Akhir-akhir ini saya suka merasa jengkel dan sebel ketika bertanya kepada seorang staff di kantor apakah dia sudah selesai mengerjakan tugas yang diberikan dan mendapat jawaban “belum.” Entah kenapa kejengkelan itu tiba-tiba muncul. Mungkin karena saya sendiri merasa bahwa waktu yang diberikan sudah cukup untuk mengerjakan pekerjaan itu. Biasanya saya akan mengejar lagi dengan pertanyaan “kenapa belum?” Jawaban atas pertanyaan itu kadang membuat saya puas, lega dan hilang kejengkelannya, kadang malah membuat semakin jengkel. Bayangkan bila jawaban atas pertanyaan kenapa tersebut adalah “saya tidak tahu cara mengerjakannya pak” (lha, kenapa tidak bertanya?) atau “kan saya sibuk dengan pekerjaan lain, pak” (lha, kenapa diam saja tidak memberi tahu kalau tidak bisa selesai?). Begitulah. Padahal kalau saya mengingat kembali kejadian bertahun-tahun lalu, saya pun cukup sering tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Saya tidak ingat lagi apa jawaban saya waktu itu, dan saya tidak dapat menduga juga apakah atasan saya waktu itu juga sejengkel saya sekarang ini atau tidak.
Sebaliknya, akan sangat melegakan dan menyenangkan ketika seorang staf ditanya apakah laporannya sudah selesai, dengan sigap menjawab “sudah, pak. Ini laporannya!” atau kalaupun belum selesai dia dapat memperkirakan kapan dapat selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama misalnya “belum, pak. Saya akan serahkan setengah jam lagi.” Apalagi kalau belum sampai ditanya staf tersebut sudah datang dan menyerahkan laporannya “Ini laporan yang bapak minta kemarin.”
Masing-masing dari kita memang harus menyelesaikan pekerjaan kita di dunia ini. Baik itu yang bersifat sekuler, maupun rohani. Perjalanan hidup kita tidak lama. Jangan sampai ketika sang Tuan bertanya, kita belum siap, belum selesai. Akan jauh lebih melegakan ketika kita pada waktunya dapat berujar seperti Yesus di atas kayu salib “Sudah selesai.”