperti orang yang kurang waras. Orang itu tampak lusuh sekali ya. Lihat rambutnya yang kusut. Bukan cuma kusut tetapi gimbal kata orang. Lengket di beberapa bagian dan pasti tidak pernah lagi disisir. Entah sudah berapa tahun rambut itu tidak dipotong, dikeramasi dan disisir. Orang itu tidak memakai baju sama sekali. Badannya yang tanpa baju juga kelihatan hitam dimana-mana. Daki itu. Bekas-bekas keringat bercampur debu yang tidak pernah dibersihkan. Mandi tidak pernah. Paling kalau hujan mungkin dia hujan-hujanan sekedar menyegarkan badan dan membersihkan tubuhnya yang ihhhh….bener-bener kotor deh. Celananya juga sudah sangat lusuh. Warnanya kehitaman disana-sini seperti bekas dipakai mengelap angus atau kena oli mesin kendaraan bermotor. Lihat kakinya yang telanjang. Tanpa sandal tanpa sepatu. Tapi kok tetap sehat yah? Heran juga saya. Eh…dia menoleh dan memandang kepadaku. Cilaka! Sepertinya dia sadar sedang diperhatikan. Langkahku terhenti. Saya ragu mau melanjutkan kemana. Saya belok sedikit ke kiri. Orang itu mengikuti? Aduh…bagaimana ini? Saya coba mempercepat langkah agar jarak makin menjauh darinya. Berhasil! Dia berhenti. Eh..dia berjongkok dan seperti melamun. Kepalanya perlahan tertunduk. Menangiskah dia? Saya tidak tahu. Perlahan-lahan dia merendahkan badannya. Sekarang dia tengkurap di atas tanah basah seperti orang hendak tidur. Kedua kakinya terangkat sementara kepalanya dia letakkan di atas lengan kanannya.
Tiba-tiba ingatanku berkelebat sampai pada orang gila di Geraza. Dia bertemu Yesus dan akhirnya menjadi sembuh. Waras. Berpakaian rapi. Saya memang bukan Yesus yang mampu melakukan keajaiban. Tidak. Namun hatiku juga tidak beku melihat sosok kotor gelandangan yang mungkin waras, mungkin juga tidak. Sepenggal doa terucap dari mulutku: ya Tuhan, dia juga sesama ciptaan-Mu. Kasihanilah dia…..”
Nah, ternyata tidak sulit bukan membuat tulisan? Selamat mencoba dan jangan lupa kirimkan hasil tulisamu ke redaksi buletin gerejamu ya….
(Cara Paling Sederhana)
Sudah sangat sering saya mendengar keluhan dari redaksi buletin gereja bahwa sangat sulit mendapatkan seorang penulis untuk mengisi buletin tersebut. Banyak orang kalau ditanya kemudian menjawab: “Saya tidak bisa menulis.” Benarkah tidak bisa menulis? Saya rasa tidak. Belum pernah berlatih, dan belum pernah mencoba. Itu tepatnya. Akan tetapi mind set sudah terlanjur menghakimi bahwa memang saya tidak bisa menulis. Sebetulnya, setiap orang yang bisa membaca, bisa ngobrol dan bercerita, tentu bisa menulis. Yuk kita coba latihan.
Nah, pertama-tama yang harus anda lakukan adalah meyakinkan diri bahwa anda memang bisa menulis. Jangan ragu-ragu. OK? Bagus! Sekarang cobalah mulai menulis. Anda harus mempraktekkan bagaimana menulis. Tanpa praktek memang tulisan tidak akan jadi, dan matang siap disantap oleh pembaca. Tapi menulis apa? Apa saja yang ada di pikiranmu. Tuliskan saja semuanya. Lakukan itu selama kira-kira 10-15 menit. Ini contohnya.
“Orang gila itu nampak lusuh sekali ya. Lihat rambutnya yang kusut. Bukan Cuma kusut tetapi gembel kata orang. Lengket di beberapa bagian dan pasti ga pernah lagi disisir. Entah sudah berapa tahun rambut itu tidak dipotong, dikeramasi dan disisir. Lihat kakinya yang telanjang. Tanpa sandal tanpa sepatu. Tadi pagi saya ketemu dan ga sengaja melihat dia. Orang gila itu tidak memakai baju sama sekali. Celana juga sudah sangat lusuh. Warnanya kehitaman disana-sini seperti bekas buat mengelap angus atau kena oli mesin kendaraan bermotor. Badannya yang tanpa baju juga kelihatan hitam dimana-mana. Daki itu. Bekas-bekas keringat bercampur debu yang tidak pernah dibersihkan. Mandi ga pernah. Paling kalau hujan mungkin dia hujan-hujannya sekedar menyegarkan badan dan membersihkan tubuhnya yang ihhhh….bener-bener kotor dech. Tapi kok sehat aja yach? Heran juga saya. Eh…dia menoleh dan memandang kepadaku. Cilaka! Sepertinya dia sadar sedang diperhatikan. Langkahku berhenti. Aku ragu mau melanjutkan kemana. Aku belok sedikit ke kiri. Orang gila mengikuti? Aduh…bagaimana ini?”
Nah, itu adalah contoh tulisan yang meluncur begitu saja dari otak. Dari pengalaman saya sendiri tadi pagi melihat gelandangan yang nampaknya kurang waras. Gampang kan? Itu sudah jadi bahan utama dan dapat menjadi sebuah tulisan singkat yang menarik. Siapa bilang orang tidak bisa menulis? Nah, sesudah langkah pertama tadi, sekarang masuk ke langkah ke dua. Sama gampangnya dengan langkah pertama tadi, coba anda baca tulisan tumpahan apa yang ada di otak tadi. Resapi pelan-pelan, gali dan temukan sebuah tema atau pesan utama dalam cerita yang tadi ditulis. Sudah ketemu? Bagus!
Misalnya dalam tulisan contoh di atas pesan utama adalah perasaan penulisnya melihat seorang gelandangan yang kurang waras, dan refleksinya atas kejadian itu.
Nah, setelah pesan utama kepada pembaca ditemukan, sekarang mulai proses editing. Coba baca ulang lagi tulisan itu. Buang kata-kata atau kalimat yang tidak produktif. Maksudnya tidak produktif adalah, kata atau kalimat itu kalau dibuang tidak mengurangi maksud, kalau ada disitu juga tidak menambahkan maksud apa-apa. Just there! Nah, yang seperti itu buang saja. Tetapi bilamana perlu tambahkan kata-kata baru atau kalimat-kalimat baru agar tulisan menjadi smooth, dan halus sehingga enak dibaca, mampu menajamkan tema yang dikemukakan. Jadi dah satu tulisan. Gampangkan? Sekarang tulisan contoh itu sesudah dibaca ulang dan diedit misalnya akan menjadi seperti ini.
“Tadi pagi ketika saya berjalan menuju tempat kerja, mata saya tiba-tiba tertumbuk pada sosok gelandangan yang mirip seperti orang yang kurang waras. Orang itu tampak lusuh sekali ya. Lihat rambutnya yang kusut. Bukan cuma kusut tetapi gimbal kata orang. Lengket di beberapa bagian dan pasti tidak pernah lagi disisir. Entah sudah berapa tahun rambut itu tidak dipotong, dikeramasi dan disisir. Orang itu tidak memakai baju sama sekali. Badannya yang tanpa baju juga kelihatan hitam dimana-mana. Daki itu. Bekas-bekas keringat bercampur debu yang tidak pernah dibersihkan. Mandi tidak pernah. Paling kalau hujan mungkin dia hujan-hujanan sekedar menyegarkan badan dan membersihkan tubuhnya yang ihhhh….bener-bener kotor deh. Celananya juga sudah sangat lusuh. Warnanya kehitaman disana-sini seperti bekas dipakai mengelap angus atau kena oli mesin kendaraan bermotor. Lihat kakinya yang telanjang. Tanpa sandal tanpa sepatu. Tapi kok tetap sehat yah? Heran juga saya. Eh…dia menoleh dan memandang kepadaku. Cilaka! Sepertinya dia sadar sedang diperhatikan. Langkahku terhenti. Saya ragu mau melanjutkan kemana. Saya belok sedikit ke kiri. Orang itu mengikuti? Aduh…bagaimana ini? Saya coba mempercepat langkah agar jarak makin menjauh darinya. Berhasil! Dia berhenti. Eh..dia berjongkok dan seperti melamun. Kepalanya perlahan tertunduk. Menangiskah dia? Saya tidak tahu. Perlahan-lahan dia merendahkan badannya. Sekarang dia tengkurap di atas tanah basah seperti orang hendak tidur. Kedua kakinya terangkat sementara kepalanya dia letakkan di atas lengan kanannya.
Tiba-tiba ingatanku berkelebat sampai pada orang gila di Geraza. Dia bertemu Yesus dan akhirnya menjadi sembuh. Waras. Berpakaian rapi. Saya memang bukan Yesus yang mampu melakukan keajaiban. Tidak. Namun hatiku juga tidak beku melihat sosok kotor gelandangan yang mungkin waras, mungkin juga tidak. Sepenggal doa terucap dari mulutku: ya Tuhan, dia juga sesama ciptaan-Mu. Kasihanilah dia…..”
Nah, ternyata tidak sulit bukan membuat tulisan? Selamat mencoba dan jangan lupa kirimkan hasil tulisamu ke redaksi buletin gerejamu ya….
Thursday, 3 June 2010
Siapakah Sesamaku?
Kemarin di milis GKI yang saya ikuti ada diskusi menarik tentang siapakah
sesamaku manusia.
Bermula dari poster foto di harian Kompas tentang HUMANITY, lalu
bergulir ke urusan siapakah sesamaku dengan menyimak ilustrasi Tuhan
Yesus tentang orang Samaria yang baik hati.
Sayapun kemudian bertanya dalam hati: apakah ilustrasi Yesus tersebut
ingin menjawab pertanyaan orang Farisi tentang siapa sesamanya
manusia?
Saya coba telisik dan telusuri kembali kisah tersebut dalam Lukas 10.
Dari mulai awal cerita hingga akhir cerita. Apa yang Yesus katakan di
akhir perikop adalah "pergilah dan perbuatlah demikian juga." Jadi
kesimpulan saya Yesus tidak ingin menjawab dengan tegas mengenai siapa
sesama manusia. Lalu dari mana muncul kesan bahwa sesama manusia
adalah mereka yang mau berkorban dan membantu orang lain yang
kesusahan? Itu adalah kesimpulan dari orang Farisi itu sendiri, ketika
menjawab pertanyaan Yesus: "Menurutmu, diantara ketiganya siapakah
sesama manusia bagi orang yang kemalangan tersebut?"
Lalu apa yang dapat dipelajari dari kisah ini sebetulnya? Ada banyak
hal. Misalnya: kasih itu bergerak (do something) dan bukan hanya
bersimpati atas kemalangan orang lain. Kasih itu mau berkorban,
walaupun tahu ada bahaya. Kasih itu menempatkan orang yang malang
sebagai subyek dan bukan obyek. Kasih mendahulukan kepentingan orang
yang malang. Dan banyak lagi. Kasih mengatasi kotak-kotak agama, suku,
ras dan golongan.
Ketika kasih Allah meluap di dalam hati kita, maka kemudian kita
dimampukan untuk berbuat sesuatu sebagai wujud kasih tersebut.
Jadi, siapakah sesamaku manusia? Jawabannya ada di balik tindakan
kasih kita sebagai wujud keimanan atas pemeliharaan dan damai
sejahtera Allah yang melingkupi seluruh umat manusia. Bagaimanapun
pada akhirnya kita akan dihakimi bukan berdasarkan iman yang kita
ikrarkan setiap kali, tetapi dari tindakan iman berdasarkan kasih
Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus sendiri.
Dalam terang pengertian seperti itu masih perlukah kita bertanya:
Siapakah sesamaku manusia?
sesamaku manusia.
Bermula dari poster foto di harian Kompas tentang HUMANITY, lalu
bergulir ke urusan siapakah sesamaku dengan menyimak ilustrasi Tuhan
Yesus tentang orang Samaria yang baik hati.
Sayapun kemudian bertanya dalam hati: apakah ilustrasi Yesus tersebut
ingin menjawab pertanyaan orang Farisi tentang siapa sesamanya
manusia?
Saya coba telisik dan telusuri kembali kisah tersebut dalam Lukas 10.
Dari mulai awal cerita hingga akhir cerita. Apa yang Yesus katakan di
akhir perikop adalah "pergilah dan perbuatlah demikian juga." Jadi
kesimpulan saya Yesus tidak ingin menjawab dengan tegas mengenai siapa
sesama manusia. Lalu dari mana muncul kesan bahwa sesama manusia
adalah mereka yang mau berkorban dan membantu orang lain yang
kesusahan? Itu adalah kesimpulan dari orang Farisi itu sendiri, ketika
menjawab pertanyaan Yesus: "Menurutmu, diantara ketiganya siapakah
sesama manusia bagi orang yang kemalangan tersebut?"
Lalu apa yang dapat dipelajari dari kisah ini sebetulnya? Ada banyak
hal. Misalnya: kasih itu bergerak (do something) dan bukan hanya
bersimpati atas kemalangan orang lain. Kasih itu mau berkorban,
walaupun tahu ada bahaya. Kasih itu menempatkan orang yang malang
sebagai subyek dan bukan obyek. Kasih mendahulukan kepentingan orang
yang malang. Dan banyak lagi. Kasih mengatasi kotak-kotak agama, suku,
ras dan golongan.
Ketika kasih Allah meluap di dalam hati kita, maka kemudian kita
dimampukan untuk berbuat sesuatu sebagai wujud kasih tersebut.
Jadi, siapakah sesamaku manusia? Jawabannya ada di balik tindakan
kasih kita sebagai wujud keimanan atas pemeliharaan dan damai
sejahtera Allah yang melingkupi seluruh umat manusia. Bagaimanapun
pada akhirnya kita akan dihakimi bukan berdasarkan iman yang kita
ikrarkan setiap kali, tetapi dari tindakan iman berdasarkan kasih
Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus sendiri.
Dalam terang pengertian seperti itu masih perlukah kita bertanya:
Siapakah sesamaku manusia?
Wednesday, 26 May 2010
Menyiasati Godaan
Sebelum saya mulai diskusikan persoalan godaan, dan godaan macam apa yang hendak saya uraikan disini, baiklah saya ajukan satu pertanyaan dulu. Apakah para pembaca semua punya tujuan hidup? Apakah tujuan anda menjadi ayah, menjadi ibu? Apakah tujuan anda menjadi seorang pegawai? Apakah tujuan anda menjadi seorang guru, guru agama, pendeta? Kalau belum ada coba ambil selembar kertas dan satu alat tulis. Coba tuliskan tujuan hidup anda, mulai dari yang paling luas – mengapa anda perlu hidup sampai yang cukup detil seperti untuk apa jadi orang tua, pegawai negeri, dan sebagainya. Sudah? Ok. Sekarang coba jawab pertanyaan ini. Menurut anda, orang paling sering distracted dari tujuan hidupnya karena sesuatu yang tidak enak, yang mengganggu, yang tidak asyik, atau justru oleh sesuatu yang nikmat, yang asyik, yang membawa kesenangan? Saya lebih cenderung mengatakan bahwa orang lebih sering melenceng dari tujuan hidupnya karena sesuatu yang indah, yang menurutnya enak dan nikmat.
Salomo adalah seorang raja yang luar biasa kaya. Namun dalam catatannya dia mengatakan bahwa segala sesuatu adalah kesia-siaan. Dia sudah mencicipi apapun yang diinginkan manusia saat itu dan saat ini. Tidak ada lagi yang dia perlukan untuk memuaskan dirinya. Namun demikian dia tetap mengatakan segala sesuatu adalah sia-sia dan usaha menjaring angin di bawah matahari. Salomo pun hampir jatuh pada kesalahan yang biasa dialami manusia. Terlalu menikmati kesenangan dunia, namun ujungnya adalah sia-sia. Nah, sekarang mari kita pelajari beberapa hal, untuk mencegah kita nyeleweng dari tujuan hidup kita sendiri.
Kitab Hakim-hakim pasal 7 mencatat ketika Gideon akan menyerang orang Midian, Allah melarang membawa pasukan yang begitu banyak. Maka kemudian Gideon mulai melakukan seleksi. Seleksi pertama adalah siapa yang merasa takut dan gentar diminta mengundurkan diri. Wuaaah…tidak tanggung-tanggung. Dua puluh ribu orang langsung mengundurkan diri. Sisanya tinggal sepuluh ribu orang. Tapi itupun masih terlalu banyak. Bagaimana seleksi yang kedua dilaksanakan? Ternyata Tuhan memberi petunjuk untuk menyuruh orang-orang itu minum. Maka akan terlihat orang-orang yang dipilih oleh Allah adalah orang yang meminum air sungai dengan cara mengambil air menggunakan tangan, sementara yang ditolak untuk maju bertempur adalah mereka yang gaya minumnya seperti anjing atau kucing. Mendekatkan mulutnya ke aliran air sungai. Pertanyaannya adalah: kenapa cara yang pertama diterima dan cara yang kedua ditolak? Menurut saya ini menunjukkan prinsip berjaga-jaga. Orang yang mengambil air dengan tangan tetap berjaga ketika dia mereguk kesegaran air sungai itu. Sementara mereka yang minum seperti binatang sama sekali tidak berjaga. Mereka hanya melihat nikmatnya air dan melupakan tujuan mereka hadir disitu adalah untuk berperang. Inilah prinsip pertama untuk mencegah kita keluar dari tujuan hidup kita. Segala sesuatu yang nampaknya baik dan menyegarkan jiwa namun mengalihkan perhatian kita dari tujuan hidup kita, janganlah kita ambil atau lakukan. Itulah prinsip pertama. Contoh paling sederhana adalah makanan dan minuman. Bila tujuan kita hidup adalah berbahagia dan berumur panjang di dunia ini menemani anak cucu, maka makanan yang nampaknya nikmat dan menyegarkan jiwa namun akan memperpendek umur kita selayaknya tidak kita makan. Orang yang cenderung berpenyakit gula, tidak perlu menyegarkan diri dengan es teler, misalnya.
Prinsip yang kedua dapat kita pelajari melalui apa yang dilakukan oleh Daud. Dua Samuel 23 mencatat tentang pahlwan-pahlawan Daud. Saat itu, Daud dan pasukannya ada di luar kota Bethlehem sementara di dalam kota dikuasai oleh pasukan Filistin. Daud tiba-tiba mempunyai kerinduan dan keinginan sangat untuk minum dari sumur yang ada di pintu gerbang Bethlehem. Mendengar keinginan itu, 3 orang pahlawan Daud pada malam hari pergi menyusup ke perkemahan musuh, mengambil air dari sumur itu, dan kembali kepada Daud sambil menyerahkan air yang sangat diinginkan olehnya. Apakah Daud meminumnya? Tidak! Dia bahkan berkata,”Jauhlah dari padaku, ya Tuhan, untuk berbuat demikian! Bukankah ini darah orang-orang yang telah pergi dengan mempertaruhkan nyawanya?” Inilah prinsip yang kedua. Segala sesuatu yang nampaknya baik dan menyegarkan jiwa, namun melanggar hak dan membahayakan orang lain, janganlah kita lakukan. Ketika saya menjadi seorang guru, saya pernah kelaparan karena bangun kesiangan. Dalam perjalanan menuju sekolah tempat saya mengajar, ada banyak warung tempat makan. Kalau saya mampir, saya mengorbankan jam pelajaran murid-murid saya. Maka saya tidak mampir makan. Cukup diganjal dengan roti dan minum air yang banyak. Saya tidak mau mengorbankan hak anak-anak untuk mendapat pelajaran 45 menit penuh demi perut saya sendiri.
Nah, sekarang prinsip yang ketiga atau yang terakhir. Prinsip ini sederhana sekali. Salomo dengan amsalnya menasehatkan demikian,”kalau engkau mendapat madu, makanlah secukupnya, jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya.” (amsal 25:16). Cukup jelas bukan? Kalau ada hal-hal yang menyegarkan, tidak memelencengkan kita dari tujuan hidup, tidak melanggar hak maupun membahayakan orang lain…ambil itu secukupnya saja. Tidak usah rakus. Demikianlah ketiga prinsip untuk mengakali atau menyiasati godaan yang datang dalam hidup. Semoga dengan rahmat dan karunia Tuhan, dan kekuatan dari Roh Kudus kita mampu melakukan yang terbaik demi tujuan hidup kita masing-masing.
Salomo adalah seorang raja yang luar biasa kaya. Namun dalam catatannya dia mengatakan bahwa segala sesuatu adalah kesia-siaan. Dia sudah mencicipi apapun yang diinginkan manusia saat itu dan saat ini. Tidak ada lagi yang dia perlukan untuk memuaskan dirinya. Namun demikian dia tetap mengatakan segala sesuatu adalah sia-sia dan usaha menjaring angin di bawah matahari. Salomo pun hampir jatuh pada kesalahan yang biasa dialami manusia. Terlalu menikmati kesenangan dunia, namun ujungnya adalah sia-sia. Nah, sekarang mari kita pelajari beberapa hal, untuk mencegah kita nyeleweng dari tujuan hidup kita sendiri.
Kitab Hakim-hakim pasal 7 mencatat ketika Gideon akan menyerang orang Midian, Allah melarang membawa pasukan yang begitu banyak. Maka kemudian Gideon mulai melakukan seleksi. Seleksi pertama adalah siapa yang merasa takut dan gentar diminta mengundurkan diri. Wuaaah…tidak tanggung-tanggung. Dua puluh ribu orang langsung mengundurkan diri. Sisanya tinggal sepuluh ribu orang. Tapi itupun masih terlalu banyak. Bagaimana seleksi yang kedua dilaksanakan? Ternyata Tuhan memberi petunjuk untuk menyuruh orang-orang itu minum. Maka akan terlihat orang-orang yang dipilih oleh Allah adalah orang yang meminum air sungai dengan cara mengambil air menggunakan tangan, sementara yang ditolak untuk maju bertempur adalah mereka yang gaya minumnya seperti anjing atau kucing. Mendekatkan mulutnya ke aliran air sungai. Pertanyaannya adalah: kenapa cara yang pertama diterima dan cara yang kedua ditolak? Menurut saya ini menunjukkan prinsip berjaga-jaga. Orang yang mengambil air dengan tangan tetap berjaga ketika dia mereguk kesegaran air sungai itu. Sementara mereka yang minum seperti binatang sama sekali tidak berjaga. Mereka hanya melihat nikmatnya air dan melupakan tujuan mereka hadir disitu adalah untuk berperang. Inilah prinsip pertama untuk mencegah kita keluar dari tujuan hidup kita. Segala sesuatu yang nampaknya baik dan menyegarkan jiwa namun mengalihkan perhatian kita dari tujuan hidup kita, janganlah kita ambil atau lakukan. Itulah prinsip pertama. Contoh paling sederhana adalah makanan dan minuman. Bila tujuan kita hidup adalah berbahagia dan berumur panjang di dunia ini menemani anak cucu, maka makanan yang nampaknya nikmat dan menyegarkan jiwa namun akan memperpendek umur kita selayaknya tidak kita makan. Orang yang cenderung berpenyakit gula, tidak perlu menyegarkan diri dengan es teler, misalnya.
Prinsip yang kedua dapat kita pelajari melalui apa yang dilakukan oleh Daud. Dua Samuel 23 mencatat tentang pahlwan-pahlawan Daud. Saat itu, Daud dan pasukannya ada di luar kota Bethlehem sementara di dalam kota dikuasai oleh pasukan Filistin. Daud tiba-tiba mempunyai kerinduan dan keinginan sangat untuk minum dari sumur yang ada di pintu gerbang Bethlehem. Mendengar keinginan itu, 3 orang pahlawan Daud pada malam hari pergi menyusup ke perkemahan musuh, mengambil air dari sumur itu, dan kembali kepada Daud sambil menyerahkan air yang sangat diinginkan olehnya. Apakah Daud meminumnya? Tidak! Dia bahkan berkata,”Jauhlah dari padaku, ya Tuhan, untuk berbuat demikian! Bukankah ini darah orang-orang yang telah pergi dengan mempertaruhkan nyawanya?” Inilah prinsip yang kedua. Segala sesuatu yang nampaknya baik dan menyegarkan jiwa, namun melanggar hak dan membahayakan orang lain, janganlah kita lakukan. Ketika saya menjadi seorang guru, saya pernah kelaparan karena bangun kesiangan. Dalam perjalanan menuju sekolah tempat saya mengajar, ada banyak warung tempat makan. Kalau saya mampir, saya mengorbankan jam pelajaran murid-murid saya. Maka saya tidak mampir makan. Cukup diganjal dengan roti dan minum air yang banyak. Saya tidak mau mengorbankan hak anak-anak untuk mendapat pelajaran 45 menit penuh demi perut saya sendiri.
Nah, sekarang prinsip yang ketiga atau yang terakhir. Prinsip ini sederhana sekali. Salomo dengan amsalnya menasehatkan demikian,”kalau engkau mendapat madu, makanlah secukupnya, jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya.” (amsal 25:16). Cukup jelas bukan? Kalau ada hal-hal yang menyegarkan, tidak memelencengkan kita dari tujuan hidup, tidak melanggar hak maupun membahayakan orang lain…ambil itu secukupnya saja. Tidak usah rakus. Demikianlah ketiga prinsip untuk mengakali atau menyiasati godaan yang datang dalam hidup. Semoga dengan rahmat dan karunia Tuhan, dan kekuatan dari Roh Kudus kita mampu melakukan yang terbaik demi tujuan hidup kita masing-masing.
Perjanjian Allah dengan Manusia
Bentuk hubungan yang dipilih Allah dalam Alkitab adalah hubungan perjanjian.
Pengantar
Ketika masa krisis tahun 1998 berlangsung, seorang teman saya pernah tidak mampu lagi membayar hutang-hutang dagangnya. Ketika itu kurs Rupiah terhadap Dollar melonjak tajam, dari Rp 2.500/US$ menjadi Rp 15.000/US$. Dengan inisitatifnya sendiri, teman saya ini kemudian mendatangi partner dagangnya dan menceritakan semua permasalahan yang ada. Akhirnya dibuatlah sebuah perjanjian baru, tempo pembayaran dan kurs yang dipakai. Alhasil, hingga sekarang teman saya tersebut masih dipercaya oleh partner dagangnya. Mirip seperti kejadian itu, namun dengan inisiatif yang berbeda, Allah mengikatkan diri-Nya sendiri melalui perjanjian-perjanjian yang dibuat-Nya sendiri untuk kepentingan dan keselamatan manusia.
Perjanjian Allah dengan Adam dan Hawa
Kejadian 3:15 mencatat perjanjian pertama yang dibuat Allah. Bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular (iblis), walaupun keturunan ular juga tetap akan memberontak dan mampu meremukkan tumit keturunan Hawa. Perjanjian ini langsung dibuat setelah manusia kedapatan jatuh dalam dosa. Kita tahu bahwa keturunan Hawa yang dimaksud adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri.
Perjanjian Allah dengan Nuh
Kejadian 6:18 mencatat demikian “Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu.” Inilah perjanjian yang pertama kali dibuat dengan Nuh. Mengapa Nuh terpilih untuk diselamatkan? Karena Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh hidup bergaul dengan Allah (Kej. 6:9). Ketika manusia semakin merosot moral dan akhlaknya, Allah berfirman bahwa Dia akan memusnahkan seluruh umat manusia. Namun menyisakan Nuh dan keluarganya karena mereka hidup berkenan di hadapan Allah.
Sesudah air bah melanda muka bumi dan memusnahkan seluruh umat manusia, Allah kembali mengadakan perjanjian bahwa Dia tidak akan mengulangi hal yang sama: tidak ada lagi air bah untuk melenyapkan seluruh umat manusia dan binatang. Sebagai tanda perjanjian ini Allah meletakkan busur-Nya di langit berupa pelangi. Busur ini dalam bahasa Ibrani disebut qeset yang memiliki arti senjata. Jadi busur atau pelangi yang nampak sesudah hujan adalah melambangkan senjata Allah yang melindungi bumi dan segala isinya.
Perjanjian Allah dengan Abraham
Perjanjian Allah dengan Abraham ini terjadi dua kali. Alkitab mencatat perjanjian pertama pada Kejadian 15:1-21 dan perjanjian kedua pada Kejadian 17:1-27. Dalam Kejadian 15 dicatat bahwa Allah menjanjikan keturunan yang sangat besar bagi Abraham, walaupun pada saat itu Abraham sudah tua dan isterinya sudah mati haid. Perjanjian itu disahkan dengan dibakarnya persembahan Abraham oleh api Allah pada malam hari. Ketika itu nama Abraham masih Abram.
Pada bagian kedua perjanjian Allah dengan Abraham dinyatakan dengan tegas bagian Allah dan bagian manusia (Abraham). Tanda dari perjanjian ini adalah sunat. Setiap laki-laki keturunan Abraham harus disunat. Sunat bukan hanya tanda sumpah dan pengakuan terhadap ke-Tuhanan Allah tetapi juga merupakan tanda pengudusan atau meterai kebenaran berdasarkan iman (bdk. Roma 4:11).
Perjanjian Allah dengan Israel
Ketika umat Israel hidup dalam penindasan bangsa Mesir selama lebih dari 400 tahun, kembali Allah berinisiatif untuk menyelamatkan mereka. Melalui Musa Allah bertindak membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dengan berbagai cara (tulah). Peristiwa keluaran ini menjadi tonggak dan inti iman umat Israel, menjadi pujian-pujian syukur bagi bangsa Israel (Kel.15).
Dalam perjalanannya menuju tanah perjanjian, Allah memberikan 10 hukum-Nya untuk ditaati dan dikerjakan oleh umat Israel. Ini sebuah perjanjian bersyarat bahwa Allah tetap menjadi pelindung umat Israel secara keseluruhan namun umat sendiri harus melaksanakan hukum-hukum yang sudah diberikan-Nya.
Perjanjian Baru
Walaupun melalui berbagai perjanjian umat Israel banyak melakukan pelanggaran, namun Allah tetap bersabar. Melalui nabi Yeremia Allah kemudian memberikan satu perjanjian baru yang sungguh luar biasa! (Yer.31:31-34). Perjanjian baru ini merupakan janji tanpa syarat dari Allah kepada umat Israel yang tidak setia untuk mengampuni dosa-dosa mereka dan membuat hubungan yang baru dengan mereka atas dasar hukum-hukum-Nya yang ditulis dalam hati mereka sendiri. Sebuah perjanjian atas dasar rahmat semata. Perjanjian baru ini berpuncak pada diri Tuhan Yesus Kristus yang menyelamatkan bukan hanya bangsa Israel tetapi seluruh umat manusia. Tanda perjanjian baru ini adalah Baptisan Kudus.
Makna Hidup dalam Perjanjian Allah
Seluruh perjanjian yang dibuat Allah adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa dan hidup dalam persekutuan yang indah dengan Allah. Oleh karena itu hidup dalam perjanjian dengan Allah selalu berkaitan dengan “spiritualitas kehidupan.” Bagaimana kita menjalani kehidupan sebagai manusia yang sekaligus adalah umat Allah yang sudah ditebus, dimerdekakan.
Pengantar
Ketika masa krisis tahun 1998 berlangsung, seorang teman saya pernah tidak mampu lagi membayar hutang-hutang dagangnya. Ketika itu kurs Rupiah terhadap Dollar melonjak tajam, dari Rp 2.500/US$ menjadi Rp 15.000/US$. Dengan inisitatifnya sendiri, teman saya ini kemudian mendatangi partner dagangnya dan menceritakan semua permasalahan yang ada. Akhirnya dibuatlah sebuah perjanjian baru, tempo pembayaran dan kurs yang dipakai. Alhasil, hingga sekarang teman saya tersebut masih dipercaya oleh partner dagangnya. Mirip seperti kejadian itu, namun dengan inisiatif yang berbeda, Allah mengikatkan diri-Nya sendiri melalui perjanjian-perjanjian yang dibuat-Nya sendiri untuk kepentingan dan keselamatan manusia.
Perjanjian Allah dengan Adam dan Hawa
Kejadian 3:15 mencatat perjanjian pertama yang dibuat Allah. Bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular (iblis), walaupun keturunan ular juga tetap akan memberontak dan mampu meremukkan tumit keturunan Hawa. Perjanjian ini langsung dibuat setelah manusia kedapatan jatuh dalam dosa. Kita tahu bahwa keturunan Hawa yang dimaksud adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri.
Perjanjian Allah dengan Nuh
Kejadian 6:18 mencatat demikian “Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu.” Inilah perjanjian yang pertama kali dibuat dengan Nuh. Mengapa Nuh terpilih untuk diselamatkan? Karena Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh hidup bergaul dengan Allah (Kej. 6:9). Ketika manusia semakin merosot moral dan akhlaknya, Allah berfirman bahwa Dia akan memusnahkan seluruh umat manusia. Namun menyisakan Nuh dan keluarganya karena mereka hidup berkenan di hadapan Allah.
Sesudah air bah melanda muka bumi dan memusnahkan seluruh umat manusia, Allah kembali mengadakan perjanjian bahwa Dia tidak akan mengulangi hal yang sama: tidak ada lagi air bah untuk melenyapkan seluruh umat manusia dan binatang. Sebagai tanda perjanjian ini Allah meletakkan busur-Nya di langit berupa pelangi. Busur ini dalam bahasa Ibrani disebut qeset yang memiliki arti senjata. Jadi busur atau pelangi yang nampak sesudah hujan adalah melambangkan senjata Allah yang melindungi bumi dan segala isinya.
Perjanjian Allah dengan Abraham
Perjanjian Allah dengan Abraham ini terjadi dua kali. Alkitab mencatat perjanjian pertama pada Kejadian 15:1-21 dan perjanjian kedua pada Kejadian 17:1-27. Dalam Kejadian 15 dicatat bahwa Allah menjanjikan keturunan yang sangat besar bagi Abraham, walaupun pada saat itu Abraham sudah tua dan isterinya sudah mati haid. Perjanjian itu disahkan dengan dibakarnya persembahan Abraham oleh api Allah pada malam hari. Ketika itu nama Abraham masih Abram.
Pada bagian kedua perjanjian Allah dengan Abraham dinyatakan dengan tegas bagian Allah dan bagian manusia (Abraham). Tanda dari perjanjian ini adalah sunat. Setiap laki-laki keturunan Abraham harus disunat. Sunat bukan hanya tanda sumpah dan pengakuan terhadap ke-Tuhanan Allah tetapi juga merupakan tanda pengudusan atau meterai kebenaran berdasarkan iman (bdk. Roma 4:11).
Perjanjian Allah dengan Israel
Ketika umat Israel hidup dalam penindasan bangsa Mesir selama lebih dari 400 tahun, kembali Allah berinisiatif untuk menyelamatkan mereka. Melalui Musa Allah bertindak membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dengan berbagai cara (tulah). Peristiwa keluaran ini menjadi tonggak dan inti iman umat Israel, menjadi pujian-pujian syukur bagi bangsa Israel (Kel.15).
Dalam perjalanannya menuju tanah perjanjian, Allah memberikan 10 hukum-Nya untuk ditaati dan dikerjakan oleh umat Israel. Ini sebuah perjanjian bersyarat bahwa Allah tetap menjadi pelindung umat Israel secara keseluruhan namun umat sendiri harus melaksanakan hukum-hukum yang sudah diberikan-Nya.
Perjanjian Baru
Walaupun melalui berbagai perjanjian umat Israel banyak melakukan pelanggaran, namun Allah tetap bersabar. Melalui nabi Yeremia Allah kemudian memberikan satu perjanjian baru yang sungguh luar biasa! (Yer.31:31-34). Perjanjian baru ini merupakan janji tanpa syarat dari Allah kepada umat Israel yang tidak setia untuk mengampuni dosa-dosa mereka dan membuat hubungan yang baru dengan mereka atas dasar hukum-hukum-Nya yang ditulis dalam hati mereka sendiri. Sebuah perjanjian atas dasar rahmat semata. Perjanjian baru ini berpuncak pada diri Tuhan Yesus Kristus yang menyelamatkan bukan hanya bangsa Israel tetapi seluruh umat manusia. Tanda perjanjian baru ini adalah Baptisan Kudus.
Makna Hidup dalam Perjanjian Allah
Seluruh perjanjian yang dibuat Allah adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa dan hidup dalam persekutuan yang indah dengan Allah. Oleh karena itu hidup dalam perjanjian dengan Allah selalu berkaitan dengan “spiritualitas kehidupan.” Bagaimana kita menjalani kehidupan sebagai manusia yang sekaligus adalah umat Allah yang sudah ditebus, dimerdekakan.
Subscribe to:
Posts (Atom)